
"Jika kalian berdua sudah saling mencintai kenapa harus menunda pernikahan. Menurut papa lebih cepat lebih baik, nak".
"Bagaimana kondisi papa mu Katty?", tanya Arthur.
"Papa sudah semakin membaik, dan sekarang sudah pulang ke rumah", jawab Katty yang menampakkan wajah bahagia ketika menyebut keadaan Ethan ayahnya.
"Aku sudah menemui ayah Katty, ia sudah memberikan restunya untuk kami", jawab steven sambil menggenggam erat jemari tangan Katty yang ada di atas pahanya.
"Nah sekarang kalian menunggu apa lagi untuk menikah. Pacaran terlalu lama itu tidak baik juga. Kalian sudah sama-sama dewasa, menunggu apa lagi?"
Katty terdiam dan lebih banyak menundukkan kepalanya. Gadis itu mencerna perkataan Arthur.
"Aku berencana menikah setelah adikku Anabelle menamatkan kuliahnya, pah. Setelah papa ku sakit-sakitan akulah yang membiayai keluarga ku. Biaya kuliah Anabelle dan pengobatan papaku", ucap Katty berterus terang dengan suara terdengar pelan.
"Sebenarnya Steven sudah menawarkan bantuan. Tapi keluarga ku adalah tanggung jawab ku, aku merasa tidak enak jika membebani Steven. Sementara Steven sudah sangat membantu penyembuhan papa", ucap Katty sambil menolehkan wajahnya menatap penuh arti kekasihnya
Arthur dan Adeline bertukar pandang. Tiba-tiba perasaan Adeline terharu mendengar pengakuan Katty. Pantas saja putranya langsung jatuh hati pada Katty, ternyata selain gadis baik-baik ia juga pekerja keras.
Untuk Arthur ia sangat tahu dengan gadis itu, Katty memang gadis baik-baik dan pejuang tangguh. Ia juga sangat bertanggung jawab. Steven tidak salah pilih pasangan.
"Well. Papa mama menyerahkan semuanya pada kalian berdua, mana yang terbaik. Papa hanya berharap semoga kalian segera meresmikan hubungan kalian kejenjang yang lebih serius lagi. Sekarang papa dan mama harus bersiap-siap karena ada undangan jamuan makan malam".
"Steve, mama mau kalian menginap di sini saja. Tidak perlu di hotel", ucap Adeline begitu hangat. "Katty...jangan sungkan di rumah ini, anggap rumah mu sendiri".
"Iya mah", jawab Steven dan Katty hampir bersamaan.
*
Aroma parfum beraroma maskulin menyeruak memenuhi penciuman Katty ketika pintu kamar Steven terbuka lebar.
Katty mengedarkan pandangannya pada kamar bernuansa menly itu. Dongker dan abu-abu, terkesan mewah dan menyejukkan mata. Bagi wanita seperti Katty, kesan pertama...sangat seksi dan maskulin sekali.
"Masuklah, ini kamar ku dari dulu hingga kini. Akan menjadi kamar mu juga", ucap Steven.
Katty mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar berukuran luas tersebut. Masih banyak foto Steven dan Layla di kamar itu. Seakan-akan tahu pikiran Katty, Steven segera memeluk tubuh kekasihnya yang tak bergeming di tempatnya semula.
"Aku tidak memberitahu orang-orang tentang kedatangan kita, jadi foto aku dan Layla belum sempat disimpan. Tidak ada yang berani merubah kamar ini jika tidak aku perintahkan. Apa kau merasa terganggu, hem? Aku bisa meminta pelayan menyimpannya sekarang", ucap Steven sambil memeluk tubuh Katty dari belakang.
__ADS_1
"Tidak Steve. Tidak apa-apa", jawab Katty sambil membalikkan tubuhnya menghadap Steven. "Tapi apa ada kamar lain untuk ku?"
"Kau ingin kita tidur di kamar lain?", tanya Steven sambil mengusap lembut wajah kekasihnya itu.
"Untuk ku saja. Kau bisa tidur di kamar ini", jawab Katty tersenyum manis.
Steven mengusap tengkuknya. Nampak sedang berpikir. "Begitu ya?"
"Sekarang baru lepas senja, kau di sini dulu bersama ku. Nanti aku minta pelayan menyiapkan kamar lainnya untuk mu", ucap Steven menatap lembut Katty.
Katty menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan Steven.
