PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
WILL YOU MARRY ME?


__ADS_3

Flamini menggendong tubuh Anabelle ala bridal style, keduanya bertatapan penuh makna.


Flamini merebahkan tubuh Ana di atas tempat tidur yang ada di pondok, ukuran nya tidak terlalu besar namun bisa menampung tubuh dua orang dewasa.


Tanpa menunggu waktu, tangan Flamini menarik panties renda merah yang yang tertinggal di tubuh Anabelle. Flamini menatap intens inti Ana, lembab dan berwarna merah muda. Sangat terawat.


Dengan perasaan campur aduk, Ana merapatkan pahanya. Sungguh ia malu di lihat seperti itu.


"Jangan di tutup sayang, aku suka melihatnya. Sangat menggoda ku", bisik Flamini di telinga Anabelle yang terus-menerus mende*ah ketika merasa jemari Flamini mengusap lembut intinya.


"Oh kak.."


Anabelle benar-benar kelimpungan. Wajahnya semakin kacau dengan sorot sayu menatap Flamini yang semakin turun mencumbu tubuhnya.


Anabelle semakin menjerit ketika lidah Flamini menggelitik intinya. Gadis itu sudah pasrah bahkan dari bibirnya tak henti mende*ah dan melenguh memenuhi pondok yang terbuat dari kayu terbaik tersebut. Namun tetap saja de*ahan Ana terdengar jelas. Flamini menyukainya dan semakin menggoda kekasihnya itu. Laki-laki itu begitu menikmati pergumulan panas untuk yang pertama kalinya dengan Anabelle. Ia masih enggan menjauh dari inti kekasihnya itu, sementara jemari tangannya tak henti meremas dan mencubit puncak Anabelle yang sudah mengeras.


"Akh–"


Flamini bangkit, berdiri di samping tempat tidur tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari Anabelle. Ia hendak membuka sabuk, namun Ana berinisiatif melakukan nya.


Anabelle tampak seksi sekali. Rambut hitam bergelombang terurai di dada yang menantang itu. Flamini tidak tahan melihatnya, kembali memangut bibir Anabelle yang terbuka. Lidah nya membelai lidah Anabelle.


"Owh..."


Ana menjerit melihat milik Flamini sudah berdiri tegak tepat di depan wajahnya. Gadis itu ragu-ragu untuk menyentuhnya, tapi sungguh penasaran ingin merasakannya.


Perlahan jemari-jemari lentik Ana mengusap milik Flamini. Tindakan Ana itu tentu saja membuat milik Flamini berkedut dan semakin keras.


"Ah Anabelle. Kau benar-benar menggoda ku sayang. Gunakan mulut mu sayang", bisik Flamini dengan suara berat sambil mengusap bibir Anabelle.


Ana tampak ragu-ragu melakukannya, namun melihat wajah Flamini begitu tersiksa seperti itu membuatnya penasaran.


"Oh my God, Ana".


Flamini mengenadahkan wajah nya ke atas merasakan kenikmatan luar biasa, ketika milikinya di cumbuh Anabelle dengan jemari lentik dan mulutnya.

__ADS_1


Flamini tidak tahan lagi ia mendorong tubuh Ana hingga terlentang kembali.


Tok


Tok


Namun...


Ada yang mengetuk pintu. Membuat Anabelle menatap Flamini. "Kak ada yang mengetuk pintu".


Flamini enggan menggubrisnya, laki-laki itu seakan tidak mendengar apapun. Ia asyik dengan puncak gundukan kenyal Anabelle.


Tok


Tok


"Demi Tuhan kak...aku tidak bisa melakukannya. Ada orang di luar. Lihatlah mungkin penting". Kesadaran Ana kembali. Ia mendorong tubuh Flamini.


"Yang benar saja Ana. Shitt...siapa yang berani mengganggu ku. Brengsek!", umpat Flamini kesal.


"Aku tidak bisa melanjutkannya jika orang itu masih ada di pintu".


Ceklek..


"Ada apa kalian mengganggu ku!"


Terlihat dua orang pelayan berdiri di depan pintu. Membawa paper bag di tangan masing-masing.


"Tuan sarapan yang anda minta...", ucap salah satu pelayan. Melihat Flamini hanya menggunakan bathrobe membuat keduanya salah tingkah. Mereka tahu telah melakukan kesalahan. Mengganggu privasi bos-nya itu.


Flamini menatap tajam kedua pekerjanya. Ia sudah siap menyembur keduanya. Emosi Flami sudah di ubun-ubun.


