PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
BIRMINGHAM II


__ADS_3

"Katty...?"


Cepat-cepat Katty melepaskan pelukan Steven. "Dokter A-rthur.."


Arthur menatap putra nya fan Katty bergantian. "Jadi kalian ini.."


"Katty, kekasih ku pah", jawab Steven cepat memotong ucapan ayahnya.


Arthur terlihat menghembuskan nafasnya.


"Jadi Katty, yang membuat mu segera ingin menikah lagi nak?", tanya Arthur menatap Steven dan Katty bergantian setelah duduk di sofa ruang keluarga. Arthur duduk dan Adeline duduk dihadapan Steven dan Katty.


Lizzy juga duduk bersama mereka di ruangan itu. Tidak bisa dipungkiri tatapannya menajam tidak suka melihat Steven acap kali memperlihatkan kemesraan nya pada Katty. Yang menggenggam erat jemari tangan Katty dan membawanya ke atas pahanya saat ini.


"Saat melihat Katty pertama kali di ruangan papa, aku langsung jatuh hati padanya. Aku harap papa dan mama memberikan restu hubungan kami", ucap Steven meminta restu kedua orangtuanya. Sementara Katty lebih banyak diam dan menundukkan kepalanya.


Arthur dan Adeline saling bertukar pandang dan tersenyum. "Tentu saja papa dan mama merestui hubungan kalian. Papa senang melihat mu tidak berlarut-larut dalam kesedihan setelah kepergian istri mu, nak", jawab Arthur disambut anggukan kepala Adeline.


"Mama juga senang melihat kau kembali tersenyum Stevy. Mama harus berterima kasih pada mu Katty karena sudah membuat putra ku bahagia", ujar Adeline tersenyum hangat pada Katty yang mengangkat wajahnya menatap wanita itu.


"Aku mencintai Steven, mah", jawab Katty dengan suara terdengar begitu lembut.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan ku tante? Bukankah tante sudah berjanji ingin mendekatkan aku dan kak Steven seperti mendiang kakak ku?", ketus Lizzy yang tiba-tiba berdiri menatap tajam Katty.


"Kak Layla pasti tidak akan merestui hubungan kalian, ia ingin ku yang menggantikan nya mendampingi mu, kak. Bukan perempuan ini", ucap Lizzy dengan nada bicara keras.


Katty baru sadar sekarang, bahwa Lizzy adalah sepupu Layla. Steven sudah menceritakan bagaimana Layla memintanya menikahi sepupunya itu.


Sementara Adeline dan Arthur bertukar pandang. "Lizzy...cinta itu tidak bisa dipaksakan, nak. Tante bicara seperti itu pada mu karena tante pikir hubungan Steven dan Katty tidak serius ini. Ternyata aku salah. Katty gadis baik yang mampu membuat putra ku tersenyum bahagia lagi, tentu saja hal itulah yang kami inginkan. Melihat Steven bahagia. Mengertilah nak".


Lizzy menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kak Layla pasti tidak menyukai kak Steven menikahi wanita lain selain aku adik nya sendiri", ketus Lizzy dengan suara bergetar manahan tangisan.


Steven menarik nafasnya dalam-dalam. "Sudah berapa kali aku menolak keinginan Layla. Aku tidak bisa menikahi mu Lizzy. Aku hanya menganggap mu adik tidak lebih. Dalam hal ini, kau tidak usah membawa nama mendiang istri ku karena ia sudah tenang dan bahagia di Sana", tegas Steven dengan kata-kata tertata rapi dan jelas.


Lizzy membalikkan badannya dan berlari keluar.


Lizzy tidak mengindahkan panggilan Adeline dan Steven. Gadis itu keluar mansion.


"Sudah biarkan saja. Itu hak dia mau pergi kemana. Gadis itu kemari juga atas keinginannya sendiri kan, bukan kita yang mengundangnya", ujar Arthur sambil menyesap minumannya.


Adeline terlihat gugup. Ia ragu-ragu untuk bicara. Arthur menatap istrinya itu. "Ada apa sayang kenapa kau terlihat serba salah begitu?"


"Sebenarnya aku salah juga pada gadis itu. Sebenarnya aku yang memintanya datang kemari. Tapi aku tidak tahu bahwa Stevy dan Katty akan datang menemui kita, sayang", ujar Adeline menyesal.

__ADS_1


"Ah sudahlah, tidak usah di pikirkan. Lizzy bukan gadis kecil, ia sudah dewasa tahu mana yang baik dan buruk. Ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada anak ku", ucap Arthur.


"Iya, kau benar sayang", jawab Adeline.


Sementara Steven tersenyum. Tentu saja ia setuju dengan cara pikir ayahnya. Hanya Katty saja yang merasa sedikit tidak enak, ternyata perasaan Lizzy sudah sedalam itu ada Steven.


"Sebaiknya kita membahas tentang kalian saja. Jadi kapan rencana pernikahan kalian? Papa dan mama ingin kalian secepatnya menikah agar bisa segera memberikan cucu untuk kami"


Steven tersenyum mendengarnya. "Tentu saja. Besok pun jadi, tidak masalah untuk ku kan Katty. Iya kan sayang?"


Katty melebarkan kedua matanya mendengar Steven bicara menodong seperti itu. Tentu saja ia senang jika keluarga Steven menerimanya dengan hangat seperti ini, karena tujuan Steven mengajaknya menemui mereka adalah meminta restu pada Arthur dan Adeline.


Untuk menikah secepat itu tentu di luar perkiraan Katty. Karena Steven berjanji ia akan menunggu sampai Anabelle wisuda.


Sementara restu Ethan sang ayah pun sudah di dapatkan Katty dan Steven, tapi bukan berarti mereka menikah dalam minggu ini.


"Huh Steven ada-ada saja. Selalu mengejutkan ku..."


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2