
"Steve.."
Steven tak menghiraukan kicauan Katty, laki-laki itu semakin jauh menjamah setiap jengkal lekuk tubuh indah kekasihnya itu.
Tiba-tiba Steven menghentikan aktivitasnya. Ia mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah Katty yang sudah menjadi merah. Terlihat begitu kacau dan frustasi masih menggigit bibir bawahnya. Kedua iris biru bak safir itu menatap sayu Steven dengan dada polos dan membusung menantang dengan nafas menderu.
Steven tahu, kekasihnya itu menahan gejolak dihatinya. Steven tahu, Katty sudah sangat bergairah sama seperti dirinya.
Steven tidak tahan melihat gadisnya kacau seperti itu. Tangan Steven menarik tengkuk Katty. Menyatukan bibirnya. Mulut Steven memenuhi mulut Katty.
Sekuat tenaga Katty menahan gejolak yang menguasai dirinya, namun ciuman Steven kali ini benar-benar menuntut dan menguasai Katty.
Tidak seperti biasanya. Kala Steven menciumnya Katty masih bisa mendapatkan kesadaran dan akal sehatnya. Kali ini benar-benar lupa segala-galanya. Apa lagi saat ini dress-nya sudah lepas, menampakkan tubuh mulusnya di hadapan laki-laki yang sangat di cintainya itu. Yang tersisa hanya bra dan panties renda berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih bersih miliknya.
"Akh Steve...aku tidak kuat lagi", racau Katty menatap manik coklat terang kekasihnya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan hasrat yang sudah membuncah.
Steven menatap Katty dengan sorot mata memuja. Sementara bathrobe nya pun sudah berantakan ulah jemari-jemari lentik Katty yang mencengkram nya dengan kuat.
"Ah Katty, sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi".
Seperti ada yang menggerakkan, jemari-jemari lentik Katty menarik tali bathrobe yang masih melingkar di pinggang Steve. Seketika menampakkan tubuh polos Steven di hadapan nya. Manik biru Katty semakin memendam perasaan membuncah menahan hasratnya. Dengan mulut terbuka, tak sedetikpun manik biru Katty mengalihkan perhatiannya pada tempat lain. Ia hanya beradu pandang dengan Steven yang juga menatapnya dengan intens.
Jemari tangan Katty mengusap lembut dada Steven, menyusuri lekuk otot yang menonjol sempurna di tubuh atletis itu.
Steven kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Katty me*umatnya dengan bergairah. Katty membalasnya. Keduanya berciuman mesra menyatukan lidah dan menyecap saliva pasangan.
__ADS_1
Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Steven menggendong tubuh Katty masuk kembali ke kamar. Keduanya melanjutkan saling menyentuh. Hingga tubuh keduanya polos. Steven merebahkan tubuh Katty di tengah-tengah tempat tidur luas miliknya.
"Apa kau sudah siap", bisik Steven.
Perlahan Katty menganggukkan kepalanya. "Lakukan pelan, ini yang pertama untuk ku", jawabnya dengan suara bergetar menahan gejolak hasrat yang sudah menguasai dirinya.
Steven tersenyum penuh arti, mencium lembut bibir Katty hingga terus turun. Dan membenamkan wajahnya di antara gundukan kenyal yang menantang itu. Bergantian me*umat puncaknya, membuat Katty melenguh panjang. Tubuh Katty mengelijang bergetar menahan sensasi yang dari buaian Steven. Jemari tangan Steven meremas dada Katty bergantian, mencubit puncak nya. "Aku sangat menyukai ukuran dada mu", bisik Steven sambil menyapukan lidahnya keleher Katty yang memiringkan kepalanya merasakan geli di lehernya.
Hingga terdengar suara handphone milik Steven berbunyi, membuyarkan aktivitas intim mereka.
"Akh...Steve handphone milik mu..., Oh", ujar Katty sambil men*esah.
"Biarkan saja!"
Drt
Drt
"Shitt..."
Katty berhasil mendorong tubuh Steven, ia menarik selimut menutupi tubuhnya. "Angkat lah dulu handphone mu itu, sepertinya sangat penting".
"Shitt...Menggangguku saja", umpat Steven kesal. Ia mengambil handphone dari atas nakas. Tertera nama Lizzy dilayar handphone miliknya. Steven menyipitkan matanya.
"Lizzy? Kenapa gadis itu menelpon ku malam-malam begini?"
__ADS_1
"Mungkin penting Steve. Atau ia membutuhkan bantuan mu", ucap Katty sambil mengeratkan selimut ke dadanya.
"Tidak penting. Kita lanjutkan yang tertunda". Steven hendak mendekatkan bibirnya pada bibir Katty yang bersandar diujung tempat tidur.
Katty tidak menolaknya, ia memejamkan matanya siap menerima kembali buaian Steven.
Tapi... Handphone milik Steven kembali berbunyi. Katty membuka matanya. "Steve angkatlah!"
Steven menggerutu hingga terdengar mengumpat kesal. Ia menuruti kekasihnya. Steven menghidupkan speaker agar Katty bisa mendengar juga.
"Ada apa kau menghubungi ku malam-malam begini, Lizzy?"
*Apa benar anda tuan Steven? Saya salah satu waiters di Star club. Nona Lizzy meminta saya menghubungi anda tuan. Nona Lizzy mabuk tidak bisa pulang sendiri*
"Aku akan mengirim sopir menjemputnya", tegas Steven dan memutus panggilan telepon itu.
"Gadis itu menyulitkan saja", gerutu Steven kesal sambil mengikat tali bathrobe nya. Ia hendak menghubungi sopir ayahnya.
"Steve, kenapa tidak kau saja yang menjemput Lizzy. Tempat itu tidak aman untuk perempuan, bagaimana kalau ada laki-laki jahat mengganggu nya?"
"Come on Katty...tentu saja aku tidak akan menjemput Lizzy. Aku sedang sibuk. Urusan ku dengan mu belum selesai", jawab Steven menundukkan wajahnya mengecup lembut bibir Katty.
"Kita bisa mencoba lagi, setelah kau pulang nanti. Aku menunggu mu disini. Aku tidak kemana-mana". Katty menatap kekasihnya itu. Mengusap lembut wajah Steven. "Aku janji sayang. Bukankah Lizzy keluarga Layla, artinya keluarga mu juga".
Steven menatap lekat manik biru Katty. Begitu teduh dan tulus. Steven menarik jemari tangan Katty yang ada diwajahnya dan mengecup nya. "Kau sangat baik dan perhatian. Aku sangat mencintaimu, Katty..."
__ADS_1
...***...
To be continue