
Anabelle mengikuti meeting bersama Verline dan petinggi perusahaan. Ia dan karyawan magang yang terpilih dari divisi masing-masing duduk di samping atasan mereka.
Bukan tanpa alasan kenapa Anabelle di pilih Verline atasannya untuk mendampinginya menangani proyek yang akan dikerjakannya jika berhasil mendapatkan kerja sama kali ini dengan perusahaan penting. Verline kagum dengan kemampuan mendesain Anabelle yang di lihatnya sudah sangat memenuhi syarat. Layaknya seperti seorang yang sudah profesional. Anabelle juga di rekomendasikan oleh sepupu Verline yang merupakan teman baik Anabelle.
Perusahaan desain interior itu sebenarnya milik kakak Verline, namun Verline lah yang lebih banyak bertanggungjawab dan memegang peranan penting di perusahaan tersebut.
Setelah mengikuti rapat satu jam lebih meeting pun berakhir.
"Ana, kita bersiap untuk pergi ke perusahaan klien penting kita. Kau harus membuktikan kemampuan diri mu di proyek ini. Jika kau berhasil, aku janji langsung mengangkat mu menjadi karyawan tetap di perusahaan ini", tegas Verline.
"Baik nona Verline. Aku akan bekerja sebaik mungkin dan janji tidak akan mengecewakan mu, nona", jawab Anabelle bersemangat.
"Good. Sekarang bersiaplah. Sebentar lagi kita pergi".
Anabelle menganggukkan kepalanya. "Baik nona", jawabnya Anabelle sambil menyusun berkas-berkas dihadapan nya.
Sesaat kemudian...
__ADS_1
"Nona Verline, maaf..."
"Ada apa Dona, kenapa kau tergesa-gesa begitu. Cepat katakan, kita harus ke perusahaan klien penting kita", ujar Verline menatap asisten Dona.
"Nona harus ke rumah sakit sekarang, mommy nona dilarikan ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung", jawab Dona cepat.
"Apa?"
"Nyonya Carry dilarikan ke rumah sakit. Marco asistennya menghubungi saya barusan".
"Oh my God. Bagaimana ini, kenapa harus sekarang, mommy. Aku sedang sibuk sekali dengan proyek ini, Dona", ucap Verline dengan suara lirih. Meminta pendapat asisten nya.
"Maaf nona Verline jika saya lancang. Jika nona percaya pada saya, saya bisa menemui klien penting anda nona. Saya janji tidak akan mengecewakan anda, saya akan mendapatkan proyek ini, seperti yang nona instruksikan", ucap Anabelle meyakinkan.
Verline dan Dona bertukar pandang. Verline nampak sedang berpikir tentang ucapan Anabelle. Ia yakin dengan kepintaran gadis itu. Namun untuk menghadapi klien penting nya kali ini, jujur Verline masih ragu karena kemampuan Anabelle belum teruji.
Drt
__ADS_1
Drt
"Marco kembali menghubungi, nona. Apa yang harus saya katakan?"
"Katakan aku akan ke rumah sakit sekarang!", jawab Verline cepat.
"Ana, bisakah aku percayakan klien penting ini pada mu? Aku tidak mau klien ku ini lepas", ucap Verline menatap Anabelle setengah memohon.
"Tentu saja nona Verline. Saya akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan membuat mu kehilangan kerjasama penting ini".
"Tapi kau harus sabar menghadapi pemilik perusahaan itu, Ana. Ia laki-laki yang sangat sulit. Jika kerja mu tidak sesuai keinginannya ia tak segan memutus kontrak kerjasama", ucap Verline memberikan penjelasan sekilas tentang klien yang di hadapi Ana nanti.
"Saya mengerti nona. Nona Verline tenang saja, saya adalah pekerja yang tahan banting. Saya sudah biasa menghadapi pria tua yang arogan karena ingin mendapatkan hasil yang baik, nona", ucap Anabelle tersenyum.
Verline dan Dona bertatapan. Keduanya menatap miris Ana yang nampak biasa saja.
"Donna sebaiknya kita pergi sekarang. Ana segera kabari aku apa pun hasilnya pertemuan mu nanti. Aku harap kau menepati janjimu akan mendapatkan proyek penting ini!"
__ADS_1
...***...