
Samuel bergegas keluar mobil dan berlari menuju ruangan di mana Calista berada.
Saat berada di depan ruangan khusus itu Samuel melihat Katty sedang menelepon seseorang.
Ia segera memutuskan sambungan telepon nya ketika melihat Samuel.
"Bagaimana keadaan istriku, Katty?", tanya Samuel panik, bertepatan dengan Steven keluar ruangan Calista.
"Steven..."
Samuel menghampiri temuannya itu, tepat di depan pintu.
"Sam, tenangkan diri mu", ujar Steven dengan wajah serius.
"Bagaimana kondisi Calista dan anakku?"
"Tenangkan diri mu. Calista..."
Terlihat Steven menghembuskan nafasnya dengan kasar. Samuel tahu istrinya di dalam pasti kondisinya tidak baik. Samuel tahu dari wajah Steven.
"Cali kenapa? Oh Tuhan..."
Tanpa menunggu penjelasan Steven, Samuel berlari masuk keruangan istrinya.
"Sayang..."
__ADS_1
Seketika tubuh Samuel gemetaran melihat kondisi istrinya di dalam.
Tergolek lemah di atas tempat tidur. Kedua matanya tertutup rapat. Calista sama sekali tidak merespon panggilan Samuel. Wajahnya begitu pucat, terpasang alat bantu pernapasan.
"Cali, apa yang terjadi pada mu sayang?", teriak Samuel panik. "Ada apa dengan istri ku, kenapa ia tidak bangun dan membuka matanya", ucap Samuel keras.
"Sam...tenangkan diri mu, dokter akan menjelaskan kondisi Calista sekarang", ucap Steven memegang pundak Samuel yang tak henti menggoyang tubuh istrinya.
"Tuan Samuel, saya harus menyampaikan berita buruk. Istri tuan saat ini kondisinya kritis. Menurut pekerja yang membawanya kemari, nona Calista jatuh dalam kondisi tertelungkup ke depan sehingga janin dalam kandungan nona Calista mendapatkan benturan yang sangat keras. Menyebabkan istri anda mengalami pendarahan hebat dan kondisi janinnya saat ini lemah. Jika hasil pemeriksaan menyeluruh nona Calista baik, segera harus di lakukan tindakan operasi, menghindari plasenta terlepas yang semakin membahayakan istri dan anak tuan".
"Tidak. Tidak! Istri dan anakku akan baik-baik saja. Berikan pengobatan yang terbaik untuk mereka. Aku tidak perduli berapa pun biayanya dokter! Istri ku wanita kuat, aku yakin Calista akan bertahan", seru Samuel menatap tajam dokter kandungan wanita itu.
"Steve kau harus membantu istri dan anak ku. Kau tahu rasanya kehilangan orang yang sangat kau cintai kan? Bantu aku selamat kan Calista dan anak kami. Atau pindahkan istri ku ke rumah sakit terbaik di mana pun tempatnya sekarang juga. Bantu aku Steven", ucap Samuel meratapi keadaan Calista dan calon anak mereka.
Tanpa di kehendaki, Samuel menitihkan air matanya. Perasaannya begitu menyesakkan dada. Ia begitu sedih tidak tega melihat keadaan Calista wanita yang begitu di cintai nya kritis bahkan tidak membuka matanya. "Tadi aku bicara pada istriku, Calista baik-baik saja. Oh Tuhan kenapa sekarang semuanya begini", lirih Samuel meratapi kejadian memilukan yang menimpa ia dan keluarga yang sangat di cintainya.
"Tenang Sam. Kau harus tenang agar bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk Calista dan anak yang dikandungnya", ucap Steven.
Sementara Katty yang menyaksikan kesedihan mendalam yang dirasakan Samuel tidak bisa menahan air matanya yang berlinang membasahi pipinya. Katty menatap wajah pucat Calista yang tergolek tak berdaya tanpa bergerak sama sekali di atas tempat tidur pasien. Katty mengusap lembut kening Calista.
"Cali... bertahan lah. Ini bukan yang pertama kali untuk mu. Saat kecelakaan dulu kau mampu melaluinya, dengan detak jantung yang hanya tersisa 15% saja. Aku harap kali ini pun kau kuat dan mampu keluar dari masa kritis, Cali. Bertahanlah demi anak dan suami yang sangat mencintai mu. Aku tahu kau pun sangat mencintai Samuel dan calon anakmu", lirih Katty dengan linangan air mata.
Katty menggelengkan kepalanya. Kedua matanya menatap lekat Calista. "Cali...Kau merespon ku?"
Samuel, Steven, dokter dan perawat yang ada di ruangan itu menatap kearah Calista yang menggerakkan kepalanya.
__ADS_1
"S-ayang", lirihnya.
"Calista...aku di sini sayang", jawab Samuel menggenggam erat jemari tangan istrinya dan mencium lembut kening dan wajah pucat Calista penuh perasaan. "Apa yang sakit? Bertahanlah sayang, dokter akan segera melakukan operasi. Anak kita akan segera lahir sayang", ucap Samuel sambil mengusap lembut kening istrinya.
Tangan Calista hendak membuka alat bantu pernapasan di wajahnya. Namun Samuel menahannya. Samuel menatap dokter kandungan istrinya dan dokter itu mengangguk kan kepalanya.
"Tidak apa-apa jika sebentar. Mungkin ada yang ingin istri tuan sampaikan", ucap dokter.
Perlahan Samuel melepaskan alat tersebut. Kemudian jemari tangannya mengusap lembut wajah Calista yang terlihat semakin pucat.
"Bertahanlah sayang..
Calista menatap lekat wajah Samuel. Jemari tangannya menggenggam erat jemari tangan suaminya.
"S-ammy M-aafkan aku. A-ku tidak bisa menjaga kandungan ku dengan B-aik. K-au harus janji, apapun yang terjadi nanti kau harus memilih menyelamatkan anak kita", ucap Calista pelan. Suara Calista terdengar begitu lemah.
Samuel menegakkan tubuhnya. Sekuat tenaga ia menunjukkan dirinya tegar. Samuel menghembuskan nafasnya.
"Tidak sayang. Kau dan anak kita akan baik-baik saja. Kita akan bersama-sama membesarkan anak kita. Kau ingat kan kita sudah memiliki nama bayi kita nanti. Jika anak kita lahir perempuan akan kita namakan Agatha. Aku yakin bayi mungil itu akan secantik diri mu. Jika ia laki-laki akan kita namakan Gilbert, kau bilang ia akan setampan ayahnya kan", ucap Samuel berusaha tersenyum. Ia berusaha tegar dan kuat dihadapan Calista.
Terlihat senyuman tipis di wajah Calista. Calista menatap sendu Samuel, ia menganggukkan kepalanya sedikit. Dan...mata itu tertutup rapat. Bertepatan terdengar bunyi nyaring dari monitor yang memantau kondisi Calista.
Samuel tidak bisa menutupi rasa paniknya. Ia mengguncang tubuh Calista. "Oh my god. Sayang jangan seperti ini. Aku mohon ... bangun lah, berjuang, bertahanlah sayang...!"
...***...
__ADS_1
To be continue