
"Aku juga mencintaimu Sam..."
Suara Calista terdengar begitu lirih. Samuel menarik tubuh Calista kedalam dekapannya.
"Aku mencintaimu Cali. Sejak beberapa waktu yang lalu aku sudah merasakan perasaan yang berbeda pada mu. Tapi aku terlalu takut mengakuinya. Apalagi ketika kita berada di London. Setelah bercinta dengan mu aku akan kembali menampik perasaan yang aku rasakan. Semakin aku berusaha menolaknya semakin aku merasakan perasaan yang kuat pada mu. Hingga kita berada di kota ini dan semalaman kita menghabiskan waktu bersama aku benar-benar tidak tahan lagi. Perasaan ini benar-benar menyiksaku", ucap Samuel membawa jemari Calista ke dadanya. Merasakan debaran jantungnya.
Calista bisa merasakan nya. Calista menatap Samuel dengan mata berkaca-kaca. "A-pa ada tempat bagiku di hati mu yang terisi penuh oleh Amber, Sam? Apa kau bisa menempatkan aku di relung hatimu walau hanya sedikit saja. Aku tidak meminta setengah hati mu. Aku hanya meminta sedikit saja untuk menempatkan aku di tempat yang selama ini di isi hati Amber. Agar kau tidak melupakan aku. Aku ingin seperti Amber, walaupun ia sudah pergi kau selalu mengingat nya", ucap Calista pelan menatap netra coklat terang Samuel dengan mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lirih.
Samuel mengecup lembut kening Calista. "Tentu saja. Walaupun sejujurnya aku belum bisa menghapus Amber sepenuhnya di hatiku, tapi sejak mengenal mu aku tidak bisa membohongi diri ku sendiri. Kau menempati sisi-sisi tersendiri di relung hatiku, Cali", ucap Samuel sambil membingkai wajah Calista. Jemari tangan Samuel menghapus air mata istrinya. Tubuh keduanya berhadapan dan saling menatap lekat dengan perasaan mendalam.
"A-ku mencintaimu Sammy. Saat aku memberikan tubuh ku sepenuhnya pada mu malam itu, bibirku berucap kita dua orang asing yang berakhir di tempat tidur karena saling membutuhkan kehangatan. Nyatanya hatiku berkhianat. Aku tidak bisa melupakan mu, aku selalu mengingat sentuhan lembut mu pada tubuh ku malam itu", ucap Calista mengungkapkan perasaanya dengan jujur.
"Aku mencintaimu sepenuh hati ku", ucap Calista menyatukan bibirnya pada bibir Samuel. Samuel tidak menyia-nyiakan nya, ia pun membalas tautan bibir Calista yang sudah menjadi candu nya.
Calista menindih tubuh Samuel keduanya masih dalam kondisi polos. Namun kali ini terasa berbeda dari yang sudah, karena telah saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.
__ADS_1
"Aku ingin kau melukis ku dalam keadaan telanjang. Aku ingin kau mengingatku... aku ingin kau mengingat setiap jengkal tubuh ku", bisik Calista sambil menggigit lembut telinga Samuel. "Apa kau bersedia melakukannya untuk ku?"
Samuel membalikkan keadaan. Sekarang ia di atas tubuh Calista. Bibirnya menyusuri tubuh seksi Istrinya, dan terhenti di bekas operasi jantung Calista. Samuel mengecup nya kemudian semakin turun kebawah hingga perut rata Calista.
Samuel benar-benar lihai menggoda tubuh Calista. De*ahan kembali memenuhi kamar itu. Ketika merasakan mulut Samuel mengulum puncak dadanya. Terasa geli dan luar biasa. "Akh–Sammy.."
"Kita lakukan sekarang! Aku akan melukis mu dalam kondisi mu seperti ini. Aku menyukai wajah mu yang sedang bergairah dan rambut mu yang berantakan seperti itu. Kau sangat seksi Calista".
Calista menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar sedang di kuasai hasrat yang menggelora sekarang, tiba-tiba Samuel melepaskannya.
Samuel sudah di depan kanvas lukis yang ada di kamarnya. Bahkan tubuhnya masih polos tak tertutup apapun. Calista tidak tahan melihat tubuh maskulin dan seksi itu berdiri di hadapannya. "Ahh Sam, apa kau akan menyiksaku...?"
Tidak butuh waktu yang lama untuk sebuah sketsa. Kemudian menyapukan warna putih dan hitam. Samuel ingin melukis istrinya dengan dua warna saja hitam dan putih. Warna sakral baginya.
Setelah beberapa saat kemudian Samuel tersenyum. "Selesai!"
__ADS_1
"What? Secepat ini?", ujar Calista tidak percaya. Wanita itu langsung melompat turun dan mendekati Samuel sambil memakai kemeja hitam Samuel ke tubuhnya.
Kedua netra hitam Calista menatap tak percaya hasil lukisan suaminya. Calista menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Oh my God, bagaimana mungkin bisa sesempurna ini. Kau melukis ku sayang. Dalam waktu yang begitu singkat?!".
"Samuel menarik pinggang Calista duduk di pahanya. "Jelas bisa. Karena suasana hatiku begitu bahagia. Untuk menghasilkan lukisan terbaik itu, pilih lah waktu bahagia atau sedih. Pasti hasilnya sempurna karena pelukis melakukannya dengan penuh perasaan dan sangat menjiwai", ucap Samuel sambil mengecup leher Calista. sementara tangannya melingkar di perut rata istrinya itu.
"Apa kau melukis ku dalam suasana hati bahagia?"
"Tepat sekali".
Calista menyandarkan kepalanya pada bahu Samuel. Satu tangannya mengusap lembut wajah tampan Samuel sementara tangan satunya lagi mengusap lengan laki-laki itu yang berada diperutnya.
"Saat melukis Amber, apa perasaan mu sedang sedih, Sam?"
"Iya. Aku melukis nya di apartemen kami di London. Setelah beberapa hari Amber meninggal. Itu lukisan terakhir ku di kota London. Setelahnya aku memutuskan tinggal di kota ini. Aku berusaha mengubur kenangan pedih di London. Tak satu pun foto Amber ada di tempat ini maupun di mansion ku. Kau sudah melihatnya sendiri. Itulah kenapa aku mengajak mu ke Madrid, aku ingin memastikan perasaan ku Calista. Ternyata benar saja. Aku memiliki perasaan mendalam pada mu. Aku mencintaimu sayang..."
__ADS_1
...***...
To be continue