
Puncak acara pernikahan Steven dan Katty telah berlalu. Kedua nya telah resmi menjadi pasangan suami-istri.
Saat ini Katty dan Steven sedang berdansa di iringi musik syahdu dengan lampu-lampu yang sengaja di buat menjadi temaram menambah suasana romantis di ballroom hotel berbintang itu.
Pada akhirnya tamu undangan yang memiliki pasangan pun turun berdansa dengan pasangan nya masing-masing.
Mengingat Calista sedang hamil besar, Samuel tidak mengajaknya berdansa. Begitu juga Flamini yang tidak memiliki pasangan malam ini. Ketiganya tetap duduk di kursi masing-masing sambil melihat beberapa pasangan yang berdansa dengan romantis tak kalah dengan kedua mempelai yang sedang berbahagia.
Namun tidak untuk Flamini. Sorot mata abu-abu milik laki-laki itu menatap tajam sosok wanita yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Yaitu Anabelle Patricia yang saat ini juga ikut berdansa dengan laki-laki paruh baya yang memeluk pinggang gadis itu dengan mesranya. Saat mengetahui Ana ada juga di antara tamu undangan pernikahan Steven dan Katty, tak barang sedetikpun Flamini mengalihkan perhatiannya dari gadis itu.
Bahkan Flamini melihat bagaimana Ana tertawa bahagia membalas pelukan laki-laki tua itu.
Flamini mengendur kan simpul dasi kupu-kupu nya yang terasa mencekik lehernya. Dada Flamini bergemuruh kencang menahan emosi dalam dirinya yang ingin meledak saat ini juga. Namun akal sehatnya masih ada. Ia menahan diri. Tentu saja Flamini tidak akan merusak hari bahagia temannya Steven dan Katty yang juga dekat dengan nya setelah menjadi kekasih Steven.
Sean kembali berbisik di telinga Flamini. Dan Flamini membalasnya dengan anggukan kepalanya.
"Sam, di sini gerah sekali aku keluar sebentar", ucap Flamini pada Samuel.
"Iya", jawab Samuel singkat tanpa curiga sedikitpun. Sementara Calista masih menikmati suasana romantis dari pasangan-pasangan yang berdansa di iringi lagu Fall Again yang dibawakan oleh penyanyi papan atas, Glenn Lewis.
Dengan sorot mata membendung amarah, Flamini menatap Sean sekilas yang masih berbincang dengan Owen, dan Sean pun membalas dengan sorot matanya menatap ke sebuah arah. Flamini mengikuti arah mata asistennya itu.
__ADS_1
Dengan langkah santai Flamini mengikuti kode yang diberikan Sean. Wajahnya terlihat seperti biasa saja namun hatinya saat ini benar-benar ingin meledak dan meluapkan amarahnya itu.
*
Ana mencuci tangannya di wastafel toilet wanita. Ia juga merapikan rambut hitam bergelombang yang di tata menyamping di satu sisi bahunya. Gadis itu terlihat cantik dan seksi menggunakan Bardot dress berwarna maroon dengan model off-shoulder yang dilengkapi dengan lengan di bawah bahu.
Ada dua orang wanita di sana juga yang sedang merapikan riasan wajah mereka.
Ana tersenyum melihat keduanya.
"Ana...kapan kau akan menyusul Katty ke pelaminan? Kakak mu sangat beruntung sayang, ia menikah dengan dokter Steven Morgan yang tampan dan memiliki berkarir yang bagus", ucap salah satu di antara dua wanita yang sudah cukup berumur.
"Iya bibi Ellie. Aku akan melanjutkan sekolah master dulu", jawab Anabelle.
"Baiklah sayang semoga cita-cita mu tercapai dan sukses seperti kakak mu Katty", jawab Ellie mengusap wajah cantik keponakannya Anabelle.
Setelah Ellie dan Loretta keluar toilet, hanya ada Anabelle sendirian di sana. Gadis itu membelakangi pintu ia tidak menyadari seseorang sudah masuk dan mengunci pintu tersebut.
"Ternyata kau sama saja dengan wanita di luaran sana Anabelle Patricia!"
"Aku pikir kau gadis berbeda. Dengan wajah polos mu itu kau pikir bisa membohongi ku hah? Kau pura-pura marah saat malam itu aku cium. Sekarang lihatlah siapa yang dirimu ini. Wanita murahan yang berhubungan dengan laki-laki tua yang tak pantas untuk mu!"
__ADS_1
Anabelle kaget tiba-tiba mendengar dan melihat Flamini berdiri dibelakangnya. Belum sempat ia menjawab perkataan sarkas Flamini karena rasa kagetnya, tiba-tiba Flamini membalikkan tubuh Anabelle menghadap nya.
Tangan kokoh Flamini menarik dengan kasar tengkuk Anabelle dan mencium bibir gadis itu dengan kasar pula.
Anabelle terkejut. Ia tidak menyangka Flamini akan berbuat seperti itu pada nya. Ia di serang Flamini yang sudah kalaf.
Sekuat tenaga Anabelle memberontak memukul dan menendang Flamini. Namun apalah arti tenaganya di banding Flamini yang bertubuh atletis dan sangat kuat. Dengan amarah yang membuncah Flamini semakin bertindak kasar ia mendorong tubuh Anabelle hingga ke dinding toilet, sementara kedua tangan gadis itu di cengkram dengan tangan kirinya keatas kepala yang menempel ke dinding.
Terdengar suara mendesis Anabelle. Gadis itu sekuat tenaga memberontak menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tindakan Ana semakin memancing amarah Flamini yang masih kian membuncah.
Tangan kanan Flamini kian menekan kuat tengkuk Anabelle. Penolakan Anabelle, membuat dirinya semakin tertantang. Flamini semakin bertindak jauh, ia menggigit bibir Anabelle agar gadis itu membuka mulutnya.
Suara mendesis dari mulut Ana kian terdengar. Ia terus memberontak sekuat tenaga, sampai tenaganya habis.
Air mata Ana tak terbendung lagi. Isakan tangisnya pun tak di hiraukan Flamini yang kian menghimpit tubuh nya ke dinding toilet.
"Akan aku tunjukkan pada mu siapa Flamini Cazandro, jika kau main-main dengan ku Anabelle Patricia! Aku sangat membenci wanita munafik seperti dirimu ini!!"
...***...
To be continue
__ADS_1