
Samuel terlihat sangat gelisah. Ia tidak bisa tenang sama sekali. Menunggu Calista yang saat ini sedang di operasi dalam keadaan tidak sadarkan diri membuatnya begitu cemas.
Sudah beberapa jam berlalu tapi lampu emergency di depan pintu ruang operasi masih menunjukkan tanda merah. Samuel mengusap wajahnya dengan kasar, duduk di ruang tunggu tepat berada di hadapan pintu tersebut.
"Oh my God, bantu aku. Selamat kan Calista dan anakku", ucapnya sambil menatap lampu merah yang masih menyala di atas pintu ruang operasi.
Saat ini langit sudah menggelap, jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Beberapa saat yang lalu setelah mendengar penjelasan dokter Brenda, akhirnya Samuel menyetujui segera melakukan operasi Caesar. Mengingat jika terlambat mengambil keputusan untuk mengeluarkan anak nya bisa berakibat fatal kepada jabang bayi yang di ada diperut Calista maupun untuk keselamatan nya.
Team dokter saat ini berjuang membantu kelahiran anak Samuel dan Calista.
Sedangkan beberapa saat yang lalu dokter Brenda mengatakan kondisi Calista begitu lemah.
Sementara Samuel dihadapkan dengan dua pilihan yang harus segera ia putuskan. Hanya ia yang bisa memutuskan, mengingat ia sebagai suami juga ayah jabang bayi yang di kandung pasien.
Brenda mengatakan jika terlambat bisa berdampak buruk kepada anak mereka yang beberapa saat lalu dinyatakan masih bisa di selamatkan jika segera di keluarkan dari perut sang ibu. Samuel bisa kehilangan keduanya jika terlambat mengambil keputusan.
Masih sangat jelas dalam ingatan Samuel ucapan dokter Brenda beberapa jam yang lalu yang menyatakan peluang hidup calon anak nya lebih besar di bandingkan istrinya. Samuel juga mengingat permintaan Calista saat sadar sebelum matanya tertutup siang tadi, meminta untuk menyelamatkan anak mereka.
Dengan mata berkaca-kaca dan berat akhirnya Samuel memutuskan untuk segera melakukan operasi Caesar menyelamatkan anaknya. Dengan konsekuensi istrinya akan mengalami kondisi koma bahkan kritis pasca operasi nanti.
"Tenangkan diri mu, Sam. Kau sudah mengambil keputusan dengan tepat. Sekarang serahkan semuanya kepada sang pencipta", ucap Steven yang setia menemani Samuel di rumah sakit bersama istrinya Katty.
Samuel tampak begitu sedih menerima kenyataan yang akan terjadi setelah ini. Diruang tunggu juga ada Justin ayah Calista yang segera terbang menuju London begitu mendengar putri kesayangannya itu mengalami incident yang membuatnya sangat kuatir.
Justin pun tak sanggup membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Namun ia mendukung keputusan Samuel karena Justin mendengar juga penjelasan dokter Brenda. Air mata laki-laki paruh baya itu pun tak hentinya menetes di pelupuk matanya. Saat ini ia duduk di samping Aniston mama Samuel yang juga bersikeras tetap berada di rumah sakit sampai operasi selesai.
Diruang tunggu, nampak jelas terlihat wajah-wajah berduka Samuel dan keluarga nya.
Tak lama berselang, Flamini datang dan segera menghampiri sahabat baiknya itu. Memberikan support untuk Samuel dan keluarga nya.
__ADS_1
"Sam... aku membawa kan makanan, sebaiknya kau makan lah dulu. Ingat kau juga harus memperhatikan kesehatan mu", ucap Flamini.
"Iya Sam, makanlah dari tadi kau belum makan apapun", ujar Steven. Bahkan Samuel masih memakai pakaian siang tadi. Temannya itu tidak mau beranjak sedikit pun meninggalkan istri nya yang sedang di operasi.
Samuel menarik nafas dalam-dalam, sambil memijat keningnya.
"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan jika terjadi apa-apa pada istri ku. Aku pasti akan menyalahkan diriku", gumam Samuel pelan. Samuel tak henti memijat keningnya.
