
Keesokan harinya...
Mengalami hari yang sangat berat dalam hidupnya, membuat
Samuel tidak dapat memejamkan matanya walaupun hanya sejenak saja.
Semalaman ia merebahkan tubuhnya di sofa kamar rawat inap yang sudah di siapkan jika Istri dan anaknya nanti membaik kondisinya. Dengan mata berkaca-kaca, Samuel menerawang menatap langit-langit kamar tersebut. Pakaian kerja yang dipakainya kemarin pun masih melekat ditubuh nya, hanya jas saja yang sudah di lepas dan sampirkan di atas sofa. Sementara kemeja berwarna biru tua dan dasi sudah terlihat berantakan di tubuhnya.
Uhhh...
Samuel menarik nafas panjang, ia beranjak dari sofa. Laki-laki itu hendak membersihkan tubuh nya dikamar mandi.
Samuel memilih tetap bermalam di rumah sakit, meskipun dokter Brenda dan Steven mengatakan ia bisa pulang. Mengingat Calista belum juga sadar. Sementara putranya pun masih harus di rawat dengan intensive di dalam inkubator. Namun Samuel tidak mau jauh dari Calista dan anaknya.
Samuel meminta Owen menempatkan orang-orang mereka di depan kamar Istri dan anaknya, untuk berjaga-jaga di Ruang Intensive Care Unit yang merupakan ruangan khusus untuk perawatan pasien kritis, Dimana saat ini Calista berada.
Beberapa saat kemudian, Samuel sudah mengganti pakaiannya. Membuat penampilan yang sebelumnya tampak kacau menjadi lebih segar. Wajah tampannya terlihat lebih bercahaya tak lusuh seperti beberapa saat yang lalu.
Sekarang Samuel berniat melihat keadaan istrinya. karena semalam setelah operasi belum boleh di lihat dan di dampingi. Samuel dan keluarga nya hanya melihat Calista dan anaknya dari balik kaca. Menurut dokter semalam sebelum pulang, pagi ini Calista sudah bisa di besuk. Tetapi tetap dengan pengawasan ketat, untuk memastikan kondisi pasien terlebih dahulu.
Tok
Tok
Terdengar ketukan. Samuel melangkahkan kakinya, membuka handle pintu.
"Maaf mengganggu anda tuan, saat ini dokter Brenda meminta anda untuk datang keruangan nya sekarang", ucap perawat memberitahu Samuel dengan sopan.
Samuel mengangguk kan kepalanya, dan langsung melangkahkan kakinya menuju keruangan dokter Brenda.
Beberapa saat ia mengetuk pintu dihadapannya. Seorang perawat membuka handle pintu ruangan dan mempersilakan Samuel masuk.
__ADS_1
Dokter Brenda nampak fokus pada hasil rontgen yang dilihatnya dengan teliti menggunakan sinar lampu yang ada dihadapannya.
"Saya sudah memeriksa kondisi istri tuan pagi ini. Keadaan nya stabil", ujar dokter sambil tersenyum. Melihat wajah Brenda membuat perasaan Samuel pun menaruh harapan terbaik untuk istrinya.
Nona Calista sudah melewati masa kritis nya. Kabar baik lagi, semua organ vital istri tuan berfungsi dengan baik. Hanya saja ia masih dalam kondisi koma", ucap dokter lagi.
Samuel menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengusap wajahnya. Tak hentinya laki-laki itu mengucap syukur, setidaknya kabar inilah yang ingin ia dengar.
"Kalau melihat perkembangan nya dengan cepat seperti ini istri tuan tergolong memiliki fisik yang kuat dan hidup sehat sebelum nya. Hal ini terlihat bagaimana pendarahan yang terjadi tidak sampai merusak organ vital lainnya."
Huhh..
Samuel kembali menarik nafas panjang. Tangannya mengusap wajah. Seperti mendapatkan secercah harapan yang membuat nya bisa bernafas lega. Walaupun rasa kuatir tetap menguasai pikiran nya karena kondisi Calista masih dalam keadaan koma tidak sadarkan diri.
"Apa yang harus aku lakukan, dok?"
"Berikan support pada istri tuan, luangkan waktu untuk menjaga dan merawatnya selama terbaring tak sadarkan diri. Ajaklah selalu ia berbicara, karena walaupun dalam kondisi tidak sadarkan diri pasien koma masih bisa mendengar".
