PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
KESEDIHAN CALISTA


__ADS_3

"Lihat lah anak kita. Ia sangat tampan kan", ucap Samuel sesaat ia dan Calista berada di depan kaca besar penghubung dengan Gilbert, putra mereka.


Calista tampak terharu melihat bayinya masih berada di dalam inkubator, dengan alat bantu pernafasan. Calista tidak tega melihat bayi mungil tak berdaya harus berjuang mempertahankan hidupnya.


"Oh sayang...maafkan mommy nak, mom tidak bisa menjaga mu dengan baik", isak Calista tak sanggup menahan kesedihannya. Kristal-kristal bening sudah menyentuh wajahnya.


Calista begitu sedih melihat bayi mungilnya masih harus berada di dalam inkubator karena mengalami bocor di bilik jantungnya. Menurut dokter anak yang menangani Gilbert, hal tersebut biasa terjadi bagi bayi lahir prematur. Kebocoran di bilik jantung Gilbert tidak terlalu berbahaya, dengan bertambahnya usia dan mendapatkan asupan gizi yang baik nantinya bisa sembuh dengan sendirinya tanpa harus menjalani operasi.


Samuel memeluk Calista dari belakang, menenangkan istrinya itu agar tidak panik karena ia baru saja pulih dari koma.


Calista menempelkan jemari tangannya di kaca penghubung.


"Sayang, semoga kau lekas sembuh dan kita segera berkumpul bersama mommy, daddy serta grandma dan grandpa. Mommy menyayangi mu", bisik gumam Calista dengan suara bergetar menahan kesedihan.


"Putra kita baik-baik saja sayang, aku sudah menemui dokter anak yang merawat Gilbert. Menurut dokter yang menanganinya, kondisi Gilbert menunjukkan hasil positif. Gilbert hari ini harus mengikuti rangkaian tes kesehatan menyeluruh. Jika semuanya baik, Gilbert akan di pindahkan ke kamar rawat inap bersama kita". Samuel menjelaskan kondisi yang sebenarnya mengenai bayi mereka.


"Sebaiknya sekarang kita kembali kamar, kau masih harus banyak istirahat sayang", ucap Samuel sambil mencium pucuk kepala Calista.


Calista mengangguk kan kepalanya pelan.


Setelah mereka berada di kamar rawat inap, Samuel memindahkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur.


Dokter Brenda, sudah memeriksa secara mendetail tentang kondisi Calista. Calista dalam keadaan baik, namun tetap harus di lakukan pengawasan ketat. Mengingat Calista baru beberapa hari sadar dari koma. Calista juga masih harus memulihkan luka sesudah melakukan operasi Caesar. Namun Calista tidak merasakan sakit bekas jahitan operasi. Karena ia tidak memiliki waktu untuk merasakan sakit itu, yang ada di pikiran dan benaknya hanya Gilbert, bayinya yang belum bisa ia peluk. Perasaan Calista benar-benar pedih.


Hanya satu yang diinginkannya saat ini, yaitu memeluk anaknya.

__ADS_1


Calista menggenggam jemari Samuel, sesaat sesudah merebahkan tubuhnya.


"Sayang, maaf kan aku sudah membuatmu cemas beberapa hari ini. Aku tahu, pekerjaan mu pasti tertunda karena mengkuatirkan aku dan Gilbert."


"Maafkan aku sayang", ucap Calista sungguh menyesal dengan suara lirih.


Samuel mengusap lembut wajah istrinya, ia mengecup lembut bibir Calista yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Keduanya berciuman mesra.


"Jangan merasa bersalah. Buat ku kau dan Gilbert selamat jauh lebih penting dari pada mengingat kejadian kau jatuh, Cali. Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua. Kau tahu...saat kau memintaku menyelamatkan kandungan mu, aku menangis. Jika ada apa-apa yang terjadi dengan mu di ruang operasi itu, aku akan menyalahkan diri ku seumur hidup ku", ucap Samuel mengungkapkan perasaanya ketika di hadapkan dengan pilihan tersulit dalam hidupnya.


"Aku tak henti berdoa dan bersyukur, saat ini kalian berdua baik-baik saja. Meskipun bayi kita belum bisa leluasa aku peluk. Tapi buat ku yang paling penting kau dan Gilbert sudah membaik itu membuatku sangat bahagia", ucap Samuel sambil mengusap lembut wajah istrinya.


Samuel mengecup bibir Calista. Berlanjut dengan lu*atan saling menginginkan.


"Apa kau tidak bisa menahan nya, Sam. Ingat istri mu itu baru pulih".


Steven masuk kedalam kamar rawat inap Calista, ia tak sendiri tapi ditemani istrinya Katty yang tersenyum melihat Calista dan Samuel berciuman dengan mesra.


"Shitt...


"Kau mengganggu ku saja", balas Samuel kesal.


"Aku bukan ingin melihat mu, tetapi aku menemani istriku, ingin melihat Calista", jawab Steven tertawa meledek Samuel.


menyandarkan punggungnya di sofa yang cukup jauh dari tempat tidur Calista. Kemudian Samuel pun menyusul nya duduk di sana.

__ADS_1


"Cali, aku membawakan mu puding susu kesukaan mu. Apa kau mau makannya sekarang?", tanya Katty.


"Tentu saja, aku akan memakannya sekarang", jawab Calista.


"Bagaimana perkembangan pekerjaan kita? Apa semuanya baik-baik saja?", tanya Calista sambil menyuapkan puding kemulutnya.


Katty tersenyum mendengar pertanyaan Calista. "Tentu saja semuanya baik. Namun aku tidak mau membahasnya sekarang, karena kau harus beristirahat dan suami mu pasti akan marah pada ku jika aku memberikan laporan perihal perusahaan mu", cicit Katty sambil melirik Samuel dan Steven yang sedang berbincang.


"Iya".


"Kau tahu Calista saat kau koma, Samuel tidak mau pergi dari mu sesaat saja. Bahkan ia selalu menangis di dekat mu dan anak mu. Selama kau di rumah sakit, Samuel tidak pernah pergi jauh dari mu dan Gilbert. Samuel benar-benar suami setia, Cali. Ia sangat mencintaimu".


Calista menatap Samuel dengan tatapan memujanya. "Iya. Aku sangat beruntung memiliki suami seperti Samuel. Hm...tapi bukan aku saja yang beruntung memiliki suami yang baik, kau pun begitu. Memiliki suami seperti Steven, Katty".


Katty tersenyum mendengar nya. "Iya, aku sangat mencintai, Steve. Tapi kebahagiaan ku belum sempurna karena sampai saat ini aku belum hamil juga. Aku sudah sangat ingin memberi Steven anak, tapi aku belum berhasil.


Menurut Steven kami


berdua sehat, anggap saja masih di beri kesempatan berdua dulu, katanya", ujar Katty mengulang perkataan Steven pada dirinya.


"Suami mu benar Katty, kau nikmati saja dulu masa-masa berdua kalian sambil terus berusaha. Aku yakin kau akan segera hamil", ujar Calista tersenyum.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2