
Tubuh Ana menggeliat sambil mengerjapkan kedua kelopak matanya.
"Kau sudah sadar?"
Ana kembali memejamkan kedua mata, mengumpulkan kepingan kesadarannya. Jemari tangan Ana memijat pelipisnya.
"Apa kau merasakan pusing? Jika pusing kau harus minum obat pereda sakit kepala".
Suara Flamini terdengar begitu dekat di telinga Ana. Anabelle yang berada di atas tempat tidur, sekilas menolehkan wajahnya menatap Flamini yang berada tepat di sampingnya duduk bersandar diujung tempat tidur. Netra abu-abu itu menatap lekat wajah Anabelle.
Cepat-cepat Ana bangun. "Sebaiknya aku kembali ketempat duduk ku .."
"Kau tetap di sini Ana. Kursi mu sudah di duduki Sean. Itu tas mu, Sean sudah membawa nya kemari"
"T-api.."
"Tidak ada tapi-tapian, Ana", ujar Flamini sambil berdiri dari tempat tidur.
"Aku sudah janji pada keluarga mu, akan menjagamu. Kau akan tinggal di apartemen ku selama menuntut ilmu di Harvard".
Kedua netra hitam Anabelle melebar mendengar perkataan Flamini. "Aku sudah memiliki tempat tinggal tuan Flamini. Terimakasih atas tawaran mu memberikan aku tumpangan tempat tinggal".
"Aku tidak menawarkan tumpangan tempat tinggal Ana. Tapi kau memang harus tinggal di apartemen ku yang letaknya sangat dekat dengan kampus mu. Kau akan aman di sana. Orang ku sudah membatalkan apartemen yang akan kau sewa. Tempat itu tidak baik untuk mu yang serius menuntut ilmu di Harvard", ucap Flamini.
Jelas saja Anabelle keberatan. Anabelle mengeryitkan keningnya. "Kenapa tuan selalu ikut campur urusan orang lain?"
Flamini menggenggam jemari Anabelle. "Panggil nama ku saja. Aku melakukan nya untuk mu dan permintaan keluarga mu juga".
"Tidak mungkin, aku tidak percaya pada mu. Kau pasti berbohong. Kakak ku sekarang pasti masih sibuk dengan suaminya. Makanya saat aku pergi tidak memberitahu nya", jawab Anabelle menatap penuh selidik wajah Flamini yang berada di depannya.
"Baik kita buktikan saja". Flamini mengambil handphone miliknya dan menghubungi nomor Steven. Ia berdiri di dekat Anabelle. "Aku menghubungi Steven sekarang, kau bisa bertanya langsung pada kakakmu".
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Steven.
"Oh my God Flamini kau selalu mengganggu ku dan istriku", ketus Steven kesal.
Flamini tidak perduli dengan komplain temannya itu.
"Jangan katakan kalian sedang bercinta, dude. Aku ingin bicara dengan istri mu, Steve. Adiknya ini susah sekali di atur. Aku menyerah kalau kalian meminta ku menjaga gadis keras kepala begini!".
Anabelle melebarkan kedua matanya. Ia mendengar pembicaraan Flamini dengan Steven. "Laki-laki ini benar-benar menyebalkan! Tapi... ternyata mereka benar-benar akrab", batin Ana.
Flamini melakukan panggilan video call. Beberapa saat kemudian terlihat Katty bergabung bersama Steven. Anabelle bisa melihat dan mendengar suara kakaknya yang menyapa Flamini.
Cepat-cepat Ana merampas handphone milik Flamini tanpa seizin pemilik nya. Flamini menahan senyum nya melihat tingkah Anabelle yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kakak...kenapa kakak tidak memberi tahu ku terlebih dahulu? Aku tidak mau tinggal di apartemen tuan Flamini. Aku kan sudah menyewa apartemen kak", ujar Anabelle menyampaikan komplainnya pada Katty yang terlihat masih menggunakan bathrobe.
"Ana dengarkan kakak. Sebenarnya kakak kuatir kau tinggal sendirian di sana. Apalagi ini pertama kalinya kau pergi jauh dari kakak dan papa. Papa mengatakan sebelum pergi tadi kau menangis, papa kuatir pada mu, sayang. Flamini itu teman baik suami kakak, kakak juga mengenalnya. Ia baik. Kakak percaya padanya. Flamini sudah menceritakan semuanya pada kakak dan papa tentang kalian. Ia berjanji tidak akan mengganggu mu. Selama kalian kenal Flami tidak tahu bahwa kau adalah adik kakak".
Flamini tersenyum mendengar perkataan Katty.
"Anabelle kalau Flamini macam-macam pada mu kakak tidak akan tinggal diam!"
"Kecuali suka sama suka", celetuk Flamini dengan suara lantang di belakang Ana. Katty dan Steven saja mendengarnya dengan jelas.
"Bastard...kalau terjadi apa-apa dengan Anabelle, kau harus bertanggungjawab!", ketus Steven.
"Kalian berdua tenang saja. Anabelle di tangan yang aman sekarang", jawab Flamini tertawa penuh arti sambil mengusap tengkuknya.
*
"Apa kau puas sudah bicara pada Katty kakak mu. Kau percaya kan sekarang aku tidak bohong pada mu, Ana".
__ADS_1
"Huhh...tetap saja aku tidak suka jika tuan selalu ikut campur urusan orang lain", ketus Anabelle sambil mencebikkan bibirnya dengan wajah cemberut.
Flamini tertawa melihat wajah Anabelle tertekuk seperti itu. Flamini melihat jam tangannya. "Masih dua jam penerbangan untuk sampai ke Massachusetts".
Flamini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sementara kedua tangannya menopang kepalanya.
Anabelle berjalan mondar-mandir hilir-mudik di samping tempat tidur.
"Apa kau tidak pusing seperti itu, Ana. Duduklah nanti ada guncangan kau bisa jatuh", ujar Flamini dengan mata terpejam. Namun ia tahu Ana sibuk sendiri seperti itu.
"Uhh... Bagaimana aku bisa tenang kalau ada yang ikut campur urusan ku seperti ini. Aku juga butuh privasi..."
Brukkk..
"Ahh.."
Anabelle berteriak ketika tubuhnya limbung karena pesawat berguncang cukup kuat. Dan tubuhnya jatuh tepat menimpa tubuh Flamini yang terlentang di atas tempat tidur.
"Oh my God". Anabelle sangat malu. Anabelle melototkan kedua matanya menatap manik abu-abu Flamini yang menatapnya dengan intens dengan tatapan sulit diartikan.
"Kau ini keras kepala sekali. Lidah ku belum kering mengingatkan mu, Ana", ujar Flamini dengan suara serak. Tubuh keduanya terlihat begitu intim. Dada saling menyatu, sementara jemari-jemari lentik Anabelle berada di pundak Flamini.
"Oh..hmm...Maafkan aku, tuan", ucap Ana cepat. Ia hendak bangun. Namun tangan kokoh Flamini memeluk tubuh nya.
"Flamini. Kalau kau masih memanggil ku tuan, aku akan menghukum mu sekarang juga".
Tubuh Ana semakin gemetaran. Kedua matanya kian membulat menatap tak berkedip manik abu-abu Flamini.
"Pesawat nya berguncang, A-ku.."
"Aku tahu pesawat nya berguncang. Dan aku senang kau jatuh di atas tubuh ku. Bisa kau bayangkan kalau tadi kau jatuh tersungkur mengenai ujung tempat tidur ini. Bibir mu bisa berdarah", jawab Flamini sambil mengusap lembut bibir Anabelle yang terbuka.
__ADS_1
...***...
To be continue