
"Masuk!"
Katty membuka handle pintu. Kedua netra biru itu melihat Steven sedang menatap dengan fokus hasil diagnosa yang memperlihatkan bagian dalam tubuh menggunakan lampu yang ada di meja kerjanya. Steven sendirian di ruangan itu. Seperti biasa ia selalu terlihat rapi dan bersih dengan rambut lembab menampakkan kesegaran sepanjang hari.
"Katty...masuklah", ucap Steven mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.
"Duduklah!"
Katty tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia duduk di depan Steven. Sesekali menundukkan kepalanya, sesekali menatap laki-laki tampan dihadapannya itu yang sedang membaca sesuatu dari lembaran kertas di atas mejanya.
"Semalam ayahmu sudah aku pindahkan keruang rawat inap. Kondisi ayahmu stabil. Pasien kronis seperti ayah mu jika di tempat kan di ruang isolasi akan semakin membuatnya stress, jadi sebaiknya ia berada di tengah-tengah orang yang mencintai nya. Akan membuat semangat hidupnya meningkat lagi", ucap Steven menatap lekat Katty.
"Iya dok. Terimakasih. Tentu saja aku dan adikku senang melihat kemajuan papa. Ia sudah bisa duduk dan tersenyum lagi", jawab Katty membalas tatapan Steven.
"Kau tidak perlu berterima kasih, karena itu memang tugas seorang dokter. Kebahagiaan yang tak terkira ketika melihat seorang pasien yang di tanganinya menjadi membaik, meskipun belum sembuh total", jawab Steven tersenyum. Matanya melihat tote bag di pangkuan Katty.
"Kau membawa apa itu?", tunjuk Steven pada tote bag Katty.
Katty baru menyadarinya. Gadis itu menatap kepangkuannya. Ia baru ingat membawakan sarapan untuknya dan Anabelle, namun Anabelle sudah pulang.
"Oh...ya ampun aku lupa meninggalkan nya di kamar papa. Tadi pagi aku membuat sarapan untuk makan bersama Anabelle adikku tapi ternyata ia sudah pulang saat aku tiba di sini", jawab Katty merasa konyol membawa tote bag itu masuk keruangan dokter.
Steven tersenyum melihat wajah Katty seperti itu. "Itu saja yang ingin aku bicarakan pada mu Katty. Intinya kondisi ayah mu saat ini stabil. Kau tidak perlu kuatir. Hm...kau boleh makan sarapan mu sekarang", ujar Steven tersenyum.
Katty menatapnya. Lalu ia berdiri dan membuka tote bag berwarna biru itu. Katty mengambil satu box. "Jika dokter tidak keberatan memakan makanan yang aku buat sendiri", ucap Katty menyodorkan satu box di hadapan Steven.
"Bukankah kau akan memakannya bersama adikmu?"
__ADS_1
Katty mengeluarkan satu box lagi. "Masih ada satu box lagi untuk ku. Anabelle sudah pulang, jadi sarapannya untuk dokter saja. Terimakasih informasi tentang ayah ku dok".
"Kalau begitu aku kembali ke kamar ayah ku sekarang. Semoga dokter menyukai makanan buatan ku", ujar Katty tersenyum manis.
"Kenapa kita tidak makan bersama saja sekarang. Kebetulan aku belum sarapan dan sebenarnya akan meminta asisten ku memesan sarapan", ujar Steven menatap lekat wajah Katty yang terlihat gugup.
"Oh, sebaiknya aku ke kamar papa saja sekarang. Dokter pasti sibuk, aku tidak mau merepotkan", jawab Katty cepat.
"Kau tidak merepotkan ku Katty. Memang nya kau anak kecil yang akan mengobrak-abrik ruangan ini? Duduk lah lagi, temani aku sarapan. Aku paling malas jika harus makan sendirian, itulah kenapa sejak istri ku meninggal aku jarang sekali makan di rumah. Aku lebih suka makan di kantor atau di tempat ramai", ucap Steven sambil membuka box makanan yang diberikan Katty padanya. "Sepertinya enak kau membuat full English breakfast?"
Katty tak bergeming dari tempatnya berdiri, tepatnya di depan meja itu. Ia menatap Steven yang mencicipi bacon buatannya.
