
Mobil Flamini yang di kendarai sopir nya memasuki halaman rumah yang cukup luas. Di tengah halaman berdiri rumah yang terlihat sederhana dengan cat berwarna krem. Rumah itu terlihat asri dengan tanaman yang tumbuh di sekelilingnya.
"Malam itu saya mengantar nona Ana ke rumah ini tuan", ujar Sean dari kursi depan.
"Segera lihat", perintah Flamini.
Sean menganggukkan kepalanya dan keluar mobil menunju pintu utama rumah berlantai dua tersebut. Cukup lama Sean menekan bel tapi tidak ada yang membukakan pintu.
Flamini menatap asistennya dari dalam mobil. "Kenapa lama sekali. Apa tidak ada orang di rumah itu?", ucap Flamini.
Nampak Sean kembali ke dalam mobil. "Tidak ada siapapun di dalam tuan. Seperti nya rumah itu kosong".
"Aku ingin kau mencari Anabelle sekarang juga Sean! Aku tidak mau kehilangan gadis itu. Kau cari tahu tentangnya. Kehidupan, siapa saja teman-temannya. Pokoknya kau cari tahu semua tentang Anabelle Patricia sekarang juga!", perintah Flamini mengebu-gebu.
Melihat bos-nya seperti itu, Sean memilih diam. Ia tidak berani' menyanggah apalagi memberikan jawaban apapun. Nampak jelas ketegangan melanda Flamini.
"Dimana kau Ana. Aku tidak menyangka kau semarah itu pada ku", ujar Flamini sambil mengalihkan pandangan matanya keluar jendela mobil.
"Maafkan aku Ana. Aku janji tidak akan mengusik mu lagi jika itu yang kau inginkan", ucap Flamini pelan. "Aku menyesal mengembalikan buku itu pada mu. Seharusnya buku sketsa itu tetap pada ku saja".
Flamini memijat kepalanya yang akhir-akhir ini sering sekali merasa pusing.
__ADS_1
"Tuan...apa tuan merasakan pusing lagi?", ucap Sean menolehkan kepalanya menatap Flamini yang terlihat meringis memijat kepalanya.
"Antar aku ke rumah sakit Steven sekarang, Sean. Kepalaku sakit sekali".
"Baik tuan", jawab Sean dan sopir hampir bersamaan.
*
"Papa dengan Ana dulu ya. Hari ini, hari terakhir aku kekantor, karena aku sudah mengambil cuti persiapan pernikahan ku", ujar Katty memeluk bahu Ethan yang duduk di meja makan. Ketiganya selesai sarapan bersama.
"Iya nak. Selesaikan lah pekerjaan mu, kau jangan kuatir pada papa.
"Iya kak, papa benar. Aku sekarang sudah resign dari perusahaan nona Verline, aku ingin fokus menyelesaikan skripsi ku. Aku bisa mengambil jadwal wisuda periode pertama karena kelengkapan yang di butuhkan sudah siap", ucap Anabelle tersenyum.
Sudah beberapa hari Katty mengajak ayahnya pindah ke apartemen. Karena apartemen itu dekat dengan mansion yang akan menjadi tempat tinggal Katty dan Steven setelah menikah nanti, juga dekat dengan rumah sakit tempat Steven bekerja.
Tentu saja, walaupun sudah menikah nanti Katty mau dekat dengan keluarga nya. Dan Katty sangat beruntung, Steven sangat mendukung keinginan nya tersebut. Steven begitu baik kepadanya maupun keluarga nya. Bahkan Steven menawarkan agar Ethan dan Anabelle tinggal bersama mereka di mansion namun Ethan dan Anabelle menolak secara halus tawaran Steven.
Mereka tidak mau merepotkan. Yang mereka inginkan hanya ingin melihat Katty bahagia bersama suaminya.
*
__ADS_1
Katty hendak pergi bekerja ketika Ana menahannya. Anabelle masuk ke kamar Katty. Sementara Ethan sudah kembali ke kamar nya.
"Kak...ada yang ingin aku bicarakan pada mu".
Katty menatap Anabelle yang terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan isi hatinya. "Ada apa Ana?"
Anabelle memberikan sebuah amplop berwarna putih pada Katty. "Maafkan aku kak, tanpa bicara dulu pada kakak, aku mendaftarkan diri melalui jalur beasiswa ke Harvard university dua bulan yang lalu. Dan kemarin kampus ku menerima jawaban dari universitas Harvard, menyatakan aku diterima dengan jalur undangan.
"Oh my God Ana...kau berhasil menembus universitas terbaik itu sayang?", teriak Katty kaget sekaligus bahagia mendengarnya.
"Ana, tentu saja aku akan mendukung mu. Aku tahu kau sangat pintar dan bisa mengejar cita-citamu", ujar Katty memeluk erat tubuh adiknya yang diam tak bergeming.
Katty mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah Anabelle. "Ada apa Ana, kenapa kau nampak tidak bersemangat?"
"T-api aku akan jauh dari kakak dan papa", ujar Ana menghapus buliran bening yang jatuh ke pipinya.
"Hei...jangan menangis. Kau kan bisa pulang ke London atau kami yang mengunjungi mu ke sana, Ana. Tenanglah. Kakak akan selalu mendukung mu. Kau masih muda, perjalanan mu masih panjang Ana. Raihlah impian mu yang tidak akan terulang kedua kalinya", ucap Katty sambil menghapus air mata Anabelle.
"Kapan kau akan ke Amerika?"
"Setelah pernikahan kakak", jawab Anabelle dengan suara bergetar menahan tangisnya. Sebenarnya Ana sendiri bingung apa yang ditangisi nya karena melanjutkan kuliah di Harvard adalah keinginannya sejak lama tanpa paksaan dari siapapun. Tapi hatinya terasa hampa, begitu berat meninggalkan kota London seminggu ke depan. Dan dipastikan ia baru kembali lagi ke London saat akan wisuda nanti.
__ADS_1
...***...
To be continue