PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
SUARA DI BALIK PINTU


__ADS_3

Ceklek..


Calista membuka pintu kamarnya. Dengan perut kian membesar, Calista terlihat tetap cantik dan segar. Bahkan Samuel selalu merindukan istrinya. Semakin ingin cepat-cepat pulang ke rumah saat jauh dari Calista.


"Sayang kau dari mana, hem?"


Samuel sedang memakai kemeja kerja yang telah disiapkan Calista beberapa saat yang lalu. Kemeja berwarna abu-abu senada dengan stelan blazer dengan motif kotak-kotak kecil.


"Dari kamar anak kita. Aku senang sekali berada di sana. Sebenarnya aku sangat penasaran apa jenis kelamin anak kita ini, Sam", ucap Calista. Ia membantu suaminya memasang dasi.


Samuel tersenyum mendengar perkataan Calista.


"Biar menjadi kejutan saja. Apapun jenisnya adalah anugerah terindah dalam hidup kita", jawab Samuel melingkarkan tangannya pada pinggang Calista.


"Kata teman-teman ku yang sudah memiliki anak, kalau selama hamil semakin suka berdandan anakku nanti perempuan. Jika sebaliknya bisa jadi anak ku nanti laki-laki. Masalah nya saat aku kandungan ku masih muda aku tidak suka berdandan. Dan sekarang aku semakin suka berdandan", ucap Calista dengan serius.


Samuel tidak bisa menahan tawanya melihat wajah istrinya lucu begitu.


"Kau sangat menggemaskan sekali sayang. Apa kau percaya hal seperti itu, hem?", tanya Samuel sambil mengusap wajah Calista dengan punggung tangannya.


"Tidak juga. Tapi aku memikirkannya", jawab Calista jujur.


"Tidak perlu di pikirkan apapun jenis nya adalah anugerah untuk kita, Cali. Yang paling penting untuk ku, kau dan calon anak kita baik-baik saja sampai melahirkan nantinya", ucap Samuel mengecup lembut bibir istrinya.


Calista menyandarkan jemari tangannya pada dada bidang Samuel mengusapnya perlahan.


Bagi Samuel dan Calista tidak akan pernah cukup jika hanya bersentuhan ringan saja. Pada akhirnya menginginkan lebih. Seperti sekarang...berawal dari kecupan kecil yang membuat keduanya saling menginginkan lebih lanjut.


"Ah sayang...kau selalu membuatku menginginkan mu", ujar Samuel membawa jemari tangan Calista merasakan miliknya yang terasa sesak di dalam sana.

__ADS_1


"Tapi kau mau bekerja sayang, katamu ada meeting pagi ini?"


"Ini jauh lebih penting. Tidak bisa di tunda", jawab Samuel menarik tengkuk Calista dan melahapnya dengan rakus. Jika sudah seperti itu Calista hanya bisa pasrah karena sesungguhnya ia pun selalu menginginkan Samuel. Satu-satunya pria yang bisa membuatnya lupa segalanya.


*


"Pah, maafkan Ana tidak bisa menemani papa sarapan pagi ini. Karena aku harus menggantikan atasan ku menemui klien penting satu jam ke depan", ujar Ana pamit pada Ethan.


"Tapi tenang saja semua menu kesukaan papa sudah aku siapkan. Berta sudah datang untuk menemani papa", ucap Anabelle menunjuk wanita yang sudah di pekerjakan di rumah mereka semenjak dirinya sudah magang di perusahaan.


"Iya sayang, kau tidak perlu kuatir pada papa nak, papa baik-baik saja. Kau harus bekerja dengan baik dan jangan lupa dengan kuliah mu, Ana. Papa ingin datang ke wisuda mu nanti".


