PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
PEMIKIRAN KATTY


__ADS_3

"Aku senang sekarang papa, sudah lebih baik", ucap Katty sambil menyuapkan makanan ke mulut ayah nya Ethan yang duduk bersandar di ranjang pasien.


"Iya nak, obat yang di berikan dokter muda itu membuat papa tidak merasakan kesakitan lagi. Lihatlah...papa lebih segar sekarang", jawab Ethan tersenyum.


"Dokter Steven pah. Berapa kali sudah aku beri tahu nama dokter tampan itu adalah dokter Steven Morgan", jawab Anabelle sambil memijat-mijat kaki Ethan.


Mendengar nama Steven, membuat Katty ingat sesuatu. Gadis itu menatap arlojinya. "Oh my God kenapa aku bisa lupa, aku harus bertemu Steven. Sekarang hampir jam sepuluh", gumam Katty pelan tapi masih terdengar jelas oleh Anabelle.


"Kakak mau apa ketemu dokter Steven tampan itu? Semalam aku tidur di sini, tidak ada perawat yang memberi tahu agar kita menemui dokter ke ruangannya", ujar Anabelle merasa aneh mendengar gumaman sang kakak.


Katty tampak salah tingkah. "Hm...ini urusan lain Ana, kau jangan banyak tanya".


Anabelle menatap lekat wajah kakaknya. Nampak merona. "Wait. Jangan katakan kakak memiliki hubungan dengan dokter tampan itu. Sejak kapan? Apa kakak dan dokter Steven sudah saling mengenal sebelumnya?".


Anabelle memberondong Katty dengan pertanyaan ingin tahunya


"Ana, kau tidak boleh begitu pada kakak mu. Katherine sudah dewasa, Katherine juga harus memperhatikan dirinya sendiri. Kakak mu terlalu sibuk bekerja untuk keluarga kita", ujar Ethan dengan bijak.


Katty tersenyum mendengar ucapan ayahnya. "Yang paling penting papa sehat dan Ana segera wisuda. Papa jangan banyak pikiran agar cepat sembuh lagi", jawab Katty mengecup kening Ethan.


"Ana, setelah dari ruangan dokter Steven kakak langsung bekerja. Siang nanti kakak harus berada di kota Leeds, jadi kau jaga papa dengan baik", ucap Katty pada adiknya.


Cepat-cepat Anabelle menahan tangan Katty. "Tapi kakak janji, setelah pulang nanti akan menceritakan semuanya pada ku tentang hubungan kakak dan dokter tampan itu", ucap Anabelle setengah mengancam.


Katty tersenyum mendengar nya. "Iya kakak janji. Kau ini jadi anak selalu ingin tahu urusan orang lain", balas Katty sambil berlalu menutup rapat pintu kamar itu.


*

__ADS_1


Katty berada di depan ruangan Steven. Gadis itu mengetuk pintu tersebut. Tak ada sahutan dari dalam.


"Nona Katty? Anda ingin bertemu dokter Steven?", ujar seorang perawat yang biasa di ruangan Steven.


"Iya. Apa dokter Steven belum datang? Aku sudah janji menemui nya pagi ini".


"Dokter Steven sedang berada di ruang operasi pagi-pagi sekali. Dokter bilang, jika nona datang boleh menunggu di ruangannya. Tadi dokter Steven sempat menunggu nona sebentar", jawab perawat wanita itu. Ia membukakan pintu untuk Katty.


"Terimakasih, Lisbet".


"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi", jawab perawat bernama Lisbet.


Katty duduk di kursi di depan meja kerja Steven, sekilas ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang cukup luas itu. Di atas meja terlihat dua pigura berukuran kecil. Katty mengambil salah satunya foto Steven wisuda di apit kedua orang tuanya. Steven terlihat tampan memakai toga dan tersenyum bahagia.


Kemudian Katty mengambil pigura yang satunya lagi. Netra biru Katty menatap lekat orang di foto itu. Keduanya terlihat sangat bahagia. Steven memeluk wanita cantik berwajah timur tengah yang melingkarkan tangannya menyentuh wajah Steven Yang ada di belakangnya.


Netra Katty menatap jam tangan yang sudah menyentuh angka 10. Kemudian ia membuka tote bag berwarna putih yang dibawanya. Katty mengeluarkan sebuah box berisi makanan yang sudah di buatnya tadi pagi. Kemudian ia meninggal sebuah catatan kecil di atas box itu.


Katty memutuskan pergi dari ruangan Steven. Namun perasaannya tidak enak. Ada rasa yang mengganjal di hatinya.


Sesaat setelah di dalam mobil, Katty menyandarkan kepalanya pada kursi sambil memejamkan kedua matanya. Sebenarnya ketika bertemu Steven, Katty akan memberikan jawaban atas pertanyaan laki-laki itu semalam. Sejujurnya setelah Steven mengantar nya pulang Katty sama sekali tidak bisa memejamkan matanya hingga kini.


Namun melihat pigura Steven dan Layla masih terpajang di meja kerja Steven perasaan Katty menjadi kecut. Katty tahu, Steven pasti masih sangat mencintai mendiang istrinya itu.


Katty membuka matanya dan terdengar hembusan nafasnya. "Aku terlalu cepat terbuai dan berharap. Steven tidak mencintai ku, ia hanya kesepian saja.."


*

__ADS_1


"Selamat siang dok".


"Lisbet, apa Katty ada di ruangan ku?", tanya Steven terlihat tergesa-gesa menuju ruangannya.


"Nona Katty baru saja pergi dok".


"Sudah pergi? Kenapa ku tidak menyuruhnya menunggu ku, Lisbet?"


"Saya sudah menyampaikan pesan dokter, tapi tadi nona Katty pergi terburu-buru meninggalkan ruangan anda dok. Ia meninggalkan pesan di meja anda", jawab Lisbet.


"Oke. Kau kembalilah ke meja mu", ucap Steven membuka pintu ruangan nya.


Steven tersenyum melihat box makanan ada di atas mejanya. Ia juga membaca pesan singkat Katty untuknya.


*Semoga dokter menyukai makanan yang saya buat, selamat menikmati dan semoga hari dokter menyenangkan*


Kata-kata biasa saja, namun Steven senang membacanya. Steven duduk di kursinya dan membuka box makanan. laki-laki itu langsung menyuapkan makanan kemulutnya.


Steven memejamkan matanya menikmati kelezatan makanan yang di buat Katty, senyuman bahagia terlukis di wajah tampan itu. Kemudian matanya terbuka lagi, menyuapkan makanan kemulutnya lagi. Bertepatan kedua netra coklat itu menatap pigura foto ia dan Layla yang telah berubah posisi nya.


Seketika senyuman diwajahnya hilang. Steven mengambil pigura foto itu dan menyimpannya di laci meja kerjanya.


"Katty..."


Steven berdiri dari kursinya. Dan keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2