
Flamini berdiri dari tempat duduknya, begitu melihat Steven dan Katty turun dari kamar mereka menemui dirinya di lobby hotel tempat pernikahan Steven dan Katty semalam.
Flamini memeluk tubuh temannya. Dan mengucapkan selamat pada Steven dan Katty. "Maaf semalam aku tidak sempat mengikuti acara kalian sampai selesai, ada sesuatu hal. Semalam aku harus pergi", ujar Flamini menatap Steven dan Katty bergantian.
"Sudahlah tidak apa-apa. Sekarang cerita kan ada apa dengan mu, Flamini", jawab Steven sambil menuntun istrinya untuk duduk. Sementara Katty lebih banyak diam, ia hanya ingin mendengar apa yang akan di katakan Flamini. Makanya Katty bersedia turun ikut suaminya menemui laki-laki itu, karena menyangkut Anabelle adiknya.
"Aku benar-benar kacau Steve. Makanya aku menelepon mu semalam. Maafkan aku mengganggu privasi kalian".
"Bisa kau bayangkan, sudah beberapa minggu aku mencari gadis itu, dan ternyata aku melihatnya di pernikahan kalian semalam".
Aku salah menilai. Selama ini aku menganggap nya gadis baik, ternyata dia tidak sepolos wajahnya. Aku pikir Anabelle wanita yang berbeda dari wanita-wanita yang sering bersama ku. Uhh...ternyata sama saja. Bahkan lebih parah. Ana bersama pria tua. Ia tidak malu menunjukkan siapa dirinya pada orang-orang sekitar. Berpelukan mesra, mencium wajah laki-laki itu. Benar-benar menjijikkan", ucap Flamini dengan raut wajah memendam amarah dan kecewanya mengingat apa yang di lakukan Anabelle semalam, tanpa menyadari bahwa Flamini memperhatikannya dengan perasaan bergemuruh menahan amarah dalam dirinya.
Mendengar perkataan Flamini sontak membuat Katty berdiri.
"Apa maksud mu memberikan penilaian seperti itu pada Anabelle Flamini? Adikku tidak seperti itu! Kau jangan macam-macam padanya. Aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti adik ku!", hardik Katty dengan suara cukup keras. Untung saja suasana di lobby sepi, karena masih pagi dan diluar sedang hujan deras.
"Sayang...tenangkan diri mu". Steven membujuk istrinya untuk tenang dan kembali duduk. Bicara dengan kepala dingin.
__ADS_1
Melihat reaksi Katty, jelas saja Flamini terkejut. Flamini menatap Katty dan Steven bergantian, tidak percaya apa yang didengarnya. "Adik?"
"Anabelle adik Katty, Flami. Dan laki-laki yang kau maksud itu adalah ayah nya. Ayah Katty dan Ana. Papa mertua ku", jawab Steven menjelaskan kesalahan pahaman Flamini.
"Oh my God". Flamini mengusap wajahnya dengan kasar. Laki-laki itu benar-benar menyesal dan mengumpati dirinya yang begitu bodoh.
"Bagaimana mungkin kau gegabah, menarik kesimpulan seperti itu Flamini. Itu bukan dirimu sekali".
Dengan mata terpejam Flamini mengenadahkan wajah nya, sementara tangannya memijat-mijat keningnya.
"Ana membuatku seperti orang bodoh. Aku tidak tahu harus apa menghadapi perasaan ku. Aku jatuh cinta padanya. Tiga minggu aku mencarinya, namun begitu sulit menemukannya. Kau tahu kan bagaimana aku sangat frustasi ingin menemui Anabelle, Steve. Aku tidak main-main dengan perasaan ini. Aku menyukai adik kalian".
"Bantu aku menemuinya. Ana belum tahu tentang perasaan ku, ia pergi malam itu dalam keadaan marah dan menangis karena aku mencium nya. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri ku lagi".
Kata-kata Flamini terdengar begitu mendalam. Katty dan Steven tahu Flamini berkata jujur apa adanya.
"Aku tidak akan memaksakan kehendak. Aku akan menerima keputusan Ana dan tidak akan berusaha mencari dan menemui nya lagi jika ia menolak ku. Aku hanya ingin mendengar langsung jawaban dari Ana".
__ADS_1
*
"Sayang kenapa kau menangis. Bukankah kuliah di sana atas keinginan mu sendiri?", ucap Ethan mengusap lembut rambut panjang Anabelle yang menangis sesenggukan dalam dekapan ayahnya.
"Tapi aku tidak bisa bertemu papa dan kakak lagi. Aku akan merindukan kalian", jawab Anabelle dengan suara bergetar.
Keduanya berada di ruang tamu apartemen Katty. Di sana juga ada pelayan yang akan membersihkan rumah dan perawat Ethan yang yang di pekerjakan Steven dan Katty. Keduanya pun ikut merasa terharu menyaksikan Ana dan Ethan yang berpelukan.
Beberapa saat lagi Ana harus ke bandara mengejar cita-citanya di benua lain. Gadis itu telah memutuskan.
Semalaman gadis itu menangis dan tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Sejujurnya yang ia tangisi bukanlah Ethan, karena ayahnya sekarang jauh lebih baik. Di tambah lagi suami kakaknya adalah dokter yang menangani Ethan. Tentu saja tidak ada yang perlu Ana kuatir kan.
Yang membuat Ana menangis adalah Flamini. Kata-kata Flamini begitu membuat perasaan Anabelle sakit. Laki-laki itu benar-benar membuat nya menangis. Dengan gamblang Flamini menuduhnya sebagai wanita murahan semalam. Flamini juga memperlakukannya sangat kasar layaknya sebagai wanita yang dituduhkan nya.
"Aku sudah bulat untuk pergi. Aku yakin dengan belajar akan membuat aku melupakan semuanya. Juga laki-laki itu", batin Anabelle sambil mengusap air matanya sebelum menaiki taksi yang sudah menunggu nya.
...***...
__ADS_1
To be continue