
"Sayang ayo kita berfoto di sini. Kau harus tahu, aku sangat menyukai football".
"Club favorit ku tentu saja Arsenal yang berada di kota kelahiran ku London. Selain itu, aku menyukai club Real Madrid", ucap Calista dengan wajah begitu bahagia ketika Samuel menuruti keinginannya berkunjung ke Stadion Santiago Bernabéu markas tim yang di sukai istrinya itu.
Terlihat Calista melakukan Selfi seorang diri. Bahkan ia melompat girang layaknya gadis belia yang di turuti kemauannya. "Sammy...ayo tersenyum. Aku ingin memiliki foto kita berdua".
Calista menempelkan wajahnya pada dada bidang Samuel memeluk erat pinggang suaminya, sementara Samuel yang memegang handphone dan mengambil gambarnya.
"Ahh, hasilnya bagus sekali Sammy. Terimakasih kau mengajak ku ke sini", ucap Calista tersenyum bahagia.
"Sam...aku ingin membeli pernak-pernik di sana", tunjuk Calista pada tempat penjualan pernak-pernik club yang dijual ditempat khusus.
"No Calista. Aku sudah menuruti mu kemari, sekarang kita ketempat lain saja", ujar Samuel menarik tangan istrinya.
Calista mencebikkan bibirnya. "Uhh...kenapa tidak boleh. Aku akan membelinya pakai uang ku sendiri", protes Calista kesal saat mereka sudah di dalam mobil Samuel.
"Aku jarang sekali berpergian, kenapa kau melarang ku untuk berbelanja".
"Karena aku tidak suka jika kau akan lama memilih-milih barang, aku akan mengajak mu ketempat romantis. Kau pasti menyukainya", bujuk Samuel ketika melihat wajah istrinya tertekuk.
"Uhh... terserah kau saja!"
"Hei, kau marah pada ku? Ingat Cali, kita ini sedang berbulan madu. Masak seharian ini kau menghabiskan waktu kita di stadion bola. Aku ingin ketempat yang romantis bukan stadion bola", ujar Samuel sambil mengusap lembut wajah istrinya yang masih cemberut.
"Terserah kau saja. Awas saja kalau tempat yang kau maksud tidak menarik, aku akan kembali ke stadion Bernabéu?", ketus Calista kesal.
Samuel tersenyum melihatnya. "Kau sangat menggemaskan kalau sedang kesal begitu, sayang", goda Samuel sambil membelokkan mobilnya. Calista membaca plang nama bertulisan Royal Palace of Madrid
"Sam...kau mengajakku ke istana Kerajaan Madrid?"
"Hem".
"Tapi kenapa kau masuk dari pintu utama seperti ini? Seharusnya kau beli tiket dulu Sam", ucap Calista menunjuk jalan sebelah kanan yang seharusnya di lalui Samuel. Tapi Samuel malah masuk ke jalan khusus yang hanya boleh di lalui anggota keluarga atau kerabat kerajaan.
__ADS_1
Saat di gerbang Samuel memperlihatkan tanda pengenal dan berbicara dalam bahasa Spanyol pada penjaga yang memeriksa keamanan mobil Samuel.
Tak lama penjaga memberikan izin pada Samuel untuk masuk ke dalam. Calista menatap wajah suaminya. "Who are you, Sammy?"
Samuel tidak menggubris pertanyaan istrinya. Mobil sudah parkir di tempat dengan sempurna. "Ayo turun", ucap Samuel membuka pintu Calista dan mengulurkan tangannya.
"Samuel Geraldo... Akhirnya kau mengunjungi kami".
Seorang laki-laki terlihat aristokrat, yang usianya tidak berbeda dari Samuel keluar dari dalam dan menyapa Samuel dengan hangat dan bersahabat. Di belakangnya nampak wanita yang berpenampilan elegan menggenggam tangan kedua gadis kecil dengan wajah yang sangat mirip. "Hai paman Samuel", sapa keduanya berbarengan.
"Mella-Mellya...wah kalian sudah semakin tinggi sekarang", balas Samuel.
"Philip, kenalkan istri ku Calista. Sayang...Philip dan istrinya Aida adalah teman baikku saat kuliah mengambil gelar master di Harvard", ujar Samuel menjelaskan persahabatannya dengan salah satu pewaris kerajaan itu. Sebenarnya Philip tidak tinggal di sana, ia tinggal di tempat lain. Namun karena Samuel mengatakan akan mengajak istrinya yang akan melihat istana maka Philip dan Aída serta kedua putri mereka berada di sana.