"Itu bukan kesalahan mu, Sam. Brenda sudah menjelaskan tadi kau harus segera mengambil keputusan secepatnya karena bisa saja kau kehilangan kedua nya.
"Iya...", jawab Samuel.
Dengan mata berkaca-kaca Samuel mengalihkan pandangannya saat melihat dokter Brenda keluar dari ruangan operasi.
Samuel segera beranjak dari tempat duduknya menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan istri dan anak ku, dok?"
"Kami berhasil menyelamatkan bayi tuan. Berjenis laki-laki".
"Tapii..
Wajah dokter Brenda berubah menjadi tegang. Samuel sadar pasti ada sesuatu hal yang terjadi pada istrinya didalam.
"Cepat katakan! Aku siap mendengarkan dan menerima apapun itu". Terdengar suara Samuel meninggi.
Aniston dan Justin yang melihat anak nya tidak dapat mengontrol dirinya, segera mendekati dan menenangkan nya. Sambil memeluk pundak anaknya yang nampak frustasi Aniston memeluk Samuel.
"Seperti perkiraan di awal, istri tuan mengalami pendarahan hebat mengakibatkan kondisinya saat ini kritis".
"Dokter...bantu aku, selamatkan istriku", seru Samuel dengan suara tercekat dan bergetar.
__ADS_1
"Kau harus tenang Sam", ucap Steven turut sedih dan prihatin melihat keadaan sahabatnya itu.
Sementara Aniston dan Katty tidak bisa menahan diri lagi sudah berlinang air mata, saling berpelukan dengan terisak.
"Sam kau harus kuat, anak mu yang baru lahir membutuhkan mu", ujar Flamini sambil memeluk sahabatnya itu yang begitu syok setelah mengetahui keadaan istrinya.
"Saya, banyak menangani kasus seperti yang dialami nona Calista. Bukan tidak ada kemungkinan untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Dengan support yang keluarga berikan pada pasien bisa sembuh total, mengingat usia nona Calista masih tergolong muda. Masih ada sesercah harapan", ucap Brenda memberikan semangat untuk Samuel dan keluarga nya.
"Sebaiknya kita lihat putri mu yang baru lahir nak", lirih suara Aniston memeluk putra kesayangannya.
Bahkan Samuel melupakan bahwa anak nya telah lahir ke dunia, seorang bayi laki-laki sebagai perlengkap kebahagiaan ia dan keluarga nya.
Samuel mengangguk kan kepalanya, ia dan keluarganya menuju ruang bayi khusus yang disewa Samuel khusus tempat bayinya selama di rawat di rumah sakit ini dengan penjagaan ketat beberapa perawat.
Tiba di depan ruangan dimana bayi Samuel dan Calista berada, Samuel dan keluarga nya belum boleh masuk ruangan karena bayi mungil itu masih dalam perawatan intensif. Sang bayi masih ditempatkan di dalam inkubator, tentu membutuhkan ruang yang higenis. Menghindari terkontaminasi dari virus yang bisa menyebabkan kondisi bayi semakin menurun.
Samuel dan keluarga hanya diperbolehkan melihat melalui kaca besar. Sebagai pembatas.
Di ruangan itu ada beberapa perawat dengan pakaian lengkap yang akan selalu memantau kondisi bayi.
Samuel tidak bisa menahan rasa haru. Terlihat beberapa kali Samuel mengusap air mata melihat kondisi bayi mungil miliknya terpasang beberapa jarum ditubuh kecil itu. Bahkan untuk bernafas pun anak nya nampak kesulitan dan harus di pasang alat bantu yang menutupi wajahnya.
Samuel menaruh kelima jari nya di kaca penghubung antara ia dan putranya, seakan ingin menggapai tubuh mungil itu dan mengajak nya berbicara.
"Sayang...bertahan lah. Daddy akan berusaha semampu nya agar kau dan mom baik-baik saja. Kita akan pulang ke rumah bersama-sama", bisik Samuel pelan dan begitu pasrah. Sementara air mata tak bisa di tahan lagi. Wajah tampan itu terlihat begitu sendu kacau.
Samuel menangisi kondisi istri dan anaknya yang saat ini tergolek lemah tak berdaya.
...***...
To be continue
__ADS_1