PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
TERHARU MENERIMA KEJUTAN SAMUEL II


__ADS_3

"Jadi kau sebenarnya tidak mencintai ku, hem? Kau menikah dengan ku, sebagai bentuk pertanggungjawaban mu saja..?"


Cepat-cepat Calista menggelengkan kepalanya. Ia melingkarkan tangannya pada leher Samuel. "Awal mengenal mu, tentu saja aku tidak memiliki perasaan apa-apa padamu. Hm...saat kau mencium ku di ruang rapat itu sebenarnya membuatku begitu kesal, bibir ku berucap ketus tapi tidak dengan tubuhku, aku akui ciuman mu meninggalkan bekas dalam kepalaku meskipun belum membuat hatiku bergetar, tapi cukup mempengaruhi ku. Kau tahu setelah itu aku pulang dan menangis. Aku menangis karena aku lemah dihadapan mu", ujar Calista mengakui perasaannya kala itu


"Aku benar-benar memiliki perasaan mendalam pada mu, saat kita tidur untuk pertama kali. Setelah nya aku selalu mengingat sentuhan mu. Kau sangat lihai menggoda ku", bisik Calista ditelinga Samuel. Suaranya terdengar me*esah. "Dan aku benar-benar menyukai mu dan menginginkan mu, saat aku menawarkan pernikahan".


Hembusan nafas Calista membuat saraf-saraf Samuel bekerja aktif, membuat letupan hasrat yang tiba-tiba membuncah dalam dadanya.


Keduanya berciuman mesra. Lidah Samuel membelit lidah Calista, menyapu lembut rongga mulut istrinya.


Terdengar suara mendesis dari mulut Calista. "Ssttt..."


Seakan menulikan pendengaran nya, Samuel duduk di atas tempat tidur dilapisi sperai putih bersih. Laki-laki itu menarik pinggang Calista, mendudukkan nya di atas pahanya. Samuel melanjutkan tautan bibirnya, memenuhi mulut Calista. Cukup lama keduanya berciuman mesra hingga terdengar ketukan di pintu kamar mereka.


Samuel enggan melepaskan buaiannya. Meskipun terdengar ketukan di pintu. "Ah shitt mengganggu saja", umpat nya kesal.

__ADS_1


"Sayang, lihatlah mungkin penting", jawab Calista berdiri dari pangkuan suaminya sambil merapikan pakaiannya yang sudah terbuka ulah Samuel.


Sementara suaminya membuka pintu, Calista melihat walk in closet dan ruang wardrobe yang menyatu dengan kamar mandi. Kedua netra Calista terpaku menatap sebuah lukisan yang tertempel di dinding. Wanita yang sedang memangku seorang bayinya. Calista menyadari wanita itu seperti dirinya sendiri.


"Aku melukis mu dan anak kita sesuai imajinasi ku saja", ucap Samuel yang tiba-tiba sudah ada di belakang Calista.


"Bagaimana bisa kau melukis begitu mirip dengan ku? padahal aku tidak ada saat kau melukis nya".


Saat kau pergi, aku hanya melukis mu saja. Aku tidak mau hal terkecil apapun tentang mu hilang dari ingatan ku. Meskipun kau pergi aku mengingat setiap jengkal tubuh mu", jawab Samuel.


"Ah sayang...itulah yang aku inginkan. Saat aku pergi kau tetap mengingat ku, sama seperti kau mengingat Amber", ucap Calista menyandarkan wajahnya pada dada bidang Samuel yang memeluknya erat.


"Masih ada lagi kejutannya? Apalagi Sam? Huhhh...kenapa kau suka sekali membuat ku penasaran Sammy? Aku tidak sabar jika harus menerka-nerka sayang", ucap Calista bergelayut manja di lengan suaminya.


"Kau tidak sabaran sekali", goda Samuel sambil mencubit ujung hidung istrinya.

__ADS_1


Tiba di lantai tiga kedua mata Calista langsung tertarik dengan kolam renang berlantai biru terang dengan atap yang bisa di tutup atau pun di buka sesuai keinginan. Di sisi kolam renang tersebut terdapat taman. "Sayang aku ingin berenang sekarang. Aku tidak lelah kok, tubuh ku baik-baik saja. Ayo kita berenang sekarang Sammy", rengek Calista menarik lengan suaminya. Bahkan Calista membayangkan adegan romantis ditepian kolam renang itu.


"Nanti saja berenang nya. Apa kau tidak penasaran dengan kejutan yang aku janjikan pada mu, hem?"


"Huhh kau ini selalu saja main rahasiaan pada istri mu sendiri. Katakan saja apa kejutan mu itu, sekarang aku ingin berenang", ujar Calista sambil membuka satu persatu kancing dress motif floral yang melekat ditubuhnya.


"Ck...tidak sabaran sekali". Samuel menarik pelan tangan Calista menuju ruangan yang letaknya paling ujung dilantai tiga.


Sepertinya ruangan itu khusus, tidak boleh siapapun memasuki nya, karena Calista melihat Samuel memegang langsung kuncinya dan membuka pintu ruangan tersebut.


Saat pintu terbuka menyeruak aroma parfum maskulin Samuel. Calista terpaku melihat yang ada di ruangan luas tersebut. Iris bening itu tidak bisa menahan buliran bening menyentuh wajahnya. Seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat di depan matanya.


"Sammy...?!"


...***...

__ADS_1


To be continue


Bagi vote ya mumpung hari Senin 🙏


__ADS_2