PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
FIRST KISS


__ADS_3

Tidak ada yang memulai pembicaraan saat di dalam mobil. Steven mengendarai mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota London yang luas membentang.


Seakan tidak pernah sepi, meskipun jam sudah menunjukkan tengah malam, namun ibu kota Inggris tersebut tetap ramai. Mobil masih lalu-lalang memenuhi jalanan yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang megah.


"Katty kau tinggal di mana?", tanya Steven membuka pembicaraan. Sekilas ia menatap Katty yang memandang keluar jendela. Katty tidak menjawab apapun, gadis itu tak bergeming.


"Katty...?"


"Hm...iya tuan?"


Steven tersenyum melihat tingkah gadis itu yang tidak fokus. "Kau melamun atau kau sedang banyak pikiran, hem?"


"Tidak dua-duanya. Aku hanya memandang keluar saja", jawab Katty menatap Steven sekilas.


"Panggil saja namaku, aku tidak suka jika kau memanggilku tuan atau dokter!"


"Iya aku akan mencobanya", jawab Katty kembali menatap keluar jendela.


"Kau tinggal di mana?"


"Wilde apartemen". Terdengar tarikan nafas Katty. "Seharusnya tuan tidak perlu mengantar ku. Apartemen ku jauh".


"Berapa kali aku katakan, panggil nama ku saja, Katty!".


"Iya. Aku lupa. Sebenarnya aku tidak enak jika hanya memanggil nama mu saja, Steven. Kau teman atasan ku. Tapi aku akan berusaha", jawab Katty tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya, sekali lagi aku minta maaf karena sudah mengotori celana mu. Aku janji akan menggantinya", ujar Katty.


"Tidak perlu".


"Kalau begitu aku akan mencucinya sampai bersih kembali", ucap Katty absurd.


"Maksud mu kau mau mencucinya sekarang, setelah kita sampai di apartemen mu?", balas Steven menggoda gadis itu. "Lantas aku pakai apa kalau celana ku dilepas?".


Lagi-lagi ucapan Steven membuat Katty tersipu. Gadis itu menyadari perkataan nya sebelumnya memang keliru. "Kalau begitu besok saja aku mencucinya. Lihatlah celana mahal mu jadi rusak karena ku", cicit Katty sambil melebarkan kedua matanya dengan mimik wajah menggemaskan.


Steven tersenyum menatapnya. "Kau sangat cantik Katty, kenapa kau belum memiliki kekasih, hem?"


"Aku tidak ada waktu untuk berpacaran. Aku sibuk dengan pekerjaan ku, Steve. Sejak papa sakit akulah yang menggantikannya menjadi tulang punggung keluarga ku. Biaya pengobatan papa dan biaya kuliah Anabelle tidak sedikit. Jadi... Aku tidak tidak bisa egois hanya memikirkan diriku sendiri di saat kondisi keuangan keluarga ku seperti sekarang. Papa sudah membiayai kuliah ku hingga aku mendapat gelar master bisnis. Sekarang giliran aku membantu papa, agar adikku juga menjadi sarjana", ujar Katty tersenyum kecut.


Katty memberikan jawaban, bertepatan dengan mobil yang dikendarai Steven berhenti dengan sempurna di depan apartemen gadis itu.


Tatapan gadis itu berpadu dengan sorot hazel Steven yang berkabut. Tanpa aba-aba jemari tangan Steven menarik tengkuk Katty dan me*umat bibir ranum gadis itu yang terbuka.


Katty kaget. Steven mencium bibir nya dengan sangat lembut. Suasana dingin yang menusuk tulang seketika berganti menjadi panas yang menjalar ke tubuh Katty. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan dari seorang pria. Lidah Steven menari-nari didalam mulutnya, menyapu langit-langit hingga membelit lidah Katty. Katty merasakan sensasi buaian Steven begitu luar biasa nikmat. Pada akhirnya ia pun membalas ciuman itu.