Calista menyambut uluran tangan Philip dan Aída. Ia juga menyambut uluran tangan gadis kecil Mella-Mellya.
"Sebaiknya kita santap siang sebelum berkeliling istana ini", ucap Aída mengajak suaminya dan Samuel masuk.
*
"Aku dan Philip senang sekarang Samuel sudah memiliki pendamping hidup. Dan ia sangat mencintaimu, Calista. Aku bisa melihatnya, Samuel tak henti menatap mu dan saat makan tadi, ia selalu perhatian padamu. Samuel sudah lama sendiri, terbelenggu dengan kepergian Amber tunangannya. Aku senang melihat sebahagia sekarang", ujar Aída.
Calista yang sedang melihat barang-barang antik kerajaan, menatap Aída. "Apa kalian mengenal Amber juga?"
"Tentu saja. Saat kami masih kuliah, Amber sering mengunjungi Samuel di Boston. Kami sering menghabiskan waktu berempat. Bahkan di saat aku dan Philip menikah Samuel dan Amber datang juga. Tapi, takdir berkata lain...aku dan Philip berjodoh hingga memiliki putri kembar kami, sementara maut memisahkan Samuel dan Amber", ucap Aida sambil menatap suaminya dan Samuel yang sedang berbincang akrab. Bahkan Samuel memangku salah satu putri Aida dan Philip.
Samuel sangat akrab dengan mereka. Ia juga ternyata sangat menyayangi anak-anak. Terlihat ketika Mella-Mellya begitu dekat dengan Samuel. Perasaan Calista menghangat ketika melihat Samuel sangat menyukai anak-anak. Sisi lain suaminya yang baru Calista ketahui.
*
"Apa kau menyukai tempat yang kita kunjungi?", tanya Samuel saat ia dan Calista sudah di dalam mobil.
"Iya sayang. Terimakasih karena kau mengajakku ketempat istimewa", jawab Calista memeluk pinggang Samuel sambil menyandarkan wajahnya pada bahu laki-laki yang sangat di cintainya itu.
__ADS_1
"Sam...apa kau menyukai anak-anak?"
Samuel tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Tentu saja aku menyukainya".
"Bagaimana kalau aku hamil, apa kau akan mencintai anak yang lahir dari ku?"
Samuel menepikan mobilnya ke sisi sebelah kiri jalan yang di laluinya. Sekarang hujan turun membasahi bumi kota Madrid.
Samuel mengangkat dagu Calista agar menatapnya. "Tentu saja aku akan mencintai anak-anak ku, Cali. Aku melakukannya dalam keadaan sadar, sejak bercinta dengan mu tak sekalipun aku memakai pengaman. Kau sangat nikmat dan aku sangat menyukainya. Aku tidak akan memakai pengaman terkutuk itu", jawab Samuel mengecup bibir istrinya.
"Apa yang Aída cerita kan pada mu, hem?"
Calista menyatukan jemari tangannya pada jemari tangan Samuel. "Ia menceritakan kalian berempat sangat akrab. Amber sering mengunjungi mu di Boston", jawab Calista.
"Saat bercinta dengan Amber apa kau tidak pakai pengaman juga?"
Terlihat Samuel menghembuskan nafasnya sambil kembali melajukan mobilnya. "Aku selalu pakai pengaman. Amber belum menginginkan anak kala itu. Kami sama-sama masih kuliah".
Kedua tangan Calista semakin memeluk pinggang Samuel hingga sampai di mansion.
Samuel dan Calista masuk ke dalam. Terlihat pelayan menyambut mereka.
Samuel langsung mengajak istrinya ke kamar yang ada di lantai tiga.
Saat di kamar mereka, netra Calista melihat paper bag dengan logo yang sangat di kenalnya. "Sayang...kau membelikan aku pernak-pernik bola?", ucap Calista terlihat begitu senang. Ia menghambur kedalam pelukan Samuel yang rebahan di atas tempat tidur mereka. "Terimakasih sayang.."
"Apa hanya begini cara mu berterima kasih, hem? Aku akan mengajari mu cara berterima kasih yang benar pada ku...!"
...***...
To be continue
Bagi vote ya mumpung hari Senin 🙏
__ADS_1