
Flamini menggendong tubuh Anabelle ala bridal style memasuki kamar private room, tempat yang dipilih Flamini menghabiskan malam pernikahan mereka. Anabelle kaget, namun ia segera melingkarkan tangannya pada leher suaminya.
Sepanjang jalan menuju kamar, suasana romantis terasa sekali. Sudut kiri dan kanan dipenuhi bunga mawar merah dan bunga lily putih yang terlihat berkilau karena cahaya lilin beraroma harum yang berbaris sebagai penerangan menuju kamar.
Hingga keduanya memasuki kamar mewah berukuran luas, bertema monokrom sesuai pilihan Anabelle waktu mengerjakan interiornya. Lagi-lagi menyeruak harum bunga yang seketika tercipta suasana romantis, menggugah selera untuk bercinta berlama-lama dengan pasangan di sana.
Flamini menurunkan tubuh Anabelle tepat di depan tempat tidur berukuran king size dengan balutan seprai berwarna silver. Tangan Flamini mulai aktif bekerja, membuka satu persatu aksesoris yang menghiasi rambut indah bergelombang berwarna hitam milik istrinya. permata hingga veil yang terjuntai satu persatu di lepaskan Flamini.
Tubuh keduanya begitu rapat, Anabelle bisa mendengar nafas menderu suaminya begitu pun Flamini dapat mendengarkan hembusan nafas istrinya yang tercekat.
Begitu semua aksesoris itu terlepas, rambut panjang Ana terjuntai sangat indah. Flamini tidak bisa menahan dirinya lagi, laki-laki itu langsung menyerang istrinya yang sedang berusaha melepaskan dalaman tuxedo yang masih melekat di tubuhnya.
Diserang sedemikian rupa, membuat Anabelle kelimpungan. Spontan ia membuka mulutnya. Flamini tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Ia melahap bibir Anabelle hingga dalam. Membuat tubuh Ana bergidik dan bergetar hebat menahan gelanyar yang di sebabkan oleh ciuman liar suaminya.
"Ahh .."
Suara lenguhan lolos dari bibir Anabelle.
"Aku terlalu menginginkan mu sayang. Sudah lama sekali aku menantikan saat-saat ini. Malam ini kita akan mereguk kenikmatan yang sempurna", bisik Flamini ditelinga Ana yang terdengar serak sangat seksi.
Anabelle memejamkan matanya, merasakan sensasi sentuhan tangan Flamini menyusuri tubuhnya yang masih tertutup gaun pengantin simpel berwarna putih.
Perlahan Ana membuka matanya, menatap kedua netra abu-abu terang suaminya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan memuja.
Tangan Anabelle mengusap bahu berotot Flamini dan perlahan jemari lentiknya melanjutkan pekerjaannya melepaskan satu-persatu kancing kemeja berwarna putih yang masih menutupi tubuh maskulin tersebut.
Begitupun jemari tangan Flami membuka pengait gaun pengantin istrinya, tanpa sedetikpun mengalihkan tatapan mata keduanya. Hanya tersisa satu kancing lagi, jemari Anabelle membuka kancing kemeja yang mencetak sempurna tubuh atletis Flamini. Namun gadis itu kesulitan melepas kancing terakhir. Flamini menggenggam tangan Anabelle yang ada di kancing kemejanya dan menarik kuat kemeja berwana putih itu lepas dari tubuh Flamini. Satu kancing terlepas dan jatuh di atas karpet tebal di atas lantai.
Keduanya kembali menautkan bibirnya. Memangut dengan liar.
__ADS_1
Beberapa kali Ana menelan salivanya sendiri dengan susah payah, menatap memuja pahatan sempurna tubuh laki-laki yang sekarang telah sah menjadi suaminya. Jemari lentik Ana bergerak menyusuri tubuh bagian depan Flami. Bergerak mengusap dada yang tercetak sempurna hingga mengusap lembut perut sixpack dan memutar jemari tangannya menyusuri dada bidang di hadapannya. Ana sudah begitu bergairah, matanya semakin berkabut dan membuka mulutnya. Membiarkan Flamini melakukan yang laki-laki itu inginkan.
Pengalaman Flamini tidak bisa bohong. Dalam sekejap Ana di buat tak berhenti mende*sah.
Sementara Flami berhasil melucuti gaun pengantin istrinya hingga teronggok di lantai. Yang tertinggal di tubuh putih mulus itu hanya bra berwarna navy dan panties berwarna senada. Tak mau mengulur waktu, Flamini membuka pengait bra Anabelle, dalam sekejap bra yang menutupi dada Ana terlepas.
Tubuh seksi Anabelle terpampang di hadapan Flamini. Laki-laki itu menatap lekat setiap jengkal tubuh indah nan seksi istrinya dengan penuh kekaguman. "Kau sangat seksi, Ana. Aku menyukai ukuran dada mu", bisik Flamini menatap puncak gundukan kenyal istrinya.