Cukup lama kedua nya berciuman mesra di dalam mobil. Hingga Steven memutuskan ciuman. Kedua tangannya masih memegang tengkuk Katty. Laki-laki itu menempelkan keningnya ada kening Katty. "Aku suka kau menumpahkan wine celanaku, Katty. Dan kau membersihkan nya seperti tadi", bisik Steven di depan bibir Katty.


Perkataan Steven yang mengingatkan Katty atas perlakuan nya saat di meja makan beberapa saat yang lalu, membuat tubuh gadis itu bergidik. "A-ku..."


Steven kembali menautkan bibirnya, menikmati manisnya bibir gadis itu. Keduanya kembali berciuman mesra. Katty mencengkram kuat kemeja berwarna putih yang membalut tubuh atletis Steven sambil memejamkan kedua matanya. Steven bukan hanya tampan dan pintar, ternyata laki-laki itu juga sangat lihai berciuman dan membuai, membuat tubuh Katty tak berdaya seketika. Ia menerima sentuhan Steven. Akal sehatnya pun lenyap entah kemana. Ia ingin menolak namun tak mampu, buktinya Katty membalas tak kala panasnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ada laki-laki yang bersedia mengambil semua tanggung jawab mu itu, Katty? Apa kau bersedia membuka hatimu, hem?"


Katty terdiam mendengar pertanyaan Steven. Otaknya saat ini benar-benar blank. Perasaan menghangat, nafasnya menderu. Katty mencerna semuanya, apa yang baru saja terjadi. Ciuman lembut dan pertanyaan Steven berkecamuk dalam dirinya.


Jantung Katty berdegup kencang. Kedua netra biru menatap sayu hazel terang Steven. Keduanya bertatapan dalam keadaan begitu dekat, bahkan Katty bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Steven.


Seketika Katty tersadar. Akal sehatnya kembali. Nampak jelas rona merah di wajah nya. Gadis itu begitu malu. Katty menarik tubuh nya untuk menjauh dan menjaga jarak.


"A-ku harus turun sekarang, hari sudah malam. Kau juga harus istirahat. Terimakasih sudah mengantarku pulang Steve", ucap Katty hendak membuka handle pintu. Namun Steven menahannya.


"Kau belum memberiku jawaban apapun Katty".


Huhh..


"Aku harus memberikan jawaban apa? Semua ini terlalu cepat. Ciuman tadi tidak menandakan apapun, kita hanya terbawa suasana saja", ucap Katty mengalihkan perhatiannya keluar jendela. "Sudah lama sekali aku tidak merasakan sentuhan laki-laki. Saat kau mencium ku seperti tadi tentu saja mempengaruhi ku". Suara Katty terdengar begitu pelan, namun jelas ditelinga Steven.


Jemari Steven menarik lembut dagu Katty agar menatapnya. Kemudian jemari itu menjumput anak-anak rambut kebelakang telinga Katty. Wajah cantik itu nampak kian memutih. Tindakan Steven membuat aliran darahnya seakan berhenti. Seketika gelenyar aneh dirasakan Katty. Ia merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya, namun cepat-cepat ia mengenyahkan pikiran nya.


"Dia tidak mungkin menyukai ku. Steven mencium ku karena merindukan istrinya", batin Katty dengan pikirannya sendiri.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapan Katty. Aku ingin kau memikirkan apa yang aku katakan. Kita memang baru saja saling kenal, tapi aku menyukaimu. Aku tidak memungkiri, salah satu yang membuat ku yakin padamu karena kau akrab dengan Calista dan Samuel. Aku sangat tahu, Samuel tidak akan mempekerjakan orang jika orang itu tidak baik. Jadi pikirkanlah ucapan ku. Aku menunggu mu mengatakan bahwa kau siap memulai hubungan", ucap Steven lembut.


Katty memejamkan matanya sesaat, kemudian membuka matanya kembali. "Iya, aku akan memikirkan nya Steve. Aku harus turun sekarang. Hm...Kau harus hati-hati mengendarai mobil mu, karena besok pagi aku ingin kita makan pagi bersama lagi", ucap Katty tersenyum manis menatap Steven.


Steven menghembuskan nafasnya. "Iya. Malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak, aku tidak sabar menunggu hari esok".

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2