
Keesokan harinya..
Anabelle membuka matanya perlahan, dan tersenyum bahagia melihat suaminya masih tertidur pulas.
Ana merasakan tubuhnya seakan remuk karena Flamini memintanya lagi dan lagi. Keduanya baru bisa benar-benar memejamkan mata di saat fajar. Terlelap dan berpelukan mesra dalam keadaan lelah.
Anabelle tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat ini saking bahagianya.
Ia tersenyum sambil mengangkat jarinya, melihat cincin pernikahan dan cincin berlian pemberian suaminya seminggu yang lalu.
Anabelle bangkit dari tempat tidur mengambil kemeja dalaman tuxedo Flamini semalam dan memakainya. Sambil memasang kancing alakadarnya, Ana menatap suaminya. Ana mengambil selimut tebal yang teronggok di lantai akibat pergumulan mereka semalaman dan menyelimutkan ke tubuh polos Flamini. Mengecup lembut bibir laki-laki itu
"Aku mencintaimu kak", bisiknya.
Flamini yang sebenarnya sudah bangun sedari tadi tersenyum mendengar ungkapan rasa Anabelle. Flamini menarik tubuh Ana hingga berada di atasnya.
"Katakan lagi, apa yang kau ucapkan tadi. Aku tidak mendengarnya".
Ana melebarkan kedua matanya. "Kak, ternyata kau sudah bangun?"
"Dari tadi saat kau melihat cincin mu itu aku sudah bangun", jawab Flamini sambil menyibakkan rambut Istrinya, mengecup leher jenjang yang banyak tanda merah ulahnya semalam.
"S-ayang hentikan, aku belum membersihkan tubuh ku. Lengket semua".
"Kita berendam sekarang", jawab Flamini bangkit dari tempat tidurnya. Tanpa mendengar jawaban Ana, ia menggendong tubuh istrinya.
"Kak, apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Membantu mu ke kamar mandi", jawab Flamini melingkarkan kaki Anabelle pada pinggangnya yang polos tak tertutup sehelai benang pun. Sementara Ana spontan melingkarkan tangannya pada leher Flamini. Keduanya bertatapan mesra sebelum menyatukan bibir. Flamini dan Ana berciuman mesra dengan nafas terdengar menderu. Saling menyerang hingga dalam.
Hingga terdengar suara merdu dari mulut Laura.
"Akh.."
Selalu saja, Anabelle tidak bisa meredam suara itu.
Flamini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tanpa melepaskan tautan bibir keduanya saling memburu. Seperti enggan melepaskan, bukannya menuju bathtub namun Flamini menghimpit tubuh Ana kedinding di bawah shower. Flamini membuka paksa kancing kemeja miliknya dari tubuh istrinya tanpa ampun langsung meraup kedua gunung kembar yang berdiri menantang di depan wajahnya. Bergantian meremas dan menghisapnya dengan rakus.
Tindakan Flamini sontak membuat Anabelle mengelijang dan mengeluarkan suara mendesis nikmat.
Flamini tak henti membuat Ana melenguh, merasakan sensasi buaian suaminya itu.
"Akh sayang.."
"Lupakan saja. Tidak ada waktu mengisi airnya. Milikku ingin memasuki mu lagi", bisik Flamini dengan suara serak. Tangannya menghidupkan shower. Seketika air dingin membasahi tubuh keduanya yang sudah memanas, berbarengan milik Flamini menerobos masuk ke inti Ana. Untuk yang pertama Flamini memasuki nya sambil berdiri.
Anabelle merasakan hal yang berbeda. Ini yang pertama kali baginya. Ia merasakan bercinta dengan cara seperti itu. Ana melingkarkan tangannya pada leher Flami yang sudah menghentak miliknya dari bawah.
"Ah Anabelle, kau sangat nikmat sayang".
Ana memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan hasrat dan gairah yang membuncah dalam dirinya.
Keduanya basah kuyup oleh guyuran air bercampur keringat yang membanjiri tubuh.
Hingga terdengar jeritan-jeritan indah memenuhi kamar mandi mewah yang menjadi saksi bisu betapa liarnya Flamini dan Anabelle saat bercinta.
__ADS_1
*
Calista sedang memberikan ASI-nya pada Gilbert. Ketika Samuel masuk ke kamar putranya itu.
"Wah ternyata kau sudah mendapatkan jatah mu, boy", ujar Samuel sambil mengusap lembut wajah anaknya dan mengecup bibir istrinya.
"Anak dan bapak sama saja. Selalu saja kelaparan. Kalian berdua seperti kembar, tapi beda usia", seru Calista menatap Samuel yang tertawa.
Sementara Gilbert sudah pulas tertidur di pangkuan Calista masih menghias milik nya. Calista perlahan mencabutnya.
"Sekarang giliran ku", goda Samuel di telinga istrinya.
"Sammy hentikan, jangan menggoda ku. Sekarang aku ingin berenang. Aku ingin segera mengembalikan bentuk tubuh ku. Tentu saja aku tidak mau, kau menatap wanita lain karena perubahan bentuk tubuh ku", ujar Calista menutup tirai tempat tidur Gilbert.
"Hei...siapa yang akan tergoda dengan wanita lain, hem? tentu saja tidak akan. Aku sudah memiliki istri yang sempurna. Dan aku menyukai tubuh mu sekarang, Cali", jawab Samuel memeluk Calista dari belakang.
"Benarkah sayang?", tanya Calista masih sangsi.
"Tentu saja. Buat ku wanita yang rela berkorban untuk anaknya adalah wanita istimewa. Bahkan aku sangat beruntung memiliki mu, Calista. Kau mau memberikan ASI eksklusif pada anak kita. Jadi jangan pernah berbicara yang tidak-tidak. Memang tidak di pungkiri banyak laki-laki seperti yang kau maksud, tapi itu bukan suami mu. Kau mengerti, hem?"
Calista tersenyum mendengar perkataan Samuel. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya dan mengusap lembut lengan Samuel. "Aku senang mendengarnya, Sammy. Hm...kalau begitu aku akan makan cokelat dan es krim kesukaan ku setiap hari".
Samuel mengecup wajah berisi Calista. "Tentu saja kau bisa memakannya sesukamu, Cali".
...***...
To be continue
__ADS_1