Flamini meremas perlahan gundukan yang berdiri begitu menantangnya itu. Kemudian Flami mengusap lembut bibir merah muda istrinya.
Ana menatap manik abu-abu pucat di hadapannya. Membalas sentuhan Flamini dengan jari lentik jemari-jemari tangannya. "Aku menyukai tubuh mu, kak. A-ku ingin merasakannya".
Flamini merasakan sentuhan jemari lentik Ana di dadanya, membuat tubuh itu begitu panas. Ditambah baru saja mendengar perkataan istrinya, semakin membuat laki-laki itu sulit mengontrol dirinya.
"Ah, shitt kau sangat menggodaku sayang", ucap Flamini mencium dan me*umat bibir Anabelle yang begitu menantang di hadapannya. Lidah Flamini dengan mudahnya menerobos masuk menjelajahi rongga mulut Anabelle yang sedari sudah terbuka seakan minta di masuki.
"Ahh, sayang..."
Suara de*ahan lolos dari bibir Anabelle, saat merasakan tangan suaminya meremas dan mencubit puncak dadanya.
"Kau sangat indah Anabelle Patricia", ucap Flamini sambil mengusap lembut puncak yang menantang dihadapannya. Flamini kembali mencium bibir Ana.
"Kakak curang. Kakak masih memakainya", lirih Ana sambil membuka sabuk dan menurunkan celana panjang suaminya.
Tersisa boxer berwarna hitam yang menutupi inti Flamini yang terlihat sudah sangat menonjol. Seperti ada ular berukuran besar yang meringkuk didalamnya.
Anabelle duduk ditepi tempat tidur dan menurunkan boxer yang masih menutupi inti Flamini. Mulutnya spontan mengeluarkan suara desisan saat melihat milik suaminya berukuran besar dan keras berdiri tegak menantang tepat di depan wajahnya.
Flamini membaringkan tubuh istrinya. Flamini melucuti kain terakhir yang menutupi inti Anabelle, panties berenda berwarna navy. Terlihat senyum samar dibibir Flamini melihat tubuh polos istrinya yang begitu indah di atas tempat tidur berukuran king size itu.
__ADS_1
Anabelle susah payah menguasai dirinya yang sudah berkabut gairah saat melihat tubuh polos suaminya. Tubuh yang begitu sempurna. Terutama saat menatap bagian bawah yang berdiri begitu perkasa dan menggoda sedari tadi. "Akh—"
Flamini menatap lembut kedua netra bening Ana, ia mensejajarkan wajahnya pada wajah istrinya yang terlihat semakin memutih. Flamini kembali membuai dan mengusap lembut puncak dada Anabelle. Di sentuh seperti itu membuat Ana menggigit bibir bawahnya menahan letupan gairah yang terus-menerus menguasai dirinya.
Flamini kembali mencium bibir hingga dada dan memainkan lidahnya yang basah di puncak dada Ana. Meninggalkan tanda merah di sana. Menghisap kuat dan memberikan gigitan kecil di puncaknya.
"Akh...kak, jangan di gigit. Sakit". Ana berulang kali melenguh dan menyebut nama suaminya dengan begitu lirih.
Flamini semakin menurunkan ciumannya hingga ke inti Ana. Jemari tangannya membuka lebar-lebar kedua paha Anabelle yang berusaha menghentikan suaminya dengan merapatkan pahanya.
"Jangan ditutup, aku menyukainya". Flamini menatap takjub inti istrinya yang berwarna merah muda. Dan begitu menggugah hasrat ingin merasakannya semakin mendalam.
Flamini ingin merasakan didalam sana dengan mulut nya, membuka kedua paha yang di rapatkan Valeria.
"Jangan di tutup sayang, aku ingin merasakan semua kenikmatan yang ada pada tubuh mu", ucap Flamini dengan suara terdengar serak.
Detik berikutnya..
"Ah...Akh"
Anabelle men*esah tak karuan saat merasakan lidah suaminya bermain-main di intinya. Ana menjerit sambil meremas kuat seprai berwarna silver. Sesekali ia mengangkat wajahnya menatap apa yang di lakukan suaminya di bawah sana hingga wanita itu merasakan miliknya berkedut meledak. Ana menjerit lirih, namun bukannya menghentikan aktivitas nya, Flami semakin menjadi menggelitik milik istrinya dengan lidahnya yang basah.
"Owh God, sayang aku mohon hentikan! Kau membuatku ingin meledak". Racau Ana mengelijang sementara tangannya menekan kepala Flamini, sesekali meremas rambut nya.
"K-ak...aku mohon OHH.."
...***...
To be continue
__ADS_1