"Tentu saja aku ingat selalu nasehat papa. Atasan ku sudah berjanji akan mengangkat ku menjadi karyawan tetap jika aku berhasil mendapatkan proyek yang akan aku tangani pagi ini, pah. Papa doakan saja agar pekerjaan ku pagi ini lancar, bisa menyelesaikan urusan dengan pimpinan yang menyebalkan itu...Tuan Cazandro", cicit Anabelle mengingat kejadian yang membuatnya kesal kemarin.


*


Sekarang pukul tujuh tiga puluh menit. Artinya masih ada sisa waktu tiga puluh menit lagi dari jadwal yang ditentukan Cazandro.


Ting..


Anabelle keluar lift di lantai lima puluh tempat kemarin. Ia bisa langsung kelantai tersebut karena kemarin sudah memiliki akses yang diberikan asisten pemilik perusahaan tersebut.


Di lantai itu sekarang masih sepi sekali. Bahkan lebih sunyi dari kemarin. Anabelle nampak ragu-ragu melangkahkan kakinya.


"Nona Anabelle, anda sudah datang sepagi ini?"


Anabelle menolehkan kepalanya menatap laki-laki tampan yang ia tahu sebagai asisten tuan Cazandro.


"Iya tuan. Bukankan tuan kemarin mengatakan bahwa tuan Cazandro tidak menyukai bekerjasama dengan orang yang tidak on time?"

__ADS_1


Ucapan Anabelle membuat laki-laki itu menggaruk kepalanya sendiri. "Iya...nona benar sekali. Ayo ikuti saya".


Anabelle menganggukkan kepalanya. Mengikuti asisten Cazandro. Nampak laki-laki itu membuka sebuah pintu berwarna hitam.


"Silahkan tunggu didalam nona, tuan Cazandro sudah ada di dalam. Ia menyuruh nona menunggu di ruangannya".


Anabelle mengedarkan perhatian nya ke penjuru ruangan megah itu. Tidak ada siapapun di sana. Namun ia tidak mau bersikap lancang dengan bertanya pada laki-laki di hadapannya sekarang ini.


Anabelle mengedarkan pandangannya, menelusuri ruangan tersebut. Ia yang mengerti tentang interior sangat mengagumi tata letak dan pilihan furniture modern yang ada di sana. Tak ada satu pigura foto pun di ruangan itu. Tidak seperti di ruangan yang dimasukinya kemarin. "Sangat berkelas", batin Anabelle.


"Nona Anabelle silahkan duduk menunggu tuan Cazandro selesai dengan pekerjaannya. Saya harus keluar menyiapkan berkas yang dibutuhkan untuk kerjasama ini".


"Baik tuan", jawab Anabelle singkat.


Lima menit berlalu, Anabelle duduk di sofa empuk. Sesaat gadis itu mendengar suara aneh di ruangan kerja mewah tersebut. Namun cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada siapapun di ruangan ini", gumam Anabelle tersenyum. "Bagaimana bisa aku berpikiran macam-macam seperti ini. Huhh", gumamnya lagi menahan tawanya.


Anabelle membuka map dan mengambil beberapa lembar kertas, berkas yang sudah beberapa hari ini ia pelajari. Anabelle nampak begitu fokus.


Namun suara itu...kembali mengusiknya. Sontak membuat Anabelle berdiri dari tempat duduknya. Dengan sendirinya Anabelle melangkahkan kakinya mendekati sumber suara yang di dengarnya. Gadis itu terlihat ragu-ragu, namun ia sangat penasaran. Rasa ingin tahunya meronta.


Manik bening Anabelle menatap salah satu pintu yang berada di sisi kanannya. Ia menempelkan telinganya ke pintu itu.


Seketika tubuh Anabelle bergidik. Ternyata suara itu jelas nyata bukan halusinasi nya. De*ahan dan erangan semakin jelas terdengar. Telinga Anabelle menangkap suara berisik sekali di dalam sana.


Dengan mulut menganga, tubuh Anabelle tercekat, tepat ketika pintu itu terbuka.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2