
"Nona Calista, anda harus makan sekarang. Ingat... sekarang nona sedang hamil muda".
Tidak ada jawaban. Calista hanya diam seperti semula. Dengan tatapan kosong menatap keluar jendela kamarnya. Wajahnya terlihat pucat dengan syal tebal membalut leher.
Banyak sekali perubahan yang nampak pada diri Calista setelah kejadian sebulan yang lalu. Calista selalu murung dan enggan bicara. Hanya tetesan air mata yang selalu nampak di wajahnya yang dulu selalu berbinar cerah kini hanya tersisa kemurungan dan terlihat sendu.
Sebulan yang lalu setelah semua rahasianya terbuka, Samuel sangat membencinya. Kata-kata Samuel selalu tengiang-ngiang di telinga Calista hingga kini.
*Ternyata kau seorang pembunuh!
Kau melakukan kejahatan yang tak termaafkan. Kau harus di penjara. Aku sangat membenci mu Calista Naomi Justin! Aku mengutuk pertemuan ku dengan mu di malam itu. Kau wanita munafik dan pembohong yang tidak pantas mendapatkan jantung Amber. Setiap detak jantung itu tidak pantas untuk kau nikmati!*
Kata-kata ketus Samuel saat itu benar-benar membuat hati Calista hancur. Tidak ada gunanya lagi ia menjelaskan apapun karena Samuel tidak akan percaya padanya. Tidak ada lagi gunanya Calista memohon pada suaminya, karena Samuel begitu membencinya.
__ADS_1
Hati Calista semakin menangis pilu saat mengetahui ternyata ia hamil, anak Samuel. Laki-laki yang benar-benar dicintai dan dipujanya. Tapi begitu sulit untuk digapai karena hati Samuel sepenuhnya hanya untuk Amber.
Samuel mengatakan dengan tegas, bahwa dirinya tidak sebanding dengan Amber.
Kala itu Calista tidak merasakan sakit tubuhnya, walaupun Samuel mencengkram dengan kuat lehernya. Namun kata-kata Samuel lah membuat Calista menangis hingga kini. Kata-kata itu bak pisau bermata tajam yang menghunus jantungnya. Ya.. lebih tepatnya jantung Amber. Anggap lah Calista hanya raga bernyawa karena bantuan Amber. Jika Amber tidak mendonorkan jantungnya saat itu, kemungkinan Calista sudah tinggal nama saja di dunia ini.
Bagi Calista semua ucapan Samuel yang ditujukan padanya adalah benar. Karena Calista lah Amber meninggal, tetapi karena Amber lah Calista bisa bertahan hidup hingga sekarang.
*
"Masih seperti yang lalu. Hanya melamun dengan tatapan kosong dan menangis dalam diam", jawab Katty pada Bianca teman Calista sekaligus ibu tirinya.
Sebulan yang lalu, Calista pergi dari London. Calista memutuskan untuk tinggal di Swiss bersama ayahnya dan keluarganya. Yang ada dipikiran Calista saat itu, ia harus pergi yang jauh dari Samuel dan London yang lagi-lagi meninggalkan luka mendalam baginya.
__ADS_1
Yang ada di pikiran Calista hanya ayahnya dan adik-adiknya agar bisa mengalihkan kepedihan hatinya. Namun nyatanya Calista tidak bisa melupakan Samuel begitu saja. Semakin hari perasaan Calista semakin tersiksa, ia merasakan kerinduan yang mendalam pada suaminya. Ditambah kondisi nya sedang hamil muda yang sangat membutuhkan perhatian suaminya. Namun nyatanya Calista harus memendam rasa kerinduan tersebut seorang diri. Apalagi ketika malam datang, Calista hanya bisa meratapi nasibnya. Perasaannya begitu mendambakan Samuel. Seandainya bisa, Calista cukup meminjam jemari tangan kokoh itu untuk mengusap perutnya. Membelai agar hatinya tenang dan anaknya pun bisa merasakan kasih sayang ayahnya.
Flashback Katty..
Awalnya Katty begitu panik mencari keberadaan Calista, ia memerintahkan orang sewaan untuk mencari keberadaan bos-nya itu, hingga seminggu kemudian ia dikejutkan dengan suara Calista yang menghubunginya melalui handphone dengan nomor yang tidak dikenalnya. Calista memerintahkannya untuk mengajukan cuti dari pekerjaan di kantor agar tidak ada yang curiga. Kemudian Calista meminta Katty segera terbang ke Swiss menyusulnya. Hingga kini Katty setia menemani Calista, merawat atasannya itu dengan baik dan memperhatikan asupan gizi untuk Calista serta kandungannya.
Saat tiba di Swiss, Katty menceritakan semuanya pada Calista bagaimana paniknya Samuel, ketika mengetahui Calista menghilang bak ditelan bumi.
"Aku dan Samuel di takdir kan untuk bertemu tapi tidak ditakdirkan untuk bersama", jawab Calista sebulan yang lalu. "Jika Kami jodoh pasti akan segera dipertemukan lagi. Meskipun aku tidak yakin akan hal itu, karena Samuel tidak akan pernah bisa melupakan tunangan nya Amber. Cintanya untuk Amber begitu kuat. Kehadiran ku, tidak ada artinya sama sekali", lirih Calista kala itu.
Flashback end
...***...
__ADS_1
To be continue