Steven tersenyum melihat nya. "Sekarang aku mau mandi sebentar, kau boleh melihat-lihat kamar ini. Pemandangan dari balkon sangat indah kau pasti menyukainya", ucap Steven menunjuk pintu balkon yang ada di sisi sebelah kanan.
"Iya. Aku akan melihatnya. Sekarang kau mandilah", jawab Katty sambil melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia penasaran pemandangan indah seperti apa yang dimaksud kekasihnya.
Steven tersenyum penuh arti menatap punggung Katty. Menit berikutnya ia masuk ke kamar mandi.
*
Katty menatap tak percaya pemandangan di depan matanya. Ternyata apa yang di katakan Steven benar adanya. View dari balkon kamar Steven benar-benar indah. Sekarang sudah lepas senja, tapi langit di atas kota tersebut belum gelap. Katty masih bisa menikmati pemandangan nan indah yang tersaji dihadapan nya saat ini.
View ruangan Steven memang menakjubkan, bisa melihat keindahan kota klasik Birmingham.
Katty tidak menyadari Steven berdiri dibelakangnya, memperhatikan tingkah Katty yang dianggapnya lucu.
Bahkan ia mendengar kala kekasihnya itu bicara sendiri, kemudian tertawa-tawa sendiri mengagumi pemandangan dari tempatnya berdiri.
Katty tampak bahagia, semakin membuat kecantikan nya yang polos semakin terpancar.
Dengan rambut panjang berwarna karamel bergelombang membuat gadis itu semakin mempesona.
Steven tidak tahan melihat mahluk yang sangat mempesona dihadapannya.
Ia mendekat dan memeluk tubuh Katty dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.
Katty kaget. "Steven, kau sudah selesai mandi?"
__ADS_1
Harum shampoo bercampur sabun beraroma musk menyeruak dari tubuh Steven yang hanya dibalut bathrobe berwarna putih. Seketika membuat pikiran Katty sudah kemana-mana.
"Apa yang membuat mu tertawa, hem?", bisik Steven dengan suara serak ditelinga Katty.
Perbuatan Steven seperti itu, tentu saja membuat lidah Katty kelu dan tubuhnya seketika menjadi gerah. Padahal cuaca mulai terasa sangat dingin hingga menusuk tulang.
"Steve, a-pa yang kau lakukan?"
"Apalagi...memeluk kekasih ku", jawab Steven lembut, sambil mengecup tengkuk Katty.
Tindakan Steven, membuat Katty terdiam. Bahkan untuk menelan salivanya sendiri begitu kesulitan. Katty memejamkan matanya.
Seketika suasana menjadi panas. Cuaca dingin dan posisi mereka yang sedang berdiri di balkon dengan view yang romantis sangat mempengaruhi keadaan Katty.
"Steve..."
"Ehm..."
"T-empat ini sangat menakjubkan. A-ku menyukainya", ucap Katty dengan suara bergetar.
Posisi mereka masih seperti tadi, Steven memeluknya dari belakang dan mulai menciumi leher Katty.
Yang tadinya hanya kecupan - kecupan ringan sekarang lebih intens dan bergairah.
Steven tidak menjawab perkataan Katty, ia lebih tertarik dengan dengan pekerjaannya sekarang. Bahkan, tangannya sudah merambah ke dada Katty yang di balut dress ketat model sabrina yang memperlihatkan bahu mulus Katty.
Katty ingin protes, tetapi perlakuan Steven terasa begitu nikmat.
Steven memutar tubuh Katty menghadap nya.
Ia tidak perduli dengan apa pun lagi. Steven dengan buasnya menghisap leher kekasihnya itu. Ciuman nya semakin turun hingga ke dada Katty.
Tubuh atletis Steven kian menghimpit tubuh Katty hingga ke pagar besi balkon kamarnya. Katty terdesak. Akal sehatnya lenyap seketika. Bahkan ia tidak bisa berbuat apa-apa, ketika Steven berhasil membuka kancing dress nya.
Katty menggigit bibir bawahnya, dan mengenadahkan wajah keatas ketika merasakan lidah basah Steven menjilati puncak dadanya. Rasanya begitu nikmat. Ini yang pertama kali Katty merasakannya, seumur hidupnya. Jemari tangan Katty menekan dan meremas rambut yang masih terasa lembab kekasihnya itu, seakan-akan meminta lebih.
"Akh, Steve..."
__ADS_1
...***...
To be continue