
"T-uan Steven?"
"Kau asisten istri temanku Samuel kan...?"
"Iya tuan...ehm dok, saya Katty asisten nona Calista", jawab Katty gelagapan. Gadis itu mempertegas pertanyaan Steven.
"Apa kalian berdua sudah saling mengenal?", tanya Arthur menatap Steven dan Katty bergantian.
"Iya pah..."
"Iya dok..."
Jawab Steven dan Katty berbarengan. Namun Katty kaget mendengar jawaban Steven. 'Pah'... katanya?
"Good. Itu lebih baik kalau kalian sudah saling mengenal. Kau bisa mempelajari kasus pasien bernama Ethan, orang tua Katty. Ayah yakin kau bisa menanganinya, Steven", ucap Arthur dari kursinya sambil menyodorkan berkas di atas meja.
Steven langsung duduk di kursi kosong sebelah Katty. Sekilas Katty menatapnya. Steven terlihat berbeda dari waktu itu, saat mereka bertemu di ruang kerja Samuel. Sekarang Steven seperti dokter pada umumnya, memakai jas berwarna putih dengan Stetoskop yang tergantung di lehernya.
Steven memakai kacamata bacanya. Ia terlihat fokus membaca riwayat kesehatan Ethan. Steven bersedia menangani pasien setelah mendengar keterangan sang ayah tentang penyakit yang di deritanya. Bahkan Arthur menyatakan peluang hidup pasien 30% saja. Sebagai seorang dokter, tentu saja ia terpanggil untuk menyelamatkan sang pasien. Apalagi peluang hidup tetap di milikinya walau hanya 30% saja.
Jiwa Steven tergerak, sekilas ia mengingat Layla istrinya yang tetap semangat hingga di detik-detik terakhir menghembuskan nafasnya ia menyerah juga.
Steven menolehkan wajahnya menatap Katty dan Arthur bergantian. "Aku akan menangani ayah mu. Aku mengerti kau dan keluarga mu pasti ingin melihat orang yang kalian sayangi membaik kondisinya. Aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan melakukan yang terbaik untuk ayahmu".
Katty tertunduk. Perasaannya menghangat, sementara matanya berkaca-kaca mendengar ketulusan ucapan Steven. "Terimakasih tuan...hm d-okter", jawab Katty masih tertunduk.
"Kau boleh memanggil nama ku saja. Steven. Jangan sungkan untuk bertanya apapun tentang ayahmu", ujar Steven dengan hangat.
Katty mengangkat wajahnya dan menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sekarang aku tenang, karena kau mau menangani pasien ayah di rumah sakit ini, Steve. Aku senang kau sudah mengenal putra ku, Katty. Seperti kata Steven, kau bisa bertanya langsung padanya mulai sekarang tentang ayahmu", ujar Arthur tersenyum ramah.
"Iya dok, terimakasih untuk semua bantuan dokter selama ini pada ayah ku", jawab Katty.
*
"Apa kau tidak akan berenang, sayang? Kenapa kau hanya duduk saja di sana", ucap Samuel dari tengah kolam renang. Namun ucapannya tidak di gubris Calista yang nampak asyik membaca buku di kursi yang terletak di tepi kolam renang.
"Cali, kalau sudah membaca serius seperti itu pasti lupa segalanya. Padahal ia yang mengajakku berenang. Jangan-jangan ia mengerjai ku lagi seperti semalam", gumam Samuel sambil berenang ketepian kolam.
Laki-laki itu naik ke atas dengan tubuh basah kuyup. Tanpa suara ia mendekati istrinya dan menundukkan kepalanya mencium bibir Calista. Calista yang kaget tindakan Samuel melototkan kedua matanya.
"Sammy....kau basah. Lihatlah aku dan buku ku basah semua", protes Calista sambil mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Samuel tertawa jahil. "Salah sendiri, kenapa kau suka sekali mengerjain suami mu. Kali ini kau tidak akan berhasil mengerjain ku, sayang.
