
Ternyata letak AVA Farm cukup jauh dari pusat kota. Hampir satu setengah jam lebih berkendara tapi Ana dan Flamini belum sampai juga.
"Kita mampir ke rest area dulu, aku ingin minum kopi", ucap Flamini sambil membelokkan mobilnya dan berhenti di tempat parkir cafetaria.
"Apa perjalanan kita masih panjang?", tanya Ana sambil melepaskan seat belt.
"Iya masih sangat panjang. 10 jam lagi", jawab Flamini menggoda Ana yang langsung melototkan kedua matanya menatap tajam Flamini.
"Kau menggoda ku, kak?", seru Ana memukul lengan Flamini.
Laki-laki itu tertawa lepas sambil masuk ke dalam cafetaria yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman sebagai tempat beristirahat setelah cukup lama berkendara.
"Tidak apa-apa aku menyetir lama-lama, asalkan kau menemaniku", seloroh Flamini mendekatkan wajahnya pada telinga Anabelle.
"Gombal", balas Anabelle sambil mencubit pinggang kekasihnya itu.
Flamini tertawa. Laki-laki tampan itu memeluk mesra pinggang Anabelle. Keduanya nampak serasi sekali, meskipun jarak usia mereka cukup jauh. Terlihat dari wajah keduanya yang berseri-seri dan saling menggoda.
"Flami...!"
Terdengar suara lembut memanggil nama Flamini.
Anabelle dan Flamini menolehkan wajah menatap wanita yang berdiri di belakang mereka.
Wanita itu tersenyum kecut melihat kemesraan didepannya.
Masih ada sisa tawa di bibir Anabelle, ia menatap wanita itu begitupun Flamini. Tapi raut wajah Flamini langsung berubah kaget dan jengah berbarengan begitu menatap siapa wanita yang memanggil nya.
__ADS_1
"Ayo sayang kita melanjutkan perjalanan saja. Ternyata tempat ini tidak nyaman", ketus Flamini menarik tangan Anabelle yang kaget melihat perubahan Flamini.
Namun Ana diam, tidak menyampaikan pertanyaan yang berkelebat di kepalanya
"Flami...tunggu! Aku mohon Flami dengarkan aku sebentar saja".
Ana mendengar jelas ucapan wanita itu. Sementara Flami melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobilnya sambil menggenggam erat jemari tangan Anabelle.
Sebelum masuk mobil, Anabelle menatap wanita itu.
"Maafkan aku Flamini!", teriak wanita itu berdiri tak bergeming di luar cafetaria tepatnya di belakang mobil Flamini.
Flamini tak sedikitpun merespon ucapan wanita itu. Seperti tak perduli apapun laki-laki itu langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak... hati-hati! Aku masih ingin hidup", protes Anabelle. Ia tahu wanita itu dan Flamini pasti ada apa-apa. Namun ia tidak mau langsung bertanya. Ana akan menunggu apa yang akan Flamini katakan padanya terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan Flamini lebih banyak diam dengan pikirannya sendiri. Anabelle lah yang lebih banyak bicara. Meski pun saat ini terlihat jelas Flamini tidak berniat untuk bicara namun gadis itu terus-menerus berseloroh.
*
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mobil yang Flamini sampai juga di perkebunan dengan membaca plang nama di gerbang utama.
Anabelle tak berkedip melihat kiri kanan kawasan perkebunan AVA Farm. Pemandangan nya begitu indah. Hingga mobil yang di kendarai Flamini berhenti dengan sempurna di depan rumah berukuran besar berwarna maroon sama persis seperti gambar yang di lihat Anabelle di MacBook milik Flamini tadi pagi.
Tanpa menunggu Flamini keluar mobil, Ana duluan turun. Ia tak perduli pada Flamini, namun lebih perduli melihat kebun apel merah yang terbentang luas di hadapannya. Sangat menakjubkan. Bahkan Anabelle lupa memakai coat tebal yang di tinggalkan nya di mobil padahal cuaca sore sudah mulai dingin di sana.
Flamini berbincang dengan laki-laki dan wanita paruh baya yang menyambut kedatangannya. Nampak juga dua orang pelayan membawa koper masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Sementara Anabelle terlihat sangat bahagia. Ia berjalan menjauh dari Flamini yang berada di dekat rumah.
Rambut hitam bergelombang Anabelle tertiup angin yang berhembus kencang. Tubuh Ana hanya di balut kaos berwarna putih yang cukup menerawang dengan jeans biru ketat. Gadis itu terlihat seksi sekali di antara pohon apel dengan buah lebat.
Anabelle melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang melihat hamparan permen di hadapannya saja.
Flamini menatap Anabelle dari tempatnya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. "Ana...ayo masuk. Apa kau tidak lelah?"
"Kakak saja yang masuk duluan. Aku masih ingin berkeliling", seru Anabelle mendekati salah satu pohon apel yang berbuah lebat. Gadis itu memetik salah satu apel dan langsung menggigit nya.
Flamini menggelengkan kepalanya melihat tingkah Anabelle. Ia mendekati gadis itu.
"Ana... jangan langsung memakan apel seperti itu nanti perut mu bisa sakit. Itu masih kotor belum di cuci", ucap Flamini sambil mengambil paksa apel merah dari tangan Anabelle yang sudah di gigit nya.
Tindakan Flamini itu tentu saja membuat Anabelle kesal. "Uh...kau ini menyebalkan sekali! Perutku tidak akan sakit makan apel itu", ketus Anabelle kesal.
Sambil menghentakkan kakinya ia kembali hendak memetik apel yang lain dari pohonnya langsung. Ana tidak perduli dengan peringatan Flamini. Namun tangannya di tahan Flamini. Tubuh Flamini mendorong pelan tubuh Anabelle hingga punggungnya bersandar pada pohon apel.
Ana belum sempat protes, Flamini sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Ana. Flamini memangut leluasa bibir atas dan bawah Anabelle yang blank seketika.
Cuaca dingin seketika menjadi panas. Bahkan keduanya lupa sedang berada di area terbuka. Keduanya berciuman mesra. Saling menginginkan. Bahkan tangan Anabelle melingkar di leher laki-laki itu, membalas buaian Flamini tak kalah agresif nya.
Cukup lama keduanya berciuman mesra dengan nafas menderu cepat. Flamini menempelkan keningnya pada kening Anabelle sambil mengusap lembut bibir gadis itu. "Aku sangat menginginkan mu, Ana. Aku mencintaimu sayang".
Jemari tangan Anabelle memeluk pinggang Flamini. Ana menyandarkan wajahnya pada dada bidang laki-laki itu. "Kalau kakak benar-benar mencintai ku, aku tidak mau ada yang kakak sembunyikan dari ku. Siapa wanita itu?".
Anabelle mengangkat wajahnya menatap lekat wajah tampan Flamini yang berada begitu dekat dengan nya. Bahkan hembusan nafasnya pun bisa Ana dengar kan.
__ADS_1
"Wanita itu Samantha. Calon istri ku yang pergi meninggalkan ku di hari pernikahan kami..."
...***...