PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
PERNIKAHAN KATTY-STEVEN


__ADS_3

Samuel menggenggam erat tangan istrinya memasuki hotel berbintang tempat akan di laksanakan nya pernikahan Steven dan Katty.


Tidak nampak keramaian yang menunjukkan adanya perhelatan pernikahan di hotel itu karena Steven dan Katty memutuskan hanya mengundang keluarga dan teman dekat mereka saja. Namun Steven tetap memilih hotel terbaik sebagai tempat pernikahan mereka sekaligus akan menghabiskan beberapa hari di hotel yang terletak pusat kota London.


Wajah-wajah bahagia terlihat dari dua keluarga yang disatukan karena ikatan pernikahan anak-anak mereka.


Samuel dan Calista duduk di meja bundar yang sudah di sediakan untuk tamu undangan yang jumlahnya tidak banyak. Namun Katty dan Steven tetap memberikan dekorasi yang mewah seperti bunga mawar merah dan bunga Lily berwarna putih yang sedang bermekaran layaknya sebuah taman dengan air mancur ditengah-tengah nya.


Sementara bagian atas ditutupi dengan kain berwarna krem yang menjuntai memberikan aksen suasana romantis.


Sesaat kemudian senyum bahagia menghiasi wajah Calista. Tangannya menunjuk kearah pintu.


"Sayang Katty dan Steven sudah datang", ucapnya pelan.


"Ah Katty cantik sekali", ujar Calista menatap kagum asisten nya yang berjalan menggandeng lengan Steven. Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya.


Katty sangat cantik memakai gaun pengantin berwarna putih bersih model mermaid yang memperlihatkan bahu putihnya. Serasi dengan Steven Morgan yang nampak gagah seperti biasanya. Katty dan Steven sudah berada di tempat yang disediakan untuk mereka sebagai pasangan yang berbahagia malam ini.


"Apa aku sudah melewatkan acara inti nya?"

__ADS_1


Suara bariton menginterupsi pembicaraan antara Calista dan Samuel.


Flamini langsung menggeser kursi dan duduk di samping Samuel. Laki-laki itu gagah dengan tuxedo berwarna biru tua dengan ornament timbul bunga-bunga kecil. Ia datang berdua saja dengan Sean asistennya yang saat ini berbincang dengan Owen di sudut ruangan.


"Kau dari mana saja Flami, kenapa baru datang", tanya Samuel.


"Aku dan Sean ada urusan sebentar. Jalanan juga macet sekali menuju kemari", jawab Flamini memberikan alasan kenapa terlambat datang ke pernikahan sahabat baik mereka.


Sekilas flamini menolehkan kepalanya yang membelakangi panggung nan megah itu. Flamini tersenyum melihat Steven dan Katty di depan begitu bahagia. "Pada akhirnya aku sendirian yang belum memiliki pasangan".


"Makanya kau segera mencari nya dan jalin hubungan yang serius Flami".


Huhh... terlihat Flamini menghembuskan nafasnya.


"Tidak ada kabarnya sama sekali. Ana hilang bak di telan bumi. Sean pun mencari di kampus nya, namun ia tidak pernah datang ke kampus nya lagi menurut beberapa orang temannya. Rumah yang ditempatinya selama ini pun kosong. Sampai sekarang Sean tidak berhasil mendapatkan informasi yang banyak tentang gadis itu. Membuat ku sangat kecewa".


"Kau harus sabar teman. Kalau kalian berjodoh pasti akan bertemu lagi. Mungkin dengan cara ini kau bisa menyadari perasaan mu yang sesungguhnya pada gadis itu Flami".


Flamini menganggukkan kepalanya tidak bersemangat. "Maybe.."

__ADS_1


Kalian sedang berbicara apa?", tanya Calista.


Samuel dan Flamini tersenyum mendengarnya.


"Flamini sedang merindukan seseorang yang meninggalkan nya", jawab Samuel tersenyum.


Terdengar Master of ceremony yang bertugas menandu acara menyebutkan bahwa Steven dan Katty telah sah menjadi pasangan suami-istri. Kedua pasangan berbahagia itu kini berciuman mesra. Tepuk tangan pun membahana dari tamu undangan yang hadir.


Terlihat Sean melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa mendekati Flamini yang masih duduk di tempatnya.


"Tuan harus melihat siapa yang ada di ruangan ini sekarang", bisik Sean di telinga bos-nya mengarahkan pandangan Flamini ke meja paling depan pada seorang gadis yang tampak menangis haru menatap kearah Steven dan Katty yang sedang berciuman mesra.


Siapa yang di lihatnya, sontak saja membuat raut wajah laki-laki itu berubah dingin. Di sebelah gadis itu terlihat laki-laki paruh baya memeluk erat tubuhnya. Sesekali mengecup mesra wajah gadis itu sambil menggenggam jemari tangannya. Flamini melihat semuanya.


Terdengar gigi Flamini gemeretukan menahan amarah yang tiba-tiba menguasai dirinya. Rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tampak mengeras. Sorot matanya pun begitu tajam menatap pemandangan di belakang tubuhnya yang cukup berjarak karena terhalang orang-orang yang duduk di depan meja mereka.


"Shitt ..!"


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2