"Kalian berdua..."


"Oh... kebetulan sekali perutku sangat lapar". Tiba-tiba Ana nongol di balik tubuh Flamini, langsung mengambil paper bag dari tangan kedua pelayan yang terlihat pucat. Keduanya baru menyadari telah melakukan kesalahan. "Kalian boleh pergi sekarang. Terimakasih", ujar Ana tersenyum pada keduanya memberi isyarat agar mereka cepat pergi sebelum Flamini marah besar.

__ADS_1


Keduanya mengerti, dan berterima kasih pada Anabelle karena telah menyelamatkan mereka dari amukan Flamini. Sambil menundukkan kepalanya keduanya pamit undur diri dari hadapan bos mereka.


"Sayang, sudahlah. Jangan marah-marah, nanti kau cepat tua", seloroh Anabelle sambil menarik tangan Flamini masuk.


"Sebaiknya kita makan dulu. Sekarang aku benar-benar lapar", ujar Ana. Ia menyiapkan sarapan yang sudah di antar pelayan di atas meja kecil yang ada pondok.


Flamini mengusap tengkuknya. "Kau jangan mengalihkan pembicaraan sayang. Bagaimana kelanjutannya. Rasanya tidak enak sekali", ujarnya sambil duduk menenangkan dirinya. Flamini terlihat mengusap wajah dengan kasar.


Ana mengerti. Ia duduk di samping Flamini sambil menyandarkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya itu. "Masih ada waktu sayang. Kita bisa mencobanya lagi setelah ini. Kau jangan marah-marah dengan pelayan mu, mereka hanya mengerjakan tugas yang kau minta", ucap Ana menenangkan kekasihnya itu. Jemari tangan ana mengusap dada Flamini yang di tumbuhi bulu.


Flamini menggenggam jemari Ana. "Menikah lah dengan ku Ana. Setelah wisuda strata satu mu minggu depan. Bukankah kau harus kembali ke London untuk wisuda. Kita bisa menikah setelahnya. Kau tetap bisa melanjutkan pendidikan magister mu, aku tidak akan melarang istriku mengejar impian".


Ana terdiam. Gadis itu masih menyandarkan wajahnya pada dada Flamini sambil menyelusupkan jemari tangannya mengusap lembut bulu-bulu di dada itu.


"Aku mencintaimu Ana, jangan ragukan itu", tegas Flamini.


"Apa kakak sering menghabiskan waktu bersama Samantha di pondok ini?"


Alih-alih menjawab ajakan menikah Flamini, Anabelle justru menanyakan hal lainnya.


"Tidak. Gazebo ini aku buat setelah hubungan kami berakhir. Sebenarnya aku tidak mau mengingat wanita itu. Cukup menjadi bagian masa lalu saja. Aku hanya ingin mengingat mu dan masa depan kita Ana. Aku ingin hidup bahagia bersama keluarga yang aku cintai sepenuh hati ku. Aku ingin seperti teman-teman ku juga memiliki keluarga seutuhnya. Aku bersyukur di pertemukan dengan mu, Ana. Kau bisa membuatku merubah pandangan tentang sebuah komitmen. Kau mampu mengisi kehampaan hati ini. Dalam sekejap aku menginginkan mu, selalu ada dalam hidup ku, Ana. Menikah lah dengan ku...aku janji tidak akan melukai hati mu. Aku ingin kau menjadi ibu anak-anak ku, Anabelle", ucap Flamini sungguh-sungguh.


Ungkapkan perasaan Flamini, mampu membuat hati Ana bergetar. Sampai-sampai ia menitihkan air matanya.


Ana menganggukkan kepalanya. Tanpa kata-kata. Lidahnya begitu kelu dan tercekat. Ana mengangkat wajahnya dan membingkai wajah Flami. Lagi-lagi ia menganggukkan kepalanya.


"Apa artinya kau menerima ajakan ku?", tanya Flamini memastikan.


Tanpa kata-kata Ana mencium wajah dan bibir Flamini, berulangkali ia menganggukkan kepalanya.


"Iya kak. Aku mau. Aku mencintaimu", balas Anabelle menyandarkan


kembali wajahnya pada dada Flamini.


Flamini tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ia mengecup lembut pucuk kepala kekasihnya itu dan mendekap erat tubuh Ana.

__ADS_1


...***...


Kalau ada typo nanti author revisi ya 🙏


__ADS_2