"HM... sangat enak sekali", ucap Steven tersenyum menatap Katty. "Ternyata kau pintar masak?"
"Aku tidak lihai, tapi aku bisa memasak makanan yang aku dan adikku sukai saja", jawab Katty duduk kembali. Ia pun memutuskan untuk makan bersama Steven.
"Berarti kalau kau sudah pensiun dari pekerjaan mu nanti, kau bisa membuat restoran Inggris. Masakan mu sangat enak Katty", puji Steven sambil melahap makanan miliknya.
"Full english breakfast sangat mudah membuatnya. Hanya terdiri sosis, telor mata sapi, bacon, baked beans, black pudding, kentang, tomat dan jamur. Cukup pergunakan air fryer agar hasilnya lebih kering tanpa menggunakan minyak. Aku lebih suka seperti itu, lebih sehat menurut ku".
Steven tersenyum mendengar penjelasan Katty. "Kau benar. Metabolisme tubuh mu akan lebih baik seperti itu", jawab Steven.
"Melihat papa ku sakit seperti sekarang, semakin membuat ku berhati-hati dengan pola hidup, dok. Hm..Dok, aku turut berdukacita atas meninggalnya istri dokter", ujar Katty hati-hati terdengar prihatin.
"Layla istri ku meninggal dunia empat bulan yang lalu. Terimakasih perhatian mu, Katty", ujar Steven sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
Sekilas Katty menatap Steven. Saat bercerita tentang istrinya Steven terlihat tenang dan ikhlas.
__ADS_1
"Layla meninggal karena sakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ketika itu kami tinggal di Dubai. Istri ku orang sana", ucap Steven menyandarkan punggungnya.
"Dok, maafkan aku membuat mu mengingat hal menyedihkan ini", ucap Katty menyesal.
"Tidak apa-apa Katty. Aku bisa menerima kepergian istriku, justru aku sedih melihatnya kesakitan setiap saat. Sekarang Layla sudah bahagia, ia tidak mengalami kesakitan lagi".
"Maaf dok, apa karena kepergian nona Layla anda memutuskan kembali ke kota ini?"
"Iya. Selain itu aku ingin membantu ayah ku yang sejak lama ingin fokus pada klinik yang di bangun nya di kota kelahirannya".
Katty tersenyum mendengar perkataan Steven. "Aku sangat mengagumi dokter Arthur. Ia yang terbaik. Semua pasien nya pasti merindukannya. Dokter Arthur sudah setahun merawat papa. Aku tidak menyangka ternyata dokter Steven adalah putra dokter Arthur".
"Bukan kau saja yang kagum pada dokter Arthur, Katty. Aku sebagai anaknya saja sangat mengagumi nya. Itulah kenapa aku mengambil jurusan yang sama dengan ayahku agar bisa bersama-sama saling membantu seperti ini", jawab Steven tersenyum menatap Katty.
Katty pun sedang menatap netra coklat itu, namun cepat-cepat Katty mengalihkan perhatiannya. Gadis itu menatap arloji nya. "Hm, sebaiknya aku ke kamar ayah ku sekarang. Sebentar lagi aku harus bekerja, dokter pun pasti sibuk", ucap Katty membersihkan peralatan makan ia dan Steven.
"Katty....jangan sungkan untuk menemui ku jika ada yang ingin kau tanyakan tentang ayah mu", ujar Steven menatap manik biru gadis itu.
"Iya dok. Terimakasih untuk semuanya", jawab Katty terlihat menghindari tatapan manik hazel di hadapannya.
"Aku yang harus berterima kasih pada mu, karena perutku kenyang sekarang", jawab Steven sambil mengusap perutnya.
Katty tertawa melihat mimik wajah laki-laki tampan itu. "Aku akan membuatkan sarapan menu lainnya untuk dokter jika suka. Hm...tapi aku bukan juru masak profesional jadi harap maklum jika rasanya ada yang kurang", balas Katty.
"Dengan senang hati aku akan melahap habis masakan mu, Katty", jawab Steven sebelum Katty menutup pintu ruang kerjanya.
Katty tersenyum menatap Steven dengan wajah merona seperti buah Cherry berwarna merah, gadis itu menutup rapat pintu ruang kerja Steven.
__ADS_1
...***...
To be continue