PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
KATTY'S FEELINGS


__ADS_3

"Kau mabuk Katty...?"


Katty menolehkan kepalanya menatap laki-laki yang berdiri menyandarkan bahu nya kedinding sambil melipat tangan ke depan dadanya.


Katty mengerjap-ngerjapkan kedua netra nya, kemudian jemari tangannya mengucek mata. Menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya. "Aku berhalusinasi. Tidak mungkin dia", gumam Katty sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Katty memejamkan matanya, sementara tangan kanannya memijat keningnya.


"Kau tidak berhalusinasi Katty, aku sengaja menyusul mu ke Leeds. Aku pergi bersama Samuel".


Seketika tubuh Katty melonjak bangun. Gadis itu duduk ditepi tempat tidur. "Steven... Kau sungguhan? Bagaimana bisa kau masuk ke kamar ku?", ucap Katty tak percaya melihat Steven benar-benar ada.


"Kenapa kau tidak menunggu ku di ruangan ku Katty? Bukankah kau sudah janji semalam, mengajak ku sarapan bersama mu?", tanya Steven tanpa mengindahkan rasa kaget Katty melihat kehadiran nya.


Jemari Katty kembali memijat keningnya. Pusing. Tapi ia masih mendapatkan kesadaran nya. "Aku terlambat datang keruangan mu, karena bersama papa. Saat aku datang, kau sedang berada di ruang operasi", jawab Katty pelan. Jemari tangannya masih memijat keningnya. "Ah, kepalaku pusing".


Steven mengambil beberapa butir obat di dalam tasnya, kemudian mengambil air minum nakas. "Minumlah". Steven memberikan pil pada gadis itu. "Kenapa kau sampai mabuk begini Katty?"


Steven berdiri dihadapan Katty sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Sorot matanya menatap lekat wajah Katty yang nampak pucat. Jemari Steven meraba kening Katty. "Apa yang kau lakukan sampai kelelahan begini. Sebaiknya sekarang kau istirahat, nanti saja kita bicara".

__ADS_1


Katty menganggukkan kepalanya pelan. Steven membantu Katty merebahkan tubuhnya. Laki-laki itu duduk ditepi tempat tidur. Sekarang terdengar nafas Katty sudah teratur menandakan gadis itu sudah terlelap karena kelelahan dan reaksi obat yang diberikan Steven padanya.


Steven masih duduk di tepi tempat tidur, tak sedetikpun ia mengalihkan perhatiannya dari wajah Katty. Perlahan jemari tangannya mengusap wajah gadis itu. "Kenapa kau minum alkohol jika tubuh mu tidak kuat Katty", ucap Steven mengusap lembut bibir ranum Katty sambil menundukkan wajahnya mengecup nya. Kemudian Steven menyelimuti tubuh gadis itu.


*


Sinar matahari pagi menerobos masuk dari celah-celah jendela kaca kamar. Katty mengerjapkan kelopak matanya karena merasa silau yang menusuk hingga ke retina mata.


"Kau sudah bangun, Katty? Semalaman kau tidur nyenyak sekali. Bahkan kau tidur tak bergerak sedikitpun".


"Steven..kau benar-benar ada? Aku pikir semalam aku mimpi melihat mu?"


Katty bangun dan duduk di ujung tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya. "Bagaimana bisa kau masuk ke kamar ku?"


Katty berusaha menghindari tatapan mata Steven yang memandang nya dengan intens begitu. Membuat debaran jantung nya berdegup kencang. Bagaimana tidak, jika semalaman di saat ia terlelap ternyata Steven ada di kamarnya itu juga.


"Bukan hal sulit. Samuel dan Calista membantu ku. Mereka memberi askes masuk ke kamar mu", jawab Steven dengan santainya sambil menyeruput susu hangat.

__ADS_1


Katty memeluk lututnya. "Huh...pantas saja nona Calista memberiku libur dua hari secara mendadak sore kemarin, tuan Samuel juga berulangkali bertanya dan berucap agar aku menikmati hari libur ku. Ternyata semuanya sudah diatur", gumam Katty semakin mengeratkan tangannya pada lututnya. Bahkan ia masih memakai baju yang sama dengan kemarin saat meeting.


"Atas permintaan ku", jawab Steven singkat.


Katty menatap Steven, yang duduk bersandar sambil menyilangkan kakinya. Laki-laki itu terlihat santai. "Kenapa kau melakukannya? Untuk apa?"


"Untuk bersama mu. Memangnya apa lagi?", jawab Steven berdiri dari tempat duduknya menghampiri Katty yang terdiam tak bergeming mencerna jawaban Steven.


Steven duduk di tepi tempat tidur. Tanpa ragu-ragu jemari tangannya mengusap lembut wajah Katty yang diam tak bergeming. Namun kedua netra biru gadis itu menatap wajah Steven.


"Ada yang salah tentang kita, Steve. Aku salah mengartikan, aku terlalu cepat berharap pada mu", ucap Katty dengan mata menghangat dan berkaca-kaca. Katty ingin menyampaikan isi hatinya sekarang juga pada Steven.


"Kau mencium ku hanya karena kau kesepian saja. Sementara aku terbawa perasaan setelah ciuman itu. Kemarin saat di ruangan mu, ketika melihat pigura foto mu dan mendiang istri mu aku sadar kau mencium ku karena kau kesepian saja yang tidak berarti apa-apa untuk mu. Aku ingin kita tidak bertemu lagi, Steve. Cukup kau sebagai dokter ayah ku dan aku sebagai keluarga pasien mu", ucap Katty dengan kedua mata yang sudah memerah.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2