PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
PERNIKAHAN FLAMINI-ANABELLE


__ADS_3

Satu bulan kemudian..


Mansion bergaya classic bernuansa biru muda dan putih terlihat lebih ramai sore menjelang senja.


Flamini dan Anabelle menikah di sana. Mengadakan garden party yang di hadiri keluarga dan teman-teman mereka saja. Juga ada beberapa direksi di perusahaan Flamini yang hadir.


Sebenarnya Flamini menginginkan resepsi mewah dan di adakan di hotel berbintang, namun Anabelle menolaknya. Ana justru menginginkan pernikahan mereka sederhana dan hanya mengundang keluarga dan beberapa teman dekat saja.


Karena Flamini sangat mencintai kekasihnya itu, maka ia menuruti semua keinginan Ana. Bagi Flamini asalkan mereka secepatnya menikah, karena restu dari keluarga sudah ia dapatkan maka tidak ada hambatan bagi perjalanan cinta mereka menuju jenjang berikutnya.


Ethan hanya menyampaikan permintaan pada Flamini, untuk menjaga dan melindungi putri bungsunya Anabelle.


"Aku harap kau menjaga dan melindungi Ana dengan baik, nak. Jangan pernah sakiti putri papa", ujar Ethan saat Flamini mengutarakan niatnya beberapa waktu yang lalu di hadapan Ethan dan Katty serta Steven temannya.


Sementara Katty bisa menerima Flamini dengan terbuka karena melihat laki-laki itu serius dengan adiknya. Begitu pun dengan Anabelle yang terlihat sangat mencintai laki-laki itu. Tentu Katty akan mendukung keduanya memulai kehidupan baru bersama.


*


Flamini dan Anabelle baru saja di nyatakan sah menjadi pasangan suami-istri. Senyum bahagia terlukis dari wajah keduanya.


Calista dan Samuel duduk berdampingan. Di sebelahnya putra mereka Gilbert tidur nyenyak di dalam kereta bayi.

__ADS_1


"Putra kalian tampan sekali, Cali. Lihatlah bahkan ia tak terganggu sedikit pun dengan suara bising", ujar Katty sambil mengusap perutnya yang kian nampak membesar diusia kehamilan memasuki bulan ke empat.


"Iya. Gilbert tidak akan terjaga meskipun di sekitarnya suara bising. Rasanya aku tidak percaya melihat anakku tumbuh dengan normal begini. Aku sangat bersyukur Katty", ujar Calista sambil menggenggam jemari mungil Gilbert yang tidur di dalam kereta dorong miliknya.


Samuel dan Steven bergantian memeluk Flamini.


"Selamat Flami, akhirnya kau menikah juga", ucap Samuel berbahagia melihat teman baiknya menyusul dirinya dan Steven.


"Iya. Aku menemukan pujaan hatiku yang sangat aku cintai, Sam", jawab Flamini tersenyum bahagia.


*


Flamini sengaja mengajak istrinya menghabiskan malam pertama mereka di private room yang Anabelle kerjakan di perusahaan miliknya. Flamini ingin mengenang pertemuan mereka di tempat itu.


Sesaat tiba di depan pintu private room milik Flamini di perusahaannya harum wangi bunga semerbak memenuhi ruangan mewah itu.


Rangkaian bunga mawar berwarna merah mengeluarkan aroma harum khas yang lembut tertata indah berdekatan dengan lampu-lampu hias yang tertata di sudut-sudut ruangan yang terhubung dengan kamar utama yang akan menjadi saksi bisu malam indah pasangan pengantin baru itu.


Di depan pintu kamar juga ada bunga Lily yang terkenal sebagai simbol kemurnian cinta yang dipercaya membawa keberuntungan dan kelanggengan suatu hubungan. Bunga Lily putih adalah bunga kesukaan Anabelle.


Flamini tersenyum begitu menawan saat merasakan suasana romantis di ruangan yang

__ADS_1


dipilihnya untuk menghabiskan malam pertama bersama istrinya. Flamini ingin malam pertama yang berkesan, ia ingin mengingat malam istimewa mereka selama hidupnya.


"Apa kau menyukainya, hem?", tanya Flamini sambil memeluk pinggang Anabelle yang tak percaya melihat suasana romantis yang tersaji di depan matanya saat ini.


"Private room ini milik kita Ana. Aku sengaja membuatnya khusus. Saat awal membangun nya, aku tidak akan membawa siapapun kemari. Termasuk wanita manapun. Beruntung sekali kau yang mengerjakannya saat itu. Beriring waktu aku ingin kau memilikinya bersama ku, sayang", ucap Flamini di telinga Anabelle yang tersenyum haru mendengar perkataan suaminya.


"Bagaimana dengan private room milik mu yang ada di ruangan mu. Itu milik siapa?", ucap Anabelle membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Jemari tangan Anabelle melepaskan tuxedo Flamini.


"Tidak ada lagi ruangan itu. Aku sudah membongkarnya menjadi ruang kerjaku sejak kita menjadi sepasang kekasih", jawab Flamini sambil mengusap lembut wajah cantik istrinya.


"Maafkan aku kau harus melihat pemandangan itu sayang. Aku bersumpah sejak kita bersama tidak pernah lagi melakukannya lagi", ucap Flamini bersungguh-sungguh.


Ana menatap manik abu-abu Flamini. "Aku tidak akan membiarkan suamiku melakukannya pada wanita manapun. Kalau kau masih melakukannya aku tidak akan segan membunuh mu", ancam Anabelle sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya.


"Aku ingin kau membunuh ku malam ini sayang. Buat aku tidak berkutik di atas tempat tidur", bisik Flamini mengigit lembut telinga Anabelle.


Ucapan Flamini, seketika membuat tubuh Ana meremang. Anabelle memejamkan kedua matanya ketika mulut Flamini menghisap lehernya. Anabelle memiringkan kepalanya memberikan izin pada suaminya melakukan yang ia inginkan.


"Sayang ayo kita ke kamar. Aku sudah tidak sabar kau membunuh ku", bisik Flamini dengan suara serak yang sudah diliputi hasrat yang menggelora.


Begitu juga Anabelle, seketika tubuhnya dialiri hawa panas. Ana menatap suaminya dengan tatapan sayu. "Iya sayang.."

__ADS_1


...***...


__ADS_2