
Keesokan harinya...
Pagi hari terasa begitu dingin sekali. Langit kota London masih nampak gelap meskipun jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Kilat petir pun dari fajar terdengar bersahutan menggelegar.
Suasana seperti itu membuat sebagian orang melanjutkan tidur mereka hingga matahari memancarkan cahayanya.
Tapi di mansion Samuel dan Calista, suasana nampak ramai tidak seperti biasanya. Kemarin sore mereka kedatangan Justin, Bianca berserta ketiga anak mereka yang lucu-lucu dan mengemaskan.
Tentu saja Calista dan Samuel sangat senang, keduanya menyambut baik kedatangan mereka.
Saat ini semua sudah berada di meja makan menikmati sarapan pagi bersama. Sambil berbincang hangat dalam suasana kekeluargaan.
"Sayang papa minta maaf, saat persalinan mu nanti papa tidak bisa menemani mu. Bianca hamil anak keempat papa. Walaupun ini sudah kehamilan yang keempat kalinya tapi sangat menyulitkan. Bianca mengalami morning sick", ucap Justin terlihat sangat bahagia menyampaikan kabar tentang kehamilan istrinya pada Calista dan Samuel. Sekaligus sedih menyampaikan kondisi istrinya.
"Oh my God, jadi kau sekarang sedang hamil lagi, Bia? ckckck bahkan Liza saja masih harus kau gendong seperti itu", ujar Calista melebarkan kedua matanya menatap tak percaya Bianca yang duduk di samping Justin ayahnya sambil memangku Liza putri bungsu nya.
"Iya Cali. Sebenarnya aku ingin menundanya tapi ayah mu tidak setuju. Ya mau bagaimana lagi", jawab Bianca terlihat mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Justin mengelap ujung bibirnya. "Setelah adik Liza lahir, kau boleh menundanya sayang".
"What? Papa masih mau punya anak lagi setelah memiliki empat anak?", tanya Calista melototkan kedua matanya menatap sang ayah tak percaya.
"Sayang...bukankah banyak anak itu akan membuat hidup semakin bahagia? Lihatlah tawa canda adik-adik mu itu membuat rumah kita ramai kan. Aku juga sama seperti ayah mu, setelah anak kita lahir ingin kau hamil lagi anak kedua kita. Pasti sangat membahagiakan memiliki banyak anak", ucap Samuel.
Calista menaruh sendok di atas piring dan meminum susu hamil milik nya. "Kalian laki-laki sama saja, kalian egois tidak memikirkan bagaimana lelahnya hamil. Aku ingin memberikan jarak anak-anak ku, Sammy. Huhh...Bia kau sangat hebat. Aku tidak akan sanggup seperti mu setiap tahun mengandung begitu", ujar Calista dengan wajah tampak meringis membayangkan dirinya ada di posisi teman baiknya itu.
Samuel tersenyum mendengar komplain istrinya. "Baiklah terserah kau saja sayang, yang paling penting untuk ku, sebentar lagi akan lihat anak kita. Kau dan anak ku sehat, itu lah yang paling penting", jawab Samuel sambil mendaratkan sebuah kecupan sayang di wajah istrinya dan mengusap lembut perut Calista.
Justin dan Bianca tersenyum melihat pasangan itu bahagia dan saling mencintai. "Papa senang melihat kalian nak. Kebahagiaan kalian nyata, papa bisa melihat itu", ucap Justin tersenyum.
*
Di perusahaan Chupón Engineering, Flamini memimpin rapat di hadapan rekanan perusahaan miliknya. Perusahaan itu bergerak di bidang migas yang berskala besar.
Sepuluh menit berlalu, terlihat Flamini cepat-cepat mengakhiri meeting. Sedari tadi ia ingin cepat menyelesaikan pekerjaan itu dan melihat Anabelle yang saat ini ada di lantai lima puluh lima Chupón Engineering tower tersebut.
__ADS_1
Beberapa waktu yang lalu, Sean memberi tahu nya, bahwa Anabelle dan tim nya sudah mengukur semua ruangan yang sudah selesai di bangun.
"Sean...kita ke atas sekarang. Aku ingin melihat cara kerja tim interior itu sekarang. Sesuai ekspektasi ku atau tidak", ujar Flamini.
"Bilang saja kalau tuan ingin melihat nona Anabelle, ia sangat cekatan tuan. Saya yakin tuan akan puas dengan hasil kerja nona Anabelle".
Flamini menghentikan langkahnya dan menatap tajam asisten nya yang sedang tertawa di sampingnya. Seketika wajah Sean berubah.
"Ehem...Maaf tuan, saya jadi ketularan nona Anabelle bicara ceplas-ceplos begini", ucap Sean memberikan alasan.
"Kau jangan macam-macam Sean. Apa kau mau kehilangan pekerjaan mu sekarang?", tungkas Flamini mengancam Sean yang terdiam.
"Tentu saja tidak tuan Flamini. Saya sangat butuh pekerjaan saya".
Flamini menggelengkan kepalanya, melangkahkan kakinya menuju lift.
...***...
__ADS_1
To be continue