
Lizzy menaruh handphone miliknya di meja. "Kalian boleh pergi sekarang. Bayaran kalian sudah aku transfer".
Kedua laki-laki yang baru saja membaringkan tubuh Steven di atas tempat tidur menganggukkan kepalanya.
"Baik nona. Senang berbisnis dengan anda. Jika anda membutuhkan jasa kami lagi segera hubungi", ucap salah satunya sebelum pergi dari kamar hotel yang di sewa Lizzy.
Setelah orang suruhan nya pergi, Lizzy mendekati Steve yang tampak semakin gelisah. Keringat membasahi wajahnya. Sementara mulutnya mengeluarkan suara mengeram yang tertahan.
Lizzy bergabung bersama Steven di atas tempat tidur. Perlahan jemari tangannya mengusap lembut wajah, bibir dan dada bidang Steven.
Nafas Steven terdengar lebih cepat dan menderu. "Katty.. aku mencintaimu sayang", gumamnya.
Mendengar perkataan Steven membuat raut wajah Lizzy menjadi kesal. "Aku Lizzy. Aku lebih segala-galanya dari wanita itu. Kau tidak akan bisa melupakan aku setelah ini sayang. Permainan ranjang ku sudah teruji", bisik Lizzy menyapukan lidahnya pada leher Steven.
Dengan mata terpejam Steven berulang kali menyebut nama Katty dengan kata-kata cintanya.
Lizzy tidak perduli lagi apa yang diucapkan Steven dibawah alam sadarnya sekarang ini. Jemari tangan nya membuka satu persatu kancing kemeja laki-laki tak berdaya itu.
"Aku sudah sangat lama ingin merasakan tubuh mu, sayang. Bahkan di saat wanita penyakitan itu masih menjadi istri mu. Saat melihat mu masih sangat menyayangi Layla walaupun fisik nya sudah tidak menarik lagi, aku selalu menyumpahi wanita itu cepat mati. Agar aku bisa leluasa mendekati mu dan tidak ada lagi penghalang diantara kita, Steven". Lizzy mengakui isi hatinya sambil menyusuri tubuh Steven.
"Aku sangat mencintaimu". Lizzy membuka pakaiannya sendiri dan mengarahkan tangan Steven ke dadanya.
"Ahh... Katty", rintih Steven dengan mata terpejam. Sementara kepalanya bergerak dengan gelisah.
"Aku ingin merasakan milik mu sayang", ucap Lizzy dengan suara men*esah. Jemari tangan nya membelai dada Steven. "Kau sangat tampan Steven..."
Brakkk...
Pintu kamar terbuka paksa.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan pada tuan Steven?"
*
Katty merapatkan jubah tidur nya. Ia menatap jam di dinding sudah menyentuh angka satu malam.
"Kenapa Steven lama sekali. Handphone nya malah tidak aktif", gumam Katty.
Sedari tadi gadis itu menunggu kekasihnya. Bahkan ia akan menepati janjinya sebelum Steven pergi menjemput Lizzy yang sedang mabuk.
Hampir lima jam telah berlalu, namun kekasih hatinya belum juga kembali ke mansion. Timbul perasaan was-was Katty. Dan ada perasaan menyesal dalam dirinya karena ialah Steven mau pergi menjemput Lizzy.
"Di mana kau, Steve". Katty pada dirinya sendiri. Dari tadi perasaan Katty sudah tidak enak. Apalagi ketika ia mengingat semua perkataan Lizzy yang mengancam semua orang tadi sore. Ia menganggap dirinya lah yang pantas menggantikan Layla.
Katty kembali menatap jam di dinding yang terasa berdetak begitu cepat menyentuh angka-angka di dalamnya. "Berpikir lah Kat, ayo berpikir..."
Katty menggelengkan kepalanya. "Oh Tuhan aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Otak ku benar-benar blank. Apa aku datangi saja club itu?", lirih Katty dengan wajah cemas.
Drt
Drt
"Steve..!"
Katty mengambil handphone miliknya ketika terdengar panggilan. Gadis itu menghembuskan nafasnya terlihat kecewa. Ternyata bukan Steven. Tertera nomor yang tidak di kenali di layar.
Katty tidak bersemangat untuk berbicara ketika jemari tangan nya menggeser tombol hijau di layar handphone miliknya.
Katty terdiam mendengar kabar dari dari seseorang yang memberi tahu semuanya tentang apa yang terjadi pada Steven.
__ADS_1
Katty segera mengganti pakaiannya, dan segera kebawah menemui orang tua kekasihnya. Katty meminta bantuan pelayan untuk mengetuk pintu kamar Arthur dan Adeline.
Tentu saja Arthur dan Adeline kaget mendengar berita yang di sampaikan Katty dengan terinci sesuai dengan yang di dengarnya dari seseorang yang memberi tahunya tadi. Mengatakan Steven di jebak Lizzy. Dan sekarang berada di hotel dengan pengaruh obat di tubuhnya.
"Katty, mama mohon bantu Steven. Pengaruh obat itu bisa bahaya untuk Steve", ucap Adeline menggenggam erat jemari tangan Katty.
"Berikan obat ini pada Steven segera. Aku yakin putraku akan baik-baik saja. Gadis itu sudah keterlaluan. Aku melarang nya masuk kedalam keluarga ini lagi", tegas Arthur dengan wajah menahan emosi.
*
"Steve...maafkan aku tadi memintamu pergi menemui gadis itu", lirih Katty dengan penuh penyesalan.
Jemari tangannya mengusap peluh yang membasahi wajah kekasihnya itu.
Katty sudah membantu Steven meminum obat yang di berikan Arthur padanya.
Steven menatap Katty. Ia duduk bersandar di atas tempat tidur. Meskipun masih dipengaruhi obat perangsang, namun Steven sudah mendapatkan kesadaran nya.
"Sayang bantu aku". Steven menarik tangan Katty duduk dipangkuan nya. Ke duanya bertatapan dengan perasaan mendalam. Katty mendekatkan bibirnya pada bibir Steven. Tanpa ampun Steven melahapnya dengan rakus.
Ibarat laki-laki yang sudah lama berlayar di tengah lautan lepas, Steven sangat buas. Ia bahkan lupa jika bercinta adalah yang pertama bagi Katty. Pengaruh obat itu masih ada, meskipun sebagian ingatannya kembali pulih. Namun hasrat dalam dirinya masih begitu besar.
Steven nampak terburu- buru bahkan tangannya menarik paksa pakaian Katty. "Sayang maafkan aku aku tidak bisa menahannya lagi. Obat terkutuk itu benar-benar sialan".
Katty membingkai wajah kekasihnya. "Lakukanlah. Aku siap sekarang..."
...***...
To be continue
__ADS_1
Siapa orang yang bantu Steven ya? Penasaran nggak?