PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
PENJELASAN JUSTIN


__ADS_3

Samuel melangkahkan kakinya memasuki perusahaan istrinya. Ia bersama Owen. Sekilas Samuel terlihat normal meskipun sorot matanya tidak bisa dipungkiri menampakkan kesedihan yang mendalam.


"Selamat pagi tuan Samuel. Saya Lavin, asisten tuan Justin", sapa laki-laki muda menyambut kedatangan Samuel di perusahaan yang sebelumnya sering di datangi Samuel.


"Hem..."


"Tuan Justin, sudah menunggu anda di ruangannya".


Lavin mempersilahkan Samuel melangkah lebih duluan masuk ke lift khusus.


Samuel menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya dimasukkan kedalam saku sata lift sudah bergerak ke atas.


Setelah di depan ruangan yang di tuju. Lavin mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam. Laki-laki itu segera membuka pintu. "Tuan Justin...tuan Samuel sudah datang", ucap Lavin dengan hormat.


Lavin membukakan pintu dengan lebar mempersilahkan Samuel masuk kedalam ruangan.


Justin yang terlihat sedang melamun dan memangku dagunya segera berdiri. Wajah laki-laki itu tersenyum hangat menyambut kedatangan Samuel.

__ADS_1


"Samuel, silahkan masuk nak", ucap Justin menghampiri Samuel dan memeluknya. Ini pertemuan pertama mereka secara langsung. Tapi saat menikah dan setelah nya sudah beberapa kali Samuel bersama Calista melakukan video call dengan Justin dan keluarga yang menetap di Swiss.


"Bagaimana kabar mu", tanya Justin pada menantunya itu sesaat keduanya duduk di sofa.


Samuel tersenyum kecut. "Hancur. Hatiku sangat hancur pa, aku belum bisa menemukan istri ku. Aku sangat merindukan istriku. Aku sangat menyakiti Calista", ucap Samuel tidak sanggup berucap lagi. Ia memalingkan wajahnya menutupi matanya yang berair.


"Hanya satu yang aku inginkan dalam hidup ku saat ini. Bertemu dengan istri ku. Aku akan meminta maaf kepadanya meskipun ia tidak mau memberikan maaf. Aku hanya ingin lihat Calista dan calon anakku baik-baik saja", ucap Samuel dengan suara serak.


Terlihat Justin mengusap dagunya, menatap lekat menantunya yang terlihat benar-benar hancur. Bahkan sedari tadi kening Samuel berkerut menandakan ia sedang banyak sekali pikiran dan memendam permasalahan.


"Samuel... sebenarnya papa lah yang salah. Sehingga terjadi seperti ini. Kau dan anak ku harus mengalami ini. Papa yang salah nak"


"Ketika di bawah ke rumah sakit pasca kecelakaan beruntun itu, kondisi putri ku kritis. Detak jantung yang dimilikinya hanya 15% saja. Peluang hidupnya sangat tipis. Aku benar-benar bersalah atas kejadian yang menimpa Calista. Saat itu uang yang aku miliki tidak ada gunanya sama sekali. Aku sanggup membeli jantung orang jika ada yang menjualnya. Tapi tidak ada yang menjual organ tubuh yang aku butuhkan untuk menyambung nyawa anakku", ucap Justin mengingat semua kejadian empat tahun yang lalu. Justin tidak bisa menutupi kesedihan mengingat kembali saat itu.


"Namun mukjizat itu datang, saat seorang korban kecelakaan yang di sebabkan putriku melihat ku menangis di depan ruangan anak ku. Gadis di ranjang pasien itu menatapku tanpa berkata-kata.


"Beberapa saat setelah itu dokter putriku memberitahu bahwa Calista telah mendapatkan donor jantung yang cocok dengan nya".

__ADS_1


"Ketika itu Calista tidak sadarkan diri. Setelah kecelakaan hingga esok harinya anakku baru siuman. Saat Cali sadar, Cali sudah memiliki jantung baru. Tapi ia masih di nyatakan kritis karena masih harus melewati tahapan observasi".


"Aku tidak tahu siapa yang mendonorkan jantungnya untuk anak ku. Karena pihak rumah tidak mau membocorkan siapa pemilik nya. Tapi aku memiliki firasat, gadis yang menatap aku menangis di depan ruangan Calista lah yang telah mendonorkan jantungnya untuk putri ku".


"Calista tidak membohongi mu, nak. Ia berkata yang sebenarnya, Cali memang tidak mengetahui siapa yang telah mendonorkan jantung pada nya. Dan aku pun tidak tahu siapa orangnya. Yang pasti orang itu sangat baik. Kami berhutang nyawa padanya".


Samuel mengusap wajahnya, sesaat ia menyandarkan kepalanya sambil menatap langit-langit ruang kerja Justin.


"Sementara, kenapa Calista tidak di penjara setelah menyebabkan kecelakaan beruntun itu, itu semua ide ku. Aku hanya ingin melindungi anak ku. Saat kau memiliki anak, kau akan tahu bagaimana rasanya. Apalagi sedari kecil aku menyaksikan rasa sakit yang kerap di rasakan putriku karena sakit nya. Papa tidak mau Calista menanggung sakitnya lagi, Sam. Hanya itu saja. Papa hanya ingin melihat Calista merasakan bahagia yang nyata, yang sesungguhnya. Hidup normal dengan jantung baru nya. Walaupun kebahagiaan itu tidak lama ia rasakan. Lagi-lagi anakku harus menderita karena ide ku".


"Papa hanya minta pada mu, jangan pernah menyalahkan Calista. Yang harus kau salahkan adalah aku", ucap Justin mengusap wajah nya dengan kasar.


Samuel terdiam. Menit berikutnya ia berucap..


"Yang aku inginkan hanya bertemu dengan istri ku, pa. Aku sudah bisa menerima masalah laluku. Aku sudah bisa menerima dan melupakan kepergian Amber. Tapi aku tidak bisa melupakan perbuatan pada Calista. Aku sangat menyakiti nya. Aku ingat betul tatapan memohon Calista pada ku kala itu, tapi aku tidak memperdulikan nya. Bahkan aku tidak memperhatikan kondisinya yang sedang sakit", ucap Samuel dengan mata memerah.


"Bagaimana caranya aku menemukan istri ku. Ia hilang bak ditelan bumi..."

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2