
London
Calista sedang membaca buku tentang persalinan normal di kamarnya. Wanita itu duduk di sofa sambil meluruskan kedua kakinya. Jika memungkinkan Calista sangat ingin melahirkan normal. Merasakan menjadi wanita seutuhnya.
Tiba-tiba handphone miliknya berbunyi. Calista tersenyum melihat nama suaminya dilayar handphone.
"Sayang...Kau sedang apa?", tanya Samuel pada istrinya.
"Membaca buku sambil menikmati cemilan dan buah anggur hijau kesukaan ku", jawab Calista tersenyum manja memperlihatkan buku juga cemilan di atas meja pada Samuel.
Samuel tersenyum melihatnya. Akhir-akhir ini Samuel memang semakin intens menghubungi istrinya, apa lagi Calista hanya tinggal menunggu hari nya saja melahirkan anak mereka.
"Hari ini aku pulang agak terlambat. Ada meeting dengan rekan kerja di perusahaan ku. Aku usahakan secepatnya pulang", ucap Samuel.
"Iya sayang. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Oh ya, apa kau menginginkan makanan istimewa malam ini, Sammy? Aku akan meminta Gema membuatnya untuk mu".
"Tidak perlu. Aku pasti akan memakan apapun yang sudah di masak Gema, Cali".
"Hm... bagaimana kalau puding buah kiwi kesukaan mu sayang? Aku akan membuat nya untuk mu", ucap Calista.
Samuel tidak menjawab pertanyaan istrinya. Di layar handphone Calista melihat Owen masuk ruangan suaminya dan berbincang sesaat.
"Sayang...Aku sudah di tunggu di ruang meeting sekarang. Sampai jumpa makan malam nanti", ucap Samuel hendak memutuskan panggilan telepon.
"Iya sayang. Aku akan menunggu mu, kita makan malam bersama. I love you so much, honey".
"I love you too", jawab Samuel memberikan kecupan di layar handphone miliknya.
Masih terlihat tersenyum bahagia di wajah Calista walaupun Samuel sudah memutus panggilan telepon.
"Kau sangat beruntung sayang, memiliki daddy yang sangat perhatian". Calista mengusap lembut perutnya yang sudah sangat besar dan sedikit turun.
__ADS_1
"Owh sayang...kau merespon mommy", teriak Calista ketika merasakan gerakan di perutnya. Rona bahagia nampak jelas dari wajah Calista.
"Karena daddy sangat perhatian pada kita, bagaimana kalau sekarang kita membuat puding buah kesukaan daddy?", ucap Calista sambil berdiri dari sofa keluar kamarnya.
"Selamat sore nona, apa nona memerlukan sesuatu. Biar saya ambilkan", sapa seorang pelayan yang sedang membersihkan kamar bayi.
"Tidak perlu Kiera. Aku ingin membuat puding kesukaan suamiku di pantry. Kau lanjutkan saja membersihkan kamar anak ku di bagian dalam", jawab Calista dengan hangat.
"Baik nona", jawab pelayan bernama Keira itu, masuk ke dalam kamar yang di persiapkan untuk bayi perempuan.
Sementara jika bayinya lahir laki-laki, akan menempati kamar yang di nominasi warna biru tepatnya di sebelah kamar yang di nominasi berwarna merah muda.
Calista menuju lift yang ada di mansion tersebut. Tapi ketika Cali menekan tombol, pintunya tidak mau terbuka.
"Sepertinya liftnya macet". Tanpa pikir panjang Calista memilih turun menggunakan tangga.
Setelah menuruni sekitar enam anak tangga, Calista tidak menyadari karpet yang menghiasi anak tangga itu terlipat sehingga membuat kakinya tersandung.
Calista berteriak keras.
Keira yang berada di dalam kamar atas dan Gema serta pelayan lainnya kaget mendengar teriakkan majikan mereka.
Teriakan Calista terdengar, Gema dan dua pelayan yang sedang berada di pantry. Semuanya berlarian.
"Oh Tuhan, nona Calista. Apa yang terjadi?". Gema sangat terkejut melihat Calista tertelungkup di lantai. Sementara darah segar terlihat membasahi paha Calista hingga menetes ke lantai.
"Siapkan mobil", teriak Gema menjerit-jerit panik. "Oh my God sayang bertahanlah nak. Oh Tuhan lindungilah nona Calista dan bayinya", ucap Gema panik.
Begitu pun dua pelayan lainnya begitu panik, mereka segera memanggil sopir untuk menyiapkan mobil membawa Calista ke rumah sakit terdekat.
Sesaat Calista menatap Gema. Wajahnya begitu pucat sementara bibirnya meringis. "G-ema...bantu anakku, selamat A-nakku", lirih Calista pelan dan terbata-bata. Kemudian matanya terpejam.
__ADS_1
"Oh Tuhan. Bertahanlah nona, kita ke rumah sakit sekarang". Gema berlari masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Calista yang sudah tak bergerak dan merespon apapun lagi.
Gema tidak tahu apa yang terjadi sekarang pada Calista. Namun hatinya mengatakan kondisi majikannya itu sangat tidak baik.
*
Samuel sedang fokus mendengarkan presentasi yang disampaikan rekan kerjanya di ruang meeting.
Ruangan berkapasitas luas tersebut penuh peserta rapat dari dua perusahaan besar yang melakukan kerja sama.
Owen yang berdiri tepat di belakang bos-nya, segera keluar ruangan begitu menerima panggilan telepon dari mansion Samuel.
Beberapa saat kemudian, Owen kembali masuk keruangan meeting dengan wajah serius. Membisikkan berita penting pada Samuel.
Kabar yang di sampaikan Owen sontak saja membuat Samuel panik bukan kepalang. Laki-laki itu tidak perduli sedang dimana ia sekarang. Samuel berlari keluar ruangan meeting tanpa mengucapkan sepatah katapun pada orang-orang di sana yang menatapnya.
"Mohon maaf tuan William...tuan Samuel mendapatkan musibah saat ini", ujar Owen menjelaskan secara singkat pada rekan kerja Samuel.
*
"Apa yang terjadi pada istri ku, Owen?", tanya Samuel ketika sudah di dalam mobilnya.
"Nona Calista jatuh dari tangga tuan, dan mengalami pendarahan hebat. Saat ini sudah di tangani dokter kandungan. Dokter menunggu persetujuan tuan, nona Calista harus segera di operasi".
"Oh my God, Calista. Kenapa kau ada di tangga itu", ucap Samuel bergumam sambil mengendur kan dasinya.
"Bisa tidak kau mengendarai mobil ini dengan cepat, hah!", teriak Samuel pada sopirnya.
"Tolong istri dan anak ku, Tuhan". Perasaan panik, kuatir begitu menguasai Samuel saat ini.
...***...
__ADS_1