
Aku ingin kita tidak bertemu lagi, Steve. Cukup kau sebagai dokter ayah ku dan aku sebagai keluarga pasien mu", ucap Katty dengan kedua mata yang sudah memerah. Kedua netra nya terasa panas. Katty memalingkan wajahnya, ia tidak mau Steven salah paham ketika melihat matanya lembab.
Namun Steven langsung menarik dagu gadis itu agar menatapnya. Iris biru Katty bertukar pandang dengan hazel Steven. Katty tidak bisa menolaknya.
"Aku tidak setuju dengan ucapan mu barusan. Justru aku ingin kita semakin dekat dan semakin mengenal, Katty. Kalau karena pigura foto di ruangan ku bukan berarti aku belum bisa menerima kepergian Layla. Aku sudah mengikhlaskan kepergian istri ku karena ia memang sakit parah. Aku sudah melakukan pengobatan yang terbaik untuk Layla, tapi takdir berkehendak lain. Dan sekarang aku sudah membuka diri ku untuk wanita yang aku inginkan. Kehidupan berjalan terus, tentu aku ingin menemukan kebahagiaan ku yang lainnya. Layla tahu itu, bahkan saat sakit parah ia memintaku untuk menikahi sepupunya sendiri. Layla merasa bersalah karena tidak bisa melayani ku lagi. Tapi jelas-jelas aku tolak ide gila itu, karena istri ku masih ada dan membutuhkan aku di sampingnya".
"Aku seorang dokter setiap saat aku melihat orang sakit parah dan meninggal dunia. Tentu saja aku bisa menerima kepergian istri ku, apalagi kami sama-sama berjuang dan saling menguatkan selama menghadapi cobaan sakit Layla".
"Kau salah jika mengatakan aku mencium mu karena kesepian. Lebih tepatnya karena aku menginginkan nya", tegas Steven menatap lekat wajah Katty yang tertunduk.
"Kita memang baru saling mengenal. Tapi aku yakin dengan perasaan ku, yang aku rasakan ini adalah perasaan cinta. Aku sangat menyukai mu Katty. Aku laki-laki dewasa, aku tidak akan memaksamu menjawabnya sekarang. Yang aku lakukan saat ini adalah meyakinkan mu tentang perasaan ku", ucap Steven dengan lembut.
__ADS_1
Seketika perasaan Katty menghangat. Ia mengangkat wajahnya menatap Steven yang duduk sangat dekat dengannya.
"Aku takut, jika kau bersama ku tapi kau mengingat mendiang istri mu terus Steve. Aku tidak mau hal itu terjadi. Jujur saat bersama ku, aku menginginkan mu hanya memikirkan aku. Egois memang. Tapi itulah aku. Aku tidak mau menyembunyikan apa yang ku inginkan dari pasangan ku. Aku terbiasa terbuka dan menjunjung tinggi kejujuran. Aku sangat membenci pengkhianatan".
"Aku juga memberikan mu waktu untuk berpikir, Steven", ucap Katty menatap lekat wajah tampan laki-laki didekat nya itu.
Steven tersenyum, kedua tangannya membingkai wajah Katty. "Kau tidak perlu memberiku waktu untuk mendengar jawaban ku. Tentu saja aku sanggup melakukannya sesuai keinginan mu itu, Katty", jawab Steven yakin.
Untuk sesaat Steven dan Katty bertukar pandang.
Katty menyimak semua perkataan laki-laki itu. "Benarkah kau sebaik itu?"
__ADS_1
Jemari tangan Steven menarik tengkuk Katty. Me*umat bibir ranum yang terbuka itu. "Bagaimana aku membuktikan nya pada mu, agar kau percaya pada ku, Katty?"
"Atau aku tunjukkan saja dengan caraku, hem?"
Lidah Steven sudah membelit lidah Katty. Katty yang tidak siap tentu saja kaget dan spontan mendorong dada Steven. Terdengar suara mendesis dari mulut gadis itu. Namun tenaganya tak sebanding dengan Steven, laki-laki itu semakin memperdalam ciumannya. Bahkan begitu menuntut agar Katty membalasnya. Steven tak memberikan jeda Katty untuk menghirup udara disekitar mereka.
Ciuman yang tadinya begitu menuntut berubah menjadi lu*atan yang begitu lembut. Membuat tubuh Katty gemetaran dan menerima nya. Pada akhirnya Katty pun membalasnya.
Steven mendorong pelan tubuh Katty hingga terbaring telentang di bawah kungkungan tubuhnya. Sementara jemari Katty mencengkram erat tubuh Steven. Bibir keduanya saling bertautan. Seakan-akan saling membutuhkan kehangatan di pagi hari.
Hingga terdengar suara de*ahan dari bibir gadis itu. "Akh Steve..."
__ADS_1
...***...
To be continue