"Meskipun belum jelas seberapa besar pasien koma dapat merespons, tetapi ada kemungkinan pasien bisa mendengar. Penelitian juga menunjukkan bahwa menstimulasi indera sentuhan, penciuman, suara dan penglihatan dapat membantu orang koma lebih cepat untuk pulih", jelas dokter dengan rinci.
"Sekarang tuan sudah bisa melihat istri tuan. Mulailah ajak nona Calista berbicara tentang hal-hal bahagia yang sering kalian lakukan bersama", ucap dokter Brenda sambil tersenyum.
"Baik dok. Terimakasih atas penjelasannya, aku tahu kau dokter obgyn terbaik di London dan bisa diandalkan", ujar Samuel sambil beranjak dari tempat duduknya.
.
Samuel duduk disamping ranjang Calista. Ia begitu sedih melihat langsung kondisi wanita yang sangat dicintainya itu.
Wajah Calista terlihat putih pucat, dengan alat bantu pernafasan yang menutupi hidung dan mulutnya. Samuel tak henti mengusap dan mencium lembut kening istrinya.
"Sayang..
__ADS_1
"Kau harus kuat. Aku harap kau cepat sadar dari koma ini sayang. Kau harus melihat bayi tampan kita."
"Segera lah bangun, sayang. Aku sangat menguatirkan kondisi mu. Bukan kah kau sudah berjanji kepada ku untuk menghabiskan masa tua kita bersama dengan anak-anak kita", bisik Samuel ditelinga Calista yang tak meresponnya sedikit pun.
"Bahkan aku sudah memiliki nama untuk anak kita, sayang. Aku menamainya GILBERT STEWART ABRAHAM.
Bagaimana menurut mu, hem apa kau menyukai nama pemberian ku itu, sayang ?", tanya Samuel sambil menggenggam jemari istrinya.
Tidak ada respon apapun dari Calista, tetapi Samuel terus saja mengajak nya berbicara. Bahkan menceritakan kembali bagaimana perasaan nya saat bertemu dengan Calista untuk yang pertama kali. Termasuk terjadi konflik di awal pernikahan mereka, setelah dirinya tahu siapa Calista sebenarnya. Penyebab kecelakaan yang dialami Amber.
Tanpa sadar buliran bening Samuel menetes menyentuh wajahnya. Disaat mengingat betapa kejamnya dirinya pada Calista kala itu yang tanpa berpikir panjang mencengkram kuat leher Cali. Bukan hanya dengan kata-kata kasar ancaman tapi juga menyakiti tubuh wanita yang sangat dicintainya kini.
"Maafkan aku sayang. Aku janji tidak akan pernah menyakiti mu dan anak-anak ku lagi. Aku sangat mencintaimu Cali. Sangat.
Tangan Samuel mengusap lembut kening istrinya. Ia terus membisikan kata-kata cinta yang begitu membuncah di hatinya untuk Cali.
"Sayang...aku dan Gilbert sangat membutuhkan mu. Segera lah sadar jangan biarkan kami sendirian di dunia ini tanpa kehadiran mu. Aku tidak sanggup, Cali", bisik Samuel dengan suara bergetar menahan kesedihan yang melingkupi perasaannya.
Samuel mengusap wajah nya. Dengan lekat ia tatap wajah cantik Calista.
"Sekarang aku akan melihat bayi kita Gilbert dan menemui dokter anak, nanti aku kembali lagi menemani mu, sayang", lirih Samuel sambil mengecup kening Calista penuh perasaan cinta. Samuel menatap wajah istrinya yang terdapat beberapa memar berwarna biru keunguan. Samuel menghembuskan nafasnya dengan berat sambil mengusap air matanya.
Samuel baru saja keluar dari kamar Calista dan melihat Steven datang bersama Katty.
Steven menepuk pundak Samuel, ia tahu temannya itu sehabis menangis.
"Tenangkan diri mu, Sam. Calista sudah membaik sekarang. Dokter Brenda memberitahu ku. Aku yakin dengan kehadiran mu dan keluarganya akan membuat Cali sadar kembali".
Samuel mengangguk kan kepalanya. "Iya..."
...***...
__ADS_1
To be continue