PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
FLASHBACK


__ADS_3

Hujan deras membasahi kota Birmingham. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi tak ada pantulan cahaya dari luar jendela kamar hotel yang semalam menjadi saksi bisu terjadi niat busuk Lizzy menjebak Steven sekaligus malam panas Steven dan Katty.


Steven tersenyum menatap Katty dengan tubuh polosnya yang banyak terdapat tanda-tanda merah akibat ulahnya. Steven baru saja selesai mandi dan masih memakai bathrobe berwarna abu-abu menutupi tubuh atletisnya. Rambutnya pun masih nampak lembab.


Katty menggerakkan tubuhnya sambil mengerjapkan kelopak matanya. Sejenak merasa aneh berada di kamar asing itu. Saat matanya terbuka sempurna, Katty melihat Steven yang menghampiri nya.


"Sayang...kau sudah bangun?"


Katty mengambil selimut tebal spontan menutupi tubuhnya. Kesadarannya sudah kembali terkumpul.


"Kenapa harus ditutupi, aku sudah melihatnya dan merasakannya", ucap Steven dengan lembut. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajah polos Katty yang tampak meringis ketika ia akan duduk.


Semburat merah terpancar dari wajah Katty. Ia benar-benar malu mengingat kejadian semalam. Steven tersenyum menatap kekasihnya malu-malu seperti itu. Wajahnya sangat menggemaskan. Membuat Steven memajukan wajahnya mencium lembut bibir Katty.


"Maafkan aku sayang. Aku menyakiti mu semalam. Aku tidak bisa mengontrol diriku dari pengaruh obat perangsang yang di masukkan wanita gila itu", ucap Steven sangat menyesal. Steven menyesal karena tidak bisa bermain lembut padahal bagi Katty untuk yang pertama kalinya.


"Sebaiknya kau berendam air hangat sekarang, setelah itu aku akan memoleskan krim agar kau cepat pulih. Sean sudah membeli krim untuk mu".


Katty menganggukkan kepalanya, masih dengan wajah meringis menahan rasa perih di pusat tubuhnya.


"Steve ..bagaimana Sean bisa membantu mu?"


"Ia sedang mengurus pekerjaan nya. Ternyata Flamini baru saja mengakuisisi saham club dan hotel ini. Aku juga baru mengetahui nya dari Sean. Sean melihat ku dalam kondisi tak berdaya dan memerintahkan orang mengikuti ku", jawab Steven. "Aku beruntung karena ada yang menolong ku. Aku berterimakasih pada Sean karena ia, Lizzy tidak bisa mewujudkan niat jahatnya padaku dan sekarang gadis itu masih berada di kantor polisi. Pengacara ku akan menuntut nya. Gadis gila itu layak menerima ganjaran perbuatannya", tegas Steven.


"Semalam aku sangat kuatir pada mu, Steve. Aku sangat cemas", ujar Katty memeluk erat tubuh laki-laki yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Steven tersenyum, ia mengecup kening Katty.


"Aku tidak menyangka gadis itu sangat nekat. Bahkan ia sangat gila demi mewujudkan keinginannya. Ternyata penilaian ku pada Lizzy benar. Sedari dulu aku tidak pernah percaya pada Lizzy. Ia sangat pintar, mendekati Layla pura-pura prihatin dengan penderitaan Layla ternyata ada rencana busuk di balik itu semua. Ternyata yang aku pikirkan tentang Lizzy benar adanya", ketus Steven.


"Aku senang kebusukan terbongkar, walaupun Layla tidak bisa menyaksikannya betapa culas saudara nya itu".


Katty mengeratkan pelukannya pada tubuh Steven. Kemudian ia mengangkat wajahnya menatap lembut Steven.


"Steve...aku bersedia mempercepat pernikahan kita", ujar Katty menatap penuh cinta Steven.


"Benarkah sayang? Kau bersedia mempercepat pernikahan kita?", tanya Steven terlihat senang begitu bahagia mendengar perkataan Katty.


Cepat-cepat Katty menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, aku bersedia mempercepat pernikahan kita", jawab Katty dengan pasti.


Flashback


Sean sedang berbincang dengan manajer club malam yang baru saja di beli bos-nya Flamini. Club itu sekarang sudah memiliki pemilik baru. Flamini memerintahkan Sean mengecek kondisi club dan hotel yang menyatu di satu area tersebut.


"Tuan Flamini akan merehab beberapa bagian ruang kerjanya ini. Ia juga akan menambah fasilitas hotel", ucap Sean pada manajer yang bernama Harry.


Sean menyesap minumannya di depan kaca lebar dari ruang kerja yang nantinya akan menjadi ruangan Flamini jika ia berada di club. Sean melihat pengunjung yang sedang ramai. Namun matanya fokus menatap dua orang pria yang sedang memegangi tubuh seseorang. Sean tampak mengenali laki-laki yang nampak sepertinya tidak sadar tersebut mungkin karena minuman yang menyebabkan nya mabuk.


"Tuan Steven? Tidak mungkin ia mabuk, ia seorang dokter", ucap Sean pada dirinya.


Jiwa asisten yang harus cepat tanggap di tunjuk kan Sean. Ia meminta manager memperlihatkan CCTV dan memperbesar layar, ia juga memerintahkan seorang keamanan mengikuti dua orang pria dan satu seorang wanita yang membawa Steven pergi.

__ADS_1


Setelah melihat rekaman CCTV, Sean yakin teman baik bos-nya itu sedang di jebak. Tanpa pikir panjang Sean segera bergegas dan membawa keamanan menuju ke kamar di mana wanita itu membawa Steven.


Sementara empat orang keamanan club berhasil membekuk dua orang bayaran Lizzy ketika keduanya hendak pergi meninggalkan hotel.


Tanpa pikir panjang Sean memerintahkan keamanan mendobrak pintu kamar di mana Steven berada. Ia yakin wanita yang bersamanya bukanlah wanita baik-baik. Sean yang sudah lama mengurusi bisnis Flamini sangat paham situasi seperti sekarang. Ia juga mengenal baik Steven yang berprofesi sebagai dokter tidak mungkin sampai mabuk atas keinginannya sendiri karena saat Steven mengunjungi Flamini tak sekalipun ia terlihat meneguk minuman keras.


Ternyata dugaan Sean benar. Saat pintu berhasil di buka paksa Steven sudah tidak sadar di atas tempat tidur. Sedangkan wanita yang menjebaknya sudah berhasil melucuti pakaian Steven dan dirinya. Gadis itu terkejut sekali ketika pintu berbuka paksa.


Orang-orang Sean menarik paksa Lizzy yang berteriak histeris dengan tubuh sudah polos tanpa tertutup sehelai benangpun


"Siapa kalian berani mengganggu ku?", teriak Lizzy.


"Kau jangan macam-macam pada tuan Steven nona, kau menjebaknya!", tegas Sean.


"Kami saling mencintai, jangan sok tahu! Kami sepasang kekasih dan akan segera menikah. Kau akan aku tunggu karena menggangu ku!"


"Silahkan saja. Kita bertemu di kantor polisi. Bawa wanita ini sekarang juga!", perintah Sean sambil melemparkan pakaian Lizzy ke wajah wanita itu.


Ketika Lizzy di bawah ke kantor polisi, Sean membantu Steven. Dalam kondisi setengah sadar Steven meminta Sean untuk menghubungi Katty melalui handphone miliknya yang ada di saku celananya.


Flashback end


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2