
Calista terjaga dari tidurnya. Dari cela kaca jendela sinar matahari pagi menerobos masuk ke private room yang ada di ruangan lukis Samuel di mansion yang sekarang menjadi tempat tinggal keduanya.
Semalaman Calista dan Samuel menghabiskan waktu dengan bergumul mereguk kenikmatan bercinta. Menyalurkan hasrat bergelora yang tiba-tiba menguasai diri masing-masing.
Calista tersenyum menatap wajah suaminya. Meskipun Sudah beberapa hari ia dan Samuel bersama lagi, namun bagi Calista tetap saja merasa istimewa. Apalagi setelah kembali ke London, Samuel memberi kejutan yang membuat hatinya begitu bahagia. Calista merasakan Samuel benar-benar mencintainya.
Sikap tulus itu diperlihatkan Samuel selama mereka bersama lagi. Tidak hanya dengan kata-kata cinta dan sayang, laki-laki itu menunjukkan secara tindakan juga yang membuat perasaan Calista berbunga-bunga setiap saat.
Jemari lentik Calista menyusuri wajah tampan Samuel yang masih terlelap. Jam di dinding menunjukkan angka tujuh pagi. "Kau sangat tampan, Sammy", ucap Calista dengan suara pelan.
”I know. Sudah puas memandang wajah tampan suami mu, hem?"
"Sayang...Kau sudah bangun?"
"Dari tadi. Saat kau masih terlelap", jawab Samuel menggoda istrinya yang terlihat malu-malu.
"Aku ingin membersihkan tubuh ku. Pagi ini Katty akan kemari. Sayang...apa aku boleh memakai ruang kerja mu?"
Samuel tersenyum mendengar pertanyaan Calista. "Tentu saja. Kau boleh melakukan apa saja di mansion ini. Semuanya milik mu. Kau juga boleh merubah sesuai keinginan mu", jawab Samuel sambil mengusap lembut wajah istrinya yang terlihat lebih berisi. Ia mengecup pucuk kepala istrinya. Samuel menyukai harum shampoo yang di pakai Calista.
"Sekarang mandilah. Aku juga harus pergi ke kantor"
Calista duduk ditepi tempat tidur. Ia hendak berdiri, namun Samuel menahannya.
__ADS_1
“Cali... Sebaiknya kau kurangi aktivitas mu di perusahaan mu. Aku tidak mau kau terlalu lelah bekerja. Awal kehamilan mu, kau sudah terlalu banyak mengalami goncangan dikarenakan hubungan kita. Aku tidak mau kau dan anak kita kenapa-napa Cali".
"Kau jangan kuatir, aku akan memantau perusahaan mu secara langsung", ucap Samuel menatap Calista sambil mengusap lembut perut istrinya yang semakin bertambah besar.
Calista terlihat sedang berpikir sejenak. "Tapi aku tidak apa-apa sayang. Sekarang tubuh ku baik-baik saja. Kau bisa melihatnya sendiri kan, aku bisa mengimbangi permainan liar mu itu", jawab Calista tanpa tedeng aling-aling.
"Itu berbeda, Cali.."
Samuel menarik pinggang istrinya dan mencium perut Calista yang masih polos.
"Saat bercinta kau tidak perlu menguras pikiran mu. Kau cukup menikmati sentuhan ku sambil men*esah dan mengerang. Sangat berbeda dengan urusan pekerjaan mu di perusahaan yang bisa membuat mu stres. Mengertilah Cali, aku sangat mengkuatirkan mu dan anak ku", ucap Samuel dengan penuh perasaan.
Calista tersenyum mendengar ucapan Samuel. Tentu saja ia senang, suaminya sangat perduli pada dirinya dan kandungannya. "Iya Sammy. Aku akan menuruti keinginan mu. Karena aku sangat mencintaimu dan anak kita", ujar Calista sambil mengusap lembut rambut suaminya yang sedang mencium perutnya.
"Ayo sekarang turun ke kamar di lantai dua. Aku juga harus bergegas ke kantor pagi ini".
"Iya Sammy".
*
“Katty kenapa kau bohong pada ku tentang suamiku. Huhh... Sejak kapan kau berani membohongi atasan mu, Katty?", ketus Calista menatap tajam asisten nya ketika keduanya berada di ruang kerja Samuel yang ada di mansion.
Katty menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu terlihat serba salah. "Maafkan saya nona Calista. Ayah nona memberikan perintah pada saya, kemudian tuan Samuel juga meminta hal yang sama. Semua saya lakukan untuk kebaikan nona sendiri. Sungguh saya sedih, sudah sebulan lebih melihat nona hanya menangis dan mengurung diri di kamar", jawab Katty memberikan alasannya.
__ADS_1
"Kali ini aku terima alasan mu itu. Tapi kau benar juga, perasaan aku sekarang sangat bahagia Katty. Aku juga merasa lebih baik. Hm... sebenarnya aku dan anakku harus berterima kasih atas penghianatan mu itu, Katty. Penghianatan yang membawa kebaikan untuk kami", ucap Calista tertawa.
"Saya senang melihat nona dan tuan sekarang sudah baik-baik saja. Wajah nona juga terlihat lebih segar dan berseri".
"Ah kau ini bisa saja".
"Oh ya nona, beberapa hari lagi hotel yang anda dan tuan Samuel bangun akan di launching. Apa nona akan hadir pada pembukaan itu di kota Leeds?"
"Aku belum tahu akan datang atau tidak, kau tahu sendiri suami ku sangat overprotektif sekarang pada ku. Aku harus berbicara dulu dengan Samuel".
"Iya nona. Tapi seharusnya nona Calista senang memiliki suami seperti tuan Samuel yang benar-benar mencintai dan menyayangi nona dengan tulus. Tentu saja saya juga mau laki-laki seperti tuan Samuel. Perhatian, tampan dan kaya", jawab Katty ceplas-ceplos lupa sedang berbicara pada siapa. Bahkan ia menarik ujung rambutnya sendiri sambil mengingat-ingat kelebihan suami bos-nya itu.
"Katty...."
Teriakan Calista mengejutkan Katty yang segera menutup rapat mulutnya dengan jemari tangannya. "Huftt...Maafkan saya nona Calista. S-aya tidak bermaksud lancang. Hm..saya hanya mengagumi tuan Samuel sebagai laki-laki sempurna. Itu saja nona. Anda jangan salah paham", ucap Katty mempertegas maksud ucapan beberapa saat yang lalu.
Calista tersenyum mendengar perkataan asisten nya itu. "Iya kau benar sekali. Sekarang aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Samuel benar-benar mencintai ku dan calon anak kami. Setiap saat ia membuat perasaan ku bahagia yang tak terhingga. Samuel laki-laki yang tahu cara mencintai pasangannya. Aku sangat mencintai suamiku, Katty".
Katty tersenyum mendengarnya. "Tentu saja. Kebahagiaan nona saat ini jelas memancar dari wajah nona. Orang-orang pasti bisa melihat kebahagiaan nona saat ini".
...***...
To be continue
__ADS_1