PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
RINDU DAN KESEPIAN


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu...


Sebuah ruangan mewah disalah satu apartemen yang berada di pusat kota London nampak begitu menyeramkan, tidak ada pencahayaan. Gelap tanpa sinar sedikitpun. Hanya ada sinar remang-remang memantul dari lampu yang menyala di luar ruangan itu.


Sekilas ruangan itu seperti kosong tak ada yang menempati.


Tok


Tok


Terdengar ketukan di luar, namun tak ada sahutan.


Ceklek...


"Kenapa kau menemui ku Owen? Apa kau membawa kabar tentang istri ku?"


"Jangan coba-coba menghidupkan lampu, aku tidak menyukainya!"


Terdengar hembusan nafas Owen. Sembari menatap atasannya yang selalu duduk di sudut ruangan itu di temani sebotol wiski sejak satu bulan belakangan ini. Bahkan jambang di wajahnya telah tumbuh liar dan tak terawat begitupun rambutnya terlihat tak di urus. Bahkan saat tiga hari yang lalu Owen menemuinya, Samuel masih memakai pakaian yang sama.


Owen membuang nafasnya dengan kasar.


"Tuan sampai kapan anda akan seperti ini? Perusahaan Abraham membutuhkan anda tuan Samuel", ucap Owen masih berdiri di tempatnya semula.


Tidak ada jawaban. Hanya terdengar dentingan botol wiski beradu dengan gelas yang ada di meja depannya.


Samuel benar-benar seperti orang frustrasi yang kehilangan arah. Bahkan tidak ada yang akan mengenalinya dengan penampilan seperti itu, bahwa ia pemilik perusahaan sebesar perusahaan Abraham Groups.


Sudah sebulan lebih Samuel belum juga mendapatkan kabar tentang Calista istrinya. Bahkan ia sudah mengerahkan semua orang-orang suruhan nya untuk mencari keberadaan istrinya, tetapi tetap nihil. Calista hilang bak di telan bumi.

__ADS_1


Setiap hari Samuel memerintah kan orangnya untuk mengecek rumah sakit di kota London bahkan di kota-kota lainnya setelah Calista pergi, namun tidak membuahkan hasil sama sekali. Bahkan Samuel sudah berpikir hal buruk menimpa Calista, yang membuatnya semakin frustasi dan merasa bersalah. Hingga ia tidak memiliki semangat hidup lagi. Menghabiskan waktunya dengan melukis wajah istrinya dan minum-minuman keras. Tidak ada yang bisa membujuk Samuel termasuk Aniston sang mama yang begitu sedih melihat Samuel lagi-lagi down dan patah hati yang mendalam karena wanita.


Tiap hari Samuel hanya memikirkan kondisi Calista dan bayi yang di kandungnya. Samuel berharap Calista kembali padanya dan memaafkan kesalahannya.


Samuel sadar betul, semua berawal dari emosi yang menguasai dirinya saat mengetahui bahwa ucapan Nathan benar, mengatakan bahwa Calista lah yang menyebabkan Amber meninggal. Amarah Samuel semakin menjadi-jadi saat mengetahui jantung Calista ternyata milik tunangannya.


Namun setelah mendengar perkataan Gema pelayan nya yang mengatakan kemungkinan Calista hamil membuat Samuel memutuskan pagi itu akan menemui Calista di mansion nya. Namun yang didapatkan Samuel, istrinya telah pergi. Hingga kini Samuel tidak pernah lagi menatap langsung wajah istrinya lagi. Apalagi memeluknya. Samuel hanya bisa memandang wajah Calista dari handphone miliknya yang di tinggalkan nya saat ia pergi.


Setiap hari Samuel menyalahkan dirinya sendiri, hingga ia membenamkan diri pada minuman alkohol di ruangan khusus itu. Yang tidak boleh siapapun memasuki nya kecuali Owen dan Aniston. Samuel enggan untuk datang ke perusahaan lagi. Ia hanya melukis dan melukis di ruangan gelap itu. Ruangan khusus tersebut penuh dengan kanvas. Hanya satu yang menjadi objek lukisan Samuel. Yaitu wajah Calista hingga wajah mungil bayi yang di gendong Calista. Semua lukisan berdasarkan imajinasinya.


Bagi Samuel dengan melukis Calista ia tidak akan pernah melupakan istrinya. Wajahnya, tubuhnya dan renyah suaranya. Semuanya terpatri dalam ingatan laki-laki itu secara mendalam.


*


"Aku tidak akan ke perusahaan jika istriku belum di ketemukan. Kau urus semua pekerjaan ku di perusahaan itu, Owen", perintah Samuel terlihat tak bersemangat.


"Aku pasti melakukannya tuan. Tapi tuan tetap di perlukan untuk sesekali datang kekantor, sembari menunggu orang-orang kita mencari keberadaan nona Calista", ucap Owen.


Drt


Drt


"Maaf tuan, saya harus mengangkat telpon, ini dari orang suruhan tuan mungkin penting".


Samuel tidak menjawabnya, ia menuangkan kembali wiski kedalam gelasnya dan meneguknya.


Beberapa saat kemudian..


"Tuan...Ayah istri anda tuan Justin terlihat di bandara baru saja mendarat.

__ADS_1


Samuel menegakkan tubuhnya, menatap Owen.


"Tuan Justin, terlihat bersama asistennya saja", ujar Owen menjelaskan.


Samuel nampak berpikir sejenak. "Segera hubungi pihaknya, atur pertemuan ku dengannya besok", perintah Samuel berdiri dari tempat duduknya.


"Kau pulanglah Owen. Besok kau kemari lagi, aku akan ke kantor ku!", tegas Samuel.


"Baik tuan. Saya akan kembali besok pagi. Kalau begitu saya permisi", jawab Owen tersenyum. Jawaban bos-nya itu bertanda baik bagi Owen.


*


Untuk yang pertama kali setelah Calista pergi Samuel masuk lagi ke kamarnya yang biasanya ia habiskan bersama Calista.


Bahkan harum tubuh istrinya itu masih begitu melekat di kamar itu.


Satu lukisan Calista terpasang di dinding kamar. Tepatnya tempat di mana selama ini terpasang tiga lukisan Amber.


Beberapa saat yang lalu Samuel meminta pelayan menyimpan lukisan Amber dan di ganti dengan lukisan Calista. Sementara di dinding lainnya terpasang foto pernikahan Samuel dan Calista dengan pigura berwarna gold.


Di nakas pun nampak foto Samuel dan Calista saat berpelukan mesra.


Bahkan di ruangan lainnya Samuel memajang foto-foto ia dan istrinya.


"Dimana kau sayang. Aku sangat merindukan mu. Aku harap kau dan anak kita baik-baik saja, Cali. Maafkan aku", ucap Samuel menyandarkan kepalanya pada ujung tempat tidur.


Perasaannya begitu hampa. Lagi-lagi rasa rindu teramat sangat menyiksanya. "Kembali lah pada ku sayang. Aku begitu kehilangan mu, Calista..."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2