
Calista menggeliatkan tubuhnya perlahan. Wajah polos itu melukiskan senyuman diwajahnya. Kesadarannya sudah terkumpul.
"Ah Samuel selalu membuatku kehilangan akal sehat kalau sudah menyentuh ku", lirih Calista mengingat bagaimana ia menjadi sangat liar beberapa jam yang lalu, mengimbangi permainan suaminya yang haus akan belaian.
Calista mengambil kemeja Samuel yang tergeletak di tepi tempat tidur dan memakainya. Ia melihat pintu bagian belakang cottage terbuka. Calista mengikat rambutnya secara acak. Wanita itu terlihat cantik sekali dengan wajah polosnya.
Kedua netra Calista menatap pemandangan dari belakang sisi belakang cottage yang menjorok ke danau. Terlihat Samuel tidur terlentang di atas jaring berwarna putih yang terhubung langsung pada dinding cottage tempat tinggal mereka. Di sana terdapat bantal-bantal berwarna-warni.
"Sayang kenapa kau tidak membangunkan aku. Di sini sangat indah sekali, Sammy", ujar Calista bergabung bersama suaminya di atas jaring yang terpasang itu. View dari tempat mereka sangat memanjakan mata. Mereka bisa melihat sunset sambil menikmati suasana danau dari ketinggian. Tak dipungkiri suasana romantis tersaji di sana.
"Kemarilah". Samuel memeluk tubuh istrinya. "Tempat ini benar-benar menakjubkan. Aku betah berlama-lama di sini. Sayang sekali tidak ada peralatan lukis ku".
"Sam...apa kau dan Amber sering datang kemari?"
Samuel memeluk tubuh istrinya yang rebahan juga di samping nya.
"Tidak. Aku sudah berapa kali datang ke kota Interlaken, tapi ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini", jawab Samuel yang bertelanjang dada memeluk erat Calista. Jemari tangan kokoh itu kembali membuai jengkal tubuh Calista yang mulai memanas.
"Lantas kau tahu dari mana tempat ini?", tanya Calista sambil menahan letupan gairah yang kembali membuncah dalam dirinya.
"Owen. Asisten ku itu berasal dari negara ini. Sebelum aku kemari ia memberikan list tempat-tempat romantis yang wajib di kunjungi saat berada di kota ini", jawab Samuel sambil menyelusupkan jemari tangannya melalui bagian bawah kemejanya yang nampak kebesaran di tubuh istrinya.
"Aku sangat merindukan harum tubuh mu, Cali". Samuel mencium tengkuk istrinya.
__ADS_1
Sebenarnya buaian Samuel kembali membuat Calista bergairah, namun yang ingin dilihatnya senja itu telah nampak.
"Sayang... sunset nya sudah ada. Uhh indah sekali", teriak Calista duduk bersila. Kedua netra nya memandang takjub sunset tepat di depan wajahnya.
Sementara Samuel lebih tertarik menggoda tubuh istrinya itu. Ketika Calista sibuk dengan keindahan panorama alam, Samuel sibuk dengan aktivitasnya. Jemari tangan nya aktif membelai gunung kembar milik Calista yang berdiri tegak dan semakin padat.
"Sammy... hentikan! Apa kau tidak kelelahan?", protes Calista dengan mata melotot menatap suaminya.
"Salah sendiri kenapa kau menggoda suami mu dengan kemeja ku", jawab Samuel dengan santainya.
"Aku mengambil asal saja, bukan bermaksud menggoda mu, Sammy".
Samuel tertawa mendengar jawaban istrinya itu. "Tetap saja kau menggoda suami mu", ucap Samuel sambil merebahkan tubuhnya Calista di atas bantal. Samuel me*umat bibirnya dengan penuh gairah.
Dengan mudahnya Samuel membuat Calista mengeluarkan lengguhan kenikmatan. Calista membalas ciuman Samuel.
"Itu pasti makanan kita. Aku memesannya. Kau tunggu disini saja kita menikmati makan malam", ucap Samuel kembali mencium bibir istinya sebelum berlalu.
Calista tersenyum bahagia. Ia mengusap lembut perutnya. "Sayang kita tidak sendirian lagi, karena daddy mu sudah datang. Mom harap kau sehat terus. Mom akan menjaga mu dan memberikan makanan bergizi untuk mu. Mom janji tidak akan membuat mu stress lagi, karena mommy sekarang tidak bersedih lagi. Dan daddy sudah berjanji tidak akan meninggalkan kita sayang", ucap Calista tersenyum bahagia sambil memberikan usapan lembut di perutnya.
"Tentu saja kita akan terus bersama", ucap Samuel sambil membawa bedtroy.
"Sekarang saatnya mommy memberi mu makan. Kau harus makan yang banyak sayang", ujar Samuel meletakkan bedtroy di hadapan Calista.
__ADS_1
"Iya Sammy. Hm... sebenarnya aku sudah sangat kelaparan, kau membuat ku kelelahan sehabis bekerja keras", cicit Calista langsung memakan makanan yang sudah tersaji.
"Malam nanti aku akan membuatmu kembali kelelahan", jawab Samuel menggoda istrinya.
Calista melebarkan kedua matanya. "Yang benar saja sayang, tubuh ku masih pegal-pegal semua".
"Kali ini aku yang akan bekerja keras, kau hanya menikmatinya saja", jawab Samuel mengecup lembut wajah istrinya sambil tertawa.
"Hm... Sammy apa malam ini kita akan menginap di sini?"
"Iya. Bukankah kita sedang honeymoon, hem?", jawab Samuel membalikkan pertanyaannya. "Sudah sebulan lebih waktu kita terbuang percuma Calista. Saat kau pergi aku sangat frustasi mencari mu. Semua orang sewaan ku tidak ada yang berhasil menemukan keberadaan mu, jadi rasanya sangat wajar bila aku ingin menikmati kebersamaan ini. Rasanya aku belum puas menumpahkan rasa rindu ini", ucap Samuel sambil menyuap kan makanan pada mulut Calista. Calista menerima nya.
Sejak ada Samuel bersamanya, na*su makan Calista menunjuk kan peningkatan berkali lipat. Biasanya ia tidak akan merasakan lapar, namun saat ini selalu merasakan kelaparan.
"Aku juga sangat merindukan mu, Sammy. Sebulan lebih aku di kota ini bahkan aku tidak tahu bahwa Interlaken ternyata sangat indah dan menakjubkan. Waktu aku habiskan di dalam kamar sambil menangis. Kerinduan ku pada mu tak terbendung lagi. Dada ku sampai sesak", ujar Calista sambil mengusap lembut rahang suaminya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapi.
Samuel tersenyum mendengar pengakuan Calista. Ia menggenggam tangan Calista dan mengecupnya berulang kali. "Lusa kita akan kembali ke London. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk mu", bisik Samuel di telinga Calista.
"Kejutan apa sayang, kenapa tidak kau katakan saja sekarang. Aku paling tidak bisa menunggu kejutan Sam", ketus Calista menatap suaminya.
"Kau akan segera tahu, saat di London nanti", jawab Samuel sambil mencubit ujung hidung Calista. "Sekarang habiskan lah makanan mu, aku tidak mau anak ku sakit".
"Anak kita!", balas Calista mengingatkan suaminya.
__ADS_1
...***...
To be continue