
Calista duduk di kursi panjang yang ada di taman rumah ayahnya di kota Interlaken Swiss . Keadaan di sana begitu damai dan tenang. Suasana pedesaan begitu kentara. Alamnya masih asri dan begitu indah.
Interlaken adalah kota kecil di Swiss yang membuat siapa pun terpesona akan keindahannya. Kota itu menjadi tujuan pasangan suami istri yang baru menikah untuk berbulan madu. Setiap pengunjung yang datang akan tenggelam dalam keindahan pegunungan Alpen dan airnya yang jernih begitu dingin.
Ini yang pertama kali bagi Calista berkunjung ke rumah ayahnya dan Bianca di desa terpencil itu yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota.
Selama ini Justin lah yang kerap ke London menemui Calista sekaligus melihat perusahaan yang didirikan nya.
Melihat kemajuan perusahaan saat di pimpin putrinya, membuat Justin tenang. Ia memutuskan menetap untuk selamanya di kota Interlaken bersama Bianca dan ketiga anaknya.
Calista tersenyum melihat kedua adiknya yang masih berusia empat tahun dan tiga tahun, Andrew dan Abigail berlarian saling merebut bola.
Suasana yang membuat hati Calista bahagia. Selalu seperti ini, saat matahari menyinari bumi Calista akan lupa dengan masalah yang menderanya. Namun ketika matahari sudah bersembunyi, pasti perasaan sunyi, sepi dan sendiri menghampiri Calista. Pada akhirnya ia akan menumpahkan kesedihannya dengan tangisan tak bersuara di dalam kamarnya.
"Kakak...kenapa kakak tidak mau bermain bola bersama kami? Apa kak Cali tidak bisa berlari seperti mommy waktu Azarenka masih di perut mom?"
Calista tersenyum mendengar pertanyaan Abigail. Calista mengusap lembut wajah Abigail yang begitu menggemaskan.
"Iya sayang, di dalam perut kak Cali ada adik kecil. Nanti setelah waktunya Abigail bisa bermain-main dengan adik kecil", ucap Bianca yang datang dengan nampan berisi cemilan dan minuman.
"Berarti aku akan menjadi seorang kakak, mom?", tanya Abigail sambil melebarkan kedua matanya dengan lucu.
__ADS_1
"No. Kau akan menjadi aunty", jawab Bianca sambil mencubit ujung hidung putrinya itu.
Abigail tersenyum bahagia sambil melompat kegirangan. Ia menghampiri sang kakak Andrew
Calista tersenyum melihat tingkah lucu adiknya itu.
"Cali silahkan di minum jus apel kesukaan mu", ucap Bianca tersenyum.
Calista menolehkan kepalanya pada Bianca. "Terimakasih Bia". Calista tersenyum mendengar perkataan teman baiknya itu, yang sangat tahu jus apel adalah kesukaannya.
Terdengar hembusan nafas Calista. "Apa ayahku, masih lama berada di Lyon?"
"Papa ada-ada saja, katanya mau menikmati hari tua dengan bersantai kenapa ia malah melakukan bisnis baru", ujar Calista sambil meminum jus apel yang dibuatkan Bianca untuk nya.
"Maafkan aku Cali, aku tidak bisa mencegah keaktifan ayahmu. Jiwa bisnisnya sudah begitu melekat. Sekarang yang ditekuninya dunia pertanian. Jika kau sudah fit, kau harus melihat perkebunan lavender ayah mu. Di sana sangat indah. Hamparan bunga lavender berwarna ungu begitu mengagumkan. Tapi jalanan menuju sana sangat berliku-liku dan menanjak, tidak baik untuk mu yang sedang hamil muda. Kau harus ke sana bersama suami mu.."
"Hups...Maafkan aku Calista. Seperti biasa mulutku tidak ada rem nya", ucap Bianca sambil menutup mulut dengan jemari tangannya.
Calista kembali menyesap minumannya. "Tidak apa-apa, Bia".
"Tapi aku senang sekarang papa sangat bahagia bersama mu dan adik-adik ku Bia. Aku berterimakasih pada mu, karena merawat papa dengan sangat baik", ucap Calista dengan tulus.
__ADS_1
Bianca menggenggam erat tangan Calista. "Seperti yang kau tahu, sedari kecil aku kehilangan figur ayah. Saat melihat Justin sangat menyayangi mu pada akhirnya membuatku menyukai papa mu, Cali. Maafkan aku jika aku membuatmu kecewa".
Calista menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Awalnya aku syok melihat kalian. Tapi beriring nya waktu aku dapat melihat kalian saling mencintai. Sungguh aku bisa menerimanya Bia. Tapi maafkan aku, aku tidak akan merubah panggilan ku pada mu. Kau temanku, umur kita sama. Aku tetap akan memanggil nama mu seperti biasanya", ucap Calista membalas genggaman tangan Bianca.
"Tentu saja Cali. Terimakasih", ucap Bianca.
"Katty sekarang sedang ke kota. Ia harus memantau perusahaan mu di London".
"Iya. Aku sudah tahu, Katty sudah mengatakannya semalam".
"Hm Cali...bagaimana jika Samuel menemukan keberadaan mu saat ini?", tanya Bianca dengan hati-hati, ia tidak mau menambah beban pikiran Calista. Ia hanya ingin mengetahui saja tentang perasaan temannya itu.
"Samuel tidak akan menemui ku, Bia. Ia sangat membenciku". Sesaat Calista terdiam. Ia menundukkan kepalanya sementara tangan nya mengusap lembut perutnya.
"Itulah kenapa aku pergi dari London. Karena aku takut tidak bisa menerima kenyataan jika suami ku tidak menerima anak ini. Aku takut Samuel akan menyakiti anak ku. Aku takut jika ia meminta untuk menggugurkan kandungan ku", jawab Calista terisak. Ia tidak kuat membayangkan semua yang ada di pikirannya. "Aku bisa menerima jika Samuel membenci ku. Aku bisa menerima jika ia menyakiti ku, Bia. Tapi rasanya akan semakin menyakitkan jika Samuel membenci dan menyakiti anak ku".
Yang Calista tahu. Samuel sangat membencinya. Pasti ia juga akan membenci anak mereka. Anak yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdosa, pada akhirnya akan menanggung semuanya.
"Apapun yang terjadi, aku akan berjuang melahirkan anak ku. Anak inilah yang tersisa dari hubungan ku dan Samuel. Meskipun suamiku tidak mengharapkan kehadirannya.."
...***...
__ADS_1