"S-am...kau mau apa? Uh..."
"Aku akan menghukum mu. Kau sudah berani bermain-main dengan ku dari semalam. Di malam buta kau berhasil menyuruhku membuat nasi goreng spesial untuk mu dan kau dengan santainya tertidur pulas. Sekarang juga...tadi kau merengek memintaku menemani mu berenang, kau malah asyik dengan buku mu itu".
Samuel menyampaikan komplainnya sambil menyusuri tubuh Calista. Jemari tangannya sudah menyelusup masuk dari bagian bawah kaos longgar Calista.
Calista tidak bisa lagi membantah ucapan suaminya. Wanita itu memejamkan matanya menikmati sensasi yang di timbulkan oleh sentuhan Samuel.
"Akh–"
Calista menatap Samuel. Jemari tangannya mengusap lembut bibir suaminya. "Baiklah...Aku akan bertanggungjawab sekarang. Kau boleh menghukum ku sesuai keinginan mu, tuan Samuel", ucap Calista dengan nada sedikit menantang. Bahkan mulutnya terbuka, seakan siap menerima serangan suaminya.
Kesempatan yang tidak akan di sia-siakan Samuel. "Aku akan memberikan hukuman yang berat kali ini, agar kau tidak bermain-main lagi dengan suami mu, sayang".
__ADS_1
Samuel me*umat dengan liat bibir ranum istrinya. Menyapukan lidahnya kerongga mulut Calista. Membelit lidah istrinya yang sudah mengeluarkan suara erangan.
Tidak sampai di situ saja, Samuel membuka kaos yang dipakai Calista dan melemparkannya ke sembarang tempat. Samuel senang ternyata istrinya sudah tidak memakai bra. Sehingga memudahkan nya bermain-main dengan dada kenyal dan padat itu. Samuel menghisap kuat puncak nya, kembali meninggalkan tanda merah di sekitar puncaknya.
"Ah sayang.."
"Aku tidak akan mengampuni mu kali ini. Aku akan membuat mu berteriak. Aku tidak akan perduli teriakan mu akan di dengar orang", ucap Samuel dengan suara serak, mengigit dan mencubit puncak gundukan Calista.
"Akh Sam, sakit sayang....jangan di gigit".
"Kau layak dihukum". Jemari Samuel menyusuri setiap jengkal tubuh Calista, bahkan sekarang jemari itu bermain-main di inti istrinya. Membuat Calista gelisah. Memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Bahkan ia merasakan intinya berkedut- kedut akibat perbuatan Samuel. "Akh Sammy".
Samuel tahu, istrinya sudah mendapatkan pelepasan pertamanya. Senyum samar menghiasi bibir Samuel. Ia senang melihat wajah pasrah dan kacau istrinya saat mendapatkan orga*me. Sangat seksi.
"Akh–Sam. S-ayang apa kita akan melakukan nya di sini, bagaimana kalau ada yang naik kelantai ini?"
"Tidak ada yang akan berani naik kelantai private kita, kecuali kita yang meminta datang", jawab Samuel kembali melanjutkan pekerjaannya.
Keduanya dalam posisi duduk, Calista memeluk leher Samuel dan menatapnya dengan mata sayu berkabut gairah yang membuncah dalam dirinya. Begitupun Samuel membalas tatapan itu dengan sorot berkabut.
"Aku akan membuatmu semakin berteriak, sayang. Kau nakal jadi harus di hukum", bisik Samuel.
"Aku siap menerima hukuman mu, sayang", jawab Calista menggigit lembut telinga Samuel yang sudah berhasil melepaskan panties tipis yang menutupi intinya.
Keduanya berciuman mesra dan saling menyentuh area sensitif di tubuh pasangan. Hingga keduanya menjerit kan nama dan terkulai sehabis melakukan pergumulan panas di sofa kolam renang.
...***...
To be continue
__ADS_1