
Anabelle melangkahkan kakinya menuju ruangan di mana Verline berada. Ana terlihat bergegas melangkahkan kakinya tergesa-gesa. Saat ia di dalam mobil taksi tadi ia mendapat kabar bahwa mommy Verline meninggalkan dunia karena sakit jantung yang dideritanya.
Dari kejauhan Ana sudah merasakan perasaan sedih. Ia melihat bos-nya yang sedang di tenanglah oleh Dona asisten nya. Ana melangkahkan kakinya mendekati Verline.
"Nona Verline, saya turut berdukacita", ucap Ana memeluk Verline wanita dewasa yang sangat baik padanya meskipun belum lama mengenal nya.
"Ana.."
Verline membalas pelukan Anabelle dengan erat. Tubuhnya terasa dingin. "Terimakasih Ana".
"Verline semuanya sudah siap, sebaiknya kita pergi sekarang membawa mommy pulang", ucap seorang pria yang wajahnya mirip dengan Verline.
"Iya. Aku sudah siap", jawab Verline yang tampak begitu terguncang.
Dona memegangi tubuh Verline. "Tunggu dulu Dona, aku harus bicara pada Anabelle", ucapnya menghentikan langkahnya.
Verline menggenggam lengan Ana. "Ana aku akan membawa mommy ku pulang ke kota kelahirannya di Scotlandia. Aku berada di sana selama seminggu, aku mohon pada mu, urus kerjasama dengan tuan Cazandro. Aku sangat berharap banyak pada mu Ana", ucap Verline berlinang air mata. Ana bisa merasakan kesedihan atasannya itu.
Tanpa berpikir lagi Ana menganggukkan kepalanya. "Iya nona. Saya akan memastikan mendapatkan kerja sama dengan tuan Cazandro. Nona Verline tenanglah", jawab Anabelle meyakinkan.
Verline menatap Anabelle, ia memaksakan diri untuk tersenyum walaupun terlihat hambar.
__ADS_1
Setelah Verline dan keluarganya pergi dari rumah sakit, Ana baru tersadar. Gadis itu duduk di kursi yang ada di taman rumah sakit, ia berpikir tentang permintaan Verline beberapa saat yang lalu untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan Chupón Engineering.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku memberikan harapan besar pada nona Verline. Sementara aku saja kesulitan menghadapi tuan Cazandro. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Tiba-tiba Ana mengingat ucapan laki-laki itu yang memintanya datang kerumahnya mengambil buku sketsa milik nya yang ternyata ada bersama laki-laki itu. "Sebaiknya aku datang ke perusahaan Chupón Engineering lagi menemui Sean asistennya, semoga ia masih berada di perusahaan", ucap Ana sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore.
*
"Sean..!"
Anabelle memanggil dan melambaikan tangannya ketika melihat Sean masuk kedalam kantin perusahaan. Suasana di sana menjelang sore begini sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sedang menikmati makanan atau menikmati segelas minuman.
Kalau bos-nya itu pergi sendirian tanpa dirinya, biasanya bertemu dengan Samuel dan Steven teman baiknya. Sean sangat tahu akan hal itu. Karena, untuk urusan lain termasuk jika Flamini membutuhkan wanita, Sean lah yang di minta untuk menghubungi wanita itu. Tak sekalipun Flamini yang menghubungi mereka untuk menemaninya.
"Sean...kau mau minum apa? Aku yang akan mentraktir mu", ucap Anabelle menatap Sean.
"Kopi susu saja. Ada apa kau memintaku menemui mu Ana? Apa yang bisa aku bantu?", tanya Sean menatap Ana yang duduk didepannya.
"Aku membutuhkan kerjasama dengan tuan Flamini Cazandro, Sean. Bisakah kau membantuku memberikan alamat tuan Flamini padaku?"
"Bagaimana menurut mu jika aku datang kerumahnya, apa istrinya tidak akan salah paham pada ku? Hm..Bagaimana kalau kau yang menemani ku kerumahnya? please Sean bantu aku".
__ADS_1
"Aku sangat membutuhkan buku sketsa milik ku yang ada dengan bos mu itu, Sean. Aku juga membutuhkan kepastian kerjasama perusahaan, karena aku sudah janji dengan nona Verline yang sedang berdukacita karena kepergian mommy nya, Sean. Aku mohon bantuan mu... Please", ucap Anabelle menatap Sean dengan memohon. Bahkan gadis itu memohon dengan tangan di satukan didepan dadanya.
Sean menatap Anabelle. Ia menyeruput minuman nya. Kemudian menaruh nya kembali di atas meja.
Terdengar hembusan nafas Sean. "Pertama-tama kau harus tahu Ana, tuan Flamini masih lajang ia belum menikah. Saat tadi di ruangannya kau mengatakan dengan lantang tentang istrinya sebenarnya aku ingin langsung memotong ucapan mu, Ana. Tapi kau sangat mengebu-gebu ketika berbicara".
Raut wajah Anabelle seketika berubah mendengar penjelasan Sean. "Oh my God, ternyata aku salah bicara, Sean", ucapnya menyesal.
"Kau juga harus tahu, Ana. Tuan Flamini itu tidak mau kehidupan pribadinya ada yang mengusiknya. Sebenarnya kau sudah di perlakukan nya sangat istimewa Ana. Tuan Flamini langsung mau menerima mu di ruangannya dan membahas kerjasama perusahaan mu dengan perusahaannya".
"Kau juga harus tahu sebenarnya atasanku itu sangat baik di balik sikap dinginnya itu. Buktinya aku betah bekerja dengannya. Ia jarang sekali menunjukkan marahnya dengan meluap-luap. Namun saat diam seperti tadi di hadapanmu artinya ia sangat marah dan memilih untuk pergi", ujar Sean memberikan penjelasan tentang pribadi Flamini Cazandro pada Anabelle yang semakin merasa bersalah karena sikap nya tadi ketika di ruangan Flamini.
"Sean...apa yang harus aku lakukan sekarang? agar bos mu memaafkan aku? Apa aku datangi saja rumah tuan Cazandro, mengambil buku sekaligus meminta maaf padanya tentang kejadian di ruangannya tadi?", tanya Anabelle meminta pendapat Sean.
Bagi Ana tidak masalah ia meminta maaf, karena ia memang keliru. Padahal tujuan utama ia menemui Flamini yaitu membahas kerjasama dua perusahaan. Tapi dirinya malah membahas hal lainnya.
"Huh...tuan Flamini Cazandro benar mengatakan aku tidak profesional", batin Ana.
...***...
To be continue
__ADS_1