PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
KEBAHAGIAAN SAMUEL, STEVEN DAN FLAMINI


__ADS_3

Calista tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Terlihat dari raut wajahnya yang tak henti tersenyum.


Untuk yang pertama kalinya Calista bisa memeluk dan mencium Gilbert sepuasnya. Setelah dua minggu berada di dalam tabung inkubator dan mendapatkan perawatan intensif.


Sejak tadi malam Gilbert sudah di pindahkan keruangan rawat inap. Satu ruangan dengan Calista dan Samuel yang setia menjaga keduanya.


Calista sudah bisa memberikan ASI-nya pada Gilbert, dokter dan perawat membimbing Calista agar ASI yang dihasilkan berkualitas dan bisa di berikan secara langsung pada bayi nya.


"Boy...kau sangat lahap sekali. Kau mengambil paksa milik daddy", ucap Samuel ketika melihat Gilbert menghisap kuat dada Calista.


Calista tersenyum mendengar gurauan suaminya, ia membelai wajah tampan Samuel. "Aku akan adil pada kalian berdua, sayang. Kau tetap mendapatkan jatah mu", balas Calista tersenyum.


Samuel mengecup lembut wajah istrinya. "Hal yang paling aku syukuri saat ini, melihat keluarga ku utuh seperti sekarang. Aku bisa memeluk kalian berdua", ucap Samuel sambil membelai wajah Gilbert yang ada dalam dekapan hangat Calista.


Calista menolehkan wajahnya menatap lembut Samuel yang duduk di sampingnya sambil merapatkan tubuhnya pada punggung Calista.


"Aku mencintaimu sayang", ucap Calista mengusap rahang Samuel yang sudah di tumbuhi rambut halus tersebut.


"Aku juga sangat mencintai sayang", jawab Samuel me*umat bibir ranum istrinya.


*


Steven tersenyum melihat istrinya masih terlelap dalam tidurnya. Pemandangan langkah bagi laki-laki itu, melihat Katty masih pulas meskipun jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan.


Steven mendekati Katty, membelai wajahnya. Namun Steven di buat kaget ketika merasakan suhu tubuh istrinya cukup panas.

__ADS_1


"Sayang..."


Steven mengusap kening istrinya. Katty menggerakkan tubuhnya, matanya terbuka dan terlihat sedikit memerah.


"Sayang kau demam. Aku akan memeriksa mu". Steven membetulkan posisi kepala istrinya. Ia membuka kancing gaun tidur Katty, menempelkan Stetoskop ke dada istrinya.


Steven memeriksa Katty dengan fokus bahkan berulang kali ia memeriksa istrinya.


Senyum bahagia tersungging di bibir Steven. Ia mengusap wajahnya.


"Sayang ada apa? aku sakit apa?", tanya Katty dengan suara terdengar lemah.


Steven mengusap lembut wajah istrinya. "Kau tidak sakit apapun. Tapi kau sedang hamil. Di perut mu sekarang sedang tumbuh anak kita, Katty", jawab Steven mengusap lembut perut istrinya.


"Hah?"


"Iya kau hamil. Aku akan membawa mu ke dokter kandungan untuk memastikannya", ucap Steven. "Sekarang kau minum vitamin ini. Setelah tubuh mu baikan kita ke rumah sakit".


"Iya sayang. Ah...kabar terbaik yang selalu ingin aku dengar setiap hari. Akhirnya aku hamil juga".


"Sayang...kau baik-baik di dalam sana. Daddy dan mommy sangat menginginkan mu", ucap Steven mengusap dan mengecup lembut perut istrinya yang saat ini bersandar di punggung tempat tidur mereka.


Katty terharu mendengar penuturan suaminya, matanya sudah berkaca-kaca. Penantian panjang setelah menikah hampir satu tahun lamanya akhirnya hadir juga.


Kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun begitu sempurna bagi Katty dan Steven.

__ADS_1


*


Keesokan harinya...


Flamini menggenggam erat jemari tangan Anabelle menuju mobilnya yang sudah menunggu di pintu kedatangan.


Kaca mata hitam menghiasi wajah keduanya.


Flamini sudah memutuskan sekarang akan menemui keluarga Anabelle secara langsung. Ia serius ingin menikahi gadis itu. Saat di perkebunan milik nya beberapa waktu yang lalu, Ana menerima ajakan Flamini untuk menikah.


Hubungan keduanya semakin dekat, apalagi Flamini lebih banyak menghabiskan waktunya di kota Massachusetts bersama Anabelle.


Saat di dalam mobil Ana menyandarkan kepalanya pada bahu Flamini. "Apa kakak gugup menemui keluarga ku?", tanya Anabelle.


"Kenapa harus gugup? Papa mu sejak awal menerima ku, bahkan ia menitipkan dirimu pada ku. Kakak mu Katty, Steven yang harus aku takuti? Kau lupa mereka teman baik ku, hem?", jawab Flamini sambil mencubit ujung hidung kekasihnya itu.


"Ih, itu curang namanya. Tidak ada tantangan nya", balas Anabelle sambil mencubit pinggang Flamini.


"Kau ingin tahu yang membuat seorang Flamini gugup, hem?"


"Apa?"


"Saat malam pertama kita nanti jangan sampai ada yang membuatku gagal. Aku tidak mau sampai gagal lagi", seloroh Flamini di sambut tawa renyah Anabelle. Gadis itu kembali menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh kekasihnya sementara Flamini melingkarkan tangannya pada pinggang Anabelle sambil mengecup lembut pucuk kepala gadis itu.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2