
Seminggu telah berlalu..
"Nona anda sangat cantik sekali. Kecantikan nona Calista begitu sempurna. Tidak sulit untuk merias wajah nona yang sudah memiliki kecantikan alami seperti ini", ucap make-up artist yang sudah langganan Calista ketika akan menghadiri acara resmi.
"Ah kau berlebihan sekali Holly. Mana mungkin aku cantik, sekarang tubuhku sedang berbadan dua. Lihatlah baju-bajuku sudah tidak ada yang muat lagi", jawab Calista tertawa mendengar pujian makeup artist bertubuh gemulai itu.
"Tapi aku bahagia dengan keadaanku sekarang Holly karena aku sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, melahirkan anak dari laki-laki yang sangat aku cintai".
"Ya tentu saja. Saya bisa melihatnya. Kebahagiaan nona Calista begitu memancar dari wajah yang berseri-seri dan siapapun yang melihatnya pasti tahu nona sangat bahagia", ucap Holly sambil menyapukan kuas ke wajah Calista.
"Perfecto".
Calista tersenyum mendengar pujian Holly.
"Sebenarnya yang hebat itu kamu Holly, hasil sapuan tanganmu selalu membuat ku puas", Ujar Calista sambil menelisik penampilannya di depan cermin yang ada di ruang makeup di mansion nya.
"Kalian keluar lah.Tinggalkan aku berdua dengan istri ku!". Suara bariton Samuel mengejutkan Holly dan tim-nya yang ada tiga orang.
Cepat-cepat Holly mengajak ketiganya keluar ruangan itu.
Calista memandang suaminya dari pantulan cermin dihadapan nya. Samuel selalu tampil memukau. Ia sangat tampan dengan stelan tuxedo berwarna hitam dengan dalaman kemeja berwarna putih. Samuel sengaja milih model dan warna klasik.
Samuel pun menatap Calista tak berkedip. Malam ini Calista tampil anggun dengan gaun hamil dari perancang terkenal yang sudah di pesannya dua bulan yang lalu. Gaun berwarna hitam, berpadu dengan warna gold begitu cocok di tubuh Calista. Meskipun sedang hamil besar, aura kecantikan Calista tak lekang sedikit pun.
"Sayang kau sangat cantik sekali", bisik Samuel mengecup lembut leher harum istrinya.
"Sammy jangan diberi tanda merah aku malu di lihat orang", protes Calista mengetahui Samuel langsung memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Samuel mengambil kotak beludru berwarna hitam dari laci lemari. Dan mengambil sesuatu di dalamnya.
"Aku memesannya sebulan yang lalu", ucap Samuel melingkarkan tangannya keleher Calista yang tak bergeming didepan cermin.
"S-ammy kau membelikan aku kalung berlian lagi? Ah sayang ini sangat indah sekali", ucap Calista tersenyum bahagia sambil mengusap kalung berlian yang sudah tersemat di keleher nya.
"Apa kau menyukainya, hem?"
"Tentu saja aku sangat menyukainya sayang. Tapi kau tidak perlu membelikan aku berlian lagi, perhiasan ku sudah sangat banyak. Setiap ada acara begini kau selalu saja membelinya untuk ku, sayang", ucap Calista membalikkan tubuhnya dan mengusap dada bidang Samuel.
"Kecantikan mu sama seperti Kilauan diamond itu, Cali. Aku sangat mencintaimu sayang", ucap Samuel dengan mesra. Samuel menyatukan bibirnya dengan bibir Calista.
Samuel tidak main-main ketika mencium Calista. Buaiannya dalam sekejap mampu membuat tubuh Calista meremang.
Calista melingkarkan tangannya pada leher Samuel. Keduanya berciuman mesra dengan nafas memburu. Bahkan keduanya lupa bahwa mereka akan pergi ke pernikahan Katty dan Steven.
"Akh S-ayang.."
Ciuman Samuel benar-benar membuat Calista lupa segalanya. Hingga terdengar de*ahan dari mulut nya. Samuel baru menghentikan lu*atan bibirnya.
Jemari tangan Samuel mengusap lembut bibir Calista yang membengkak ulahnya. "Sebenarnya aku sangat ingin memasuki mu, Cali tapi kita harus pergi ke pernikahan teman kita".
Tidak ada jawaban Calista, ia masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "S-ayang rasanya sesak sekali..."
Calista nampak pucat. "Cali kau kenapa?"
"Aku sesak Sam", lirih Calista.
__ADS_1
Mendengar jawaban Calista Samuel segera membantu istrinya duduk. "Tarik nafas pelan-pelan kemudian hembuskan", ujar Samuel sambil membingkai wajah istrinya. "Bagaimana sekarang? Maafkan aku sayang".
Calista tersenyum mendengar kata maaf Samuel. "Yang menginginkannya bukan hanya dirimu, aku pun selalu menginginkan mu sayang", ucap Calista. Wanita itu mengecup rahang Samuel yang mengetat.
"Holly harus merapikan riasan mu lagi. Aku akan memanggilnya masuk".
Calista tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya sayang".
Samuel memanggil Holly dan tim nya kembali masuk keruangan itu.
"Oh my God Calista kenapa makeup mu jadi begini sih? Ihh...tuan Samuel anda nakal sekali, tuan harus bertanggungjawab. Aku akan menghukum mu tidak boleh berada di ruangan ini. Ruangan ini khusus untuk para wanita", cicit Holly dengan gaya melambai, mendorong tubuh Samuel keluar ruang makeup.
Tiga asisten nya hanya tertunduk pura-pura mengeluarkan peralatan makeup mereka. Hanya Holly yang berani seperti itu ada Samuel Geraldo Abraham.
Melihat Holly seperti itu pada suaminya Calista tidak bisa menahan tawanya. Bahkan Samuel tidak bisa berbuat apa-apa ketika Holly mendorong tubuh nya keluar. Wajah Samuel begitu lucu sementara tangannya menggaruk kepalanya sendiri.
"Huhh, suami mu ternyata benar-benar garang, nona Calista. Pantas saja kau cepat hamil dibuatnya, Cali"
"Huhh.. lihatlah rambut dan makeup mu menjadi kacau. Uh, leher mu sampai ada tanda merah, sayang. Aku harus bekerja keras supaya kau cantik kembali", ucap Holly menatap Calista memikirkan akan memulai dari mana dulu".
"Sekarang kita bekerja dengan aman tidak ada lagi gangguan dari laki-laki perkasa itu".
Calista tidak bisa menahan tawanya lagi, ia terpingkal-pingkal mendengar perkataan Holly tentang suaminya.
...***...
To be continue
__ADS_1