PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
CINTA KEMBALI BERSEMI DI KOTA INTERLAKEN


__ADS_3

"Harus di akui kota Interlaken sangat indah. Pantas saja papa mu memutuskan untuk menetap di kota ini", ucap Samuel sambil memeluk pinggang Calista.


Calista tersenyum mendengar perkataan Samuel. Calista baru saja pulang dari memeriksa kan kandungan nya, dan untuk yang pertama kali ia ditemani suaminya.


Hanya satu pesan dokter kandungan untuk Calista, hindari stress karena bisa berdampak pada janin yang di kandungnya. Mendengar ucapan dokter itu tentu membuat Samuel merasa bersalah. Tapi setelah itu dokter mengatakan kabar baik, anak mereka saat ini dalam kondisi baik-baik saja. Detak jantung nya pun di perdengarkan pada Samuel untuk yang pertama kalinya, tentu Samuel sangat bahagia sekali gus terharu mendengar detak jantung calon anaknya.


Setelah dari memeriksa kan kandungan Calista, Samuel mengajak istrinya jalan-jalan ketempat romantis yang ada di kota Interlaken. Samuel memilih tempat yang teraman untuk wanita hamil. Keduanya mengunjungi beberapa tempat romantis di kota itu.


"Iya. Awalnya papa dan Bianca hanya liburan biasa saja ke sini. Ternyata ia memiliki rencana lain setelah pulang dari liburannya dan aku memegang kendali perusahaan papa".


"Papa memutuskan menetap di kota Interlaken, bisa kau bayangkan setiap tahun istrinya melahirkan anak untuk papa ku. Mungkin mereka terbawa suasana romantis kota ini", ucap Calista tertawa membayangkan hebatnya Bianca yang saat ini sudah melahirkan tiga orang anak untuk ayahnya.


"Dan aku pun akan mengikuti jejak ayah mu. Aku akan membuat istri ku melahirkan banyak anak untuk ku", jawab Samuel sambil memeluk erat pinggang Calista.


Calista memukul lengan suaminya. "Aku ingin memberikan jarak pada anak ku, sayang. Setelah anak pertama lahir, kita harus memberikan jarak dua tahun untuk anak kedua".


"No Cali". Samuel membingkai wajah Calista. Aku ingin kita memiliki banyak anak, sayang. Aku tidak mau kesepian lagi. Dengan banyak anak bisa kau bayangkan ramainya rumah kita nanti. Tawa, canda dan tangisan anak-anak kita akan membuat hidup ku semakin sempurna", ucap Samuel sambil menggenggam jemari Calista untuk duduk di kursi taman yang luas membentang di depan mereka. Bunga-bunga bermekaran dengan sangat indah.


"Aku juga menginginkan suasana rumah yang ramai", ucap Calista sambil mendaratkan sebuah kecupan pada rahang suaminya. Suasana romantis seketika menjelma di sana. Samuel membingkai wajah istrinya dan me*umat bibir Calista yang terbuka.

__ADS_1


"Kita pergi dari sini", ucap Samuel menarik tangan istrinya.


Calista mengikuti langkah kaki Samuel. "Sayang kita mau kemana?"


"Kau akan segera tahu", jawab Samuel membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Samuel melajukan mobilnya. Tak butuh waktu yang lama mobil itu berhenti di kawasan yang terletak di antara dua danau, Brienz di wilayah timur dan Thun di wilayah barat. Keindahan kota Interlaken semakin terasa dengan posisinya di pinggir Sungai Aare.


Kedua mata Calista menatap takjub pemandangan di depan nya. Hamparan danau berair biru terang di apit pegunungan yang menjulang begitu menakjubkan.


"Oh my God, di sini pemandangan nya luar biasa indahnya", teriak Calista begitu antusias. "Sam...kau tahu dari mana tempat ini?"


Wajar saja Calista tidak tahu tempat-tempat indah di Interlaken karena selama ia berada di kota itu, tak sekalipun ia berjalan-jalan keluar rumah. Yang ada, Calista hanya berdiam diri di dalam kamarnya menangis meratapi nasibnya dan anaknya jika Samuel ingin berpisah darinya.


"Sammy.."


Tanpa berkata-kata Samuel me*umat bibir ranum istrinya yang terbuka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya Samuel membuka resleting dress Calista dengan tergesa-gesa. Sudah dari taman tadi Samuel berusaha menahan dirinya agar tidak menyerang istrinya di tempat umum.


Jemari tangan Samuel menyusuri kulit halus istrinya. "Ah Cali...aku sangat merindukan tubuh mu", bisik Samuel menyapukan lidahnya pada leher jenjang Calista.

__ADS_1


Tindakan Samuel itu membuat tubuh Calista meremang. Hawa panas seketika melingkupi tubuhnya. Jemari tangan Calista membuka satu persatu kancing kemeja suaminya dan melemparkannya ke sembarang arah. Jemari lentik itu menyusuri dada bidang Samuel.


Bibir Samuel bergantian menghisap kuat bibir bawah dan atas Calista penuh gairah. Samuel selalu merindukan bibir Calista yang terasa manis bak buah Cherry matang.


Suara de*ahan lolos dari mulut Calista. Kedua netra bening itu menatap Samuel dengan pandangan berkabut. Nampak jelas hasrat dan gairah yang tak terbendung lagi. "Aku sangat merindukan belaian mu, Sam", ucap Calista m tanpa sungkan mengungkap kan perasaannya.


Samuel tersenyum samar mendengar pengakuan istrinya. Samuel kembali menyatukan bibirnya pada bibir Calista. Jemari tangannya meremas pelan dada Calista dan mengusap lembut puncaknya. Samuel menundukkan kepalanya menghisap kuat puncak dada istri nya.


"Akh–


Bibir Calista mengeluarkan lengguhan tertahan. Lidah basah Samuel terasa begitu geli di dadanya. "Oh Sammy jangan di gigit sayang, sakit". Calista merintih kala rasa nikmat dan perih di puncak dadanya akibat ulah Samuel.


Calista menciumi dada bidang Samuel sambil membelai dengan jemari lentik tangannya. Tubuh Samuel terpahat dengan sempurna. Otot-otot menonjol di bagian-bagian tertentu, membuat laki-laki itu bak dewa Yunani.


Samuel merebahkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur, dan mengungkung tubuh Calista di bawahnya. Namun akal sehat Samuel masih ada, ia tidak mau mengambil resiko dengan menindih tubuh istrinya yang sedang hamil.


Jemari lentik Calista mengusap lembut perut sixpack suaminya. Jari telunjuk nya bermain-main memutar di dada Samuel. Tindakan Calista berakibat fatal. Samuel tidak bisa menahan dirinya lagi. "Ah shitt, Calista...kau memancingku", racau Samuel sambil meremas dada Calista dan melahap puncaknya.


Aroma parfum maskulin menyeruak memenuhi penciuman Calista, mempengaruhi akal sehatnya. Aroma tubuh Samuel begitu di sukai Calista. Sangat seksi, membuat area sensitif wanita itu meronta-ronta.

__ADS_1


Sama-sama saling membutuhkan dan merindukan, pasangan suami-istri itu bergumul seharian mereguk kenikmatan bercinta. Perpisahan yang telah mereka alami beberapa waktu yang lalu membuat percintaan kali ini begitu mendalam. Sama-sama saling membutuhkan kehangatan keduanya membuai pasangan dengan intens. Hingga meneriakkan nama masing-masing.


...***...


__ADS_2