
Keesokan harinya...
Calista terlihat sedang sibuk bekerja di ruang kerja kantor nya. Ia nampak menandatangani semua berkas yang sudah di siapkan asisten nya Katty. Namun sesungguhnya hari ini Calista tidak bersemangat. Wajahnya terlihat murung. Calista memikirkan cerita Samuel tentang Amber tunangannya. Yang ia yakini korban akibat kelalaiannya.
Bayangan tentang kejadian itu benar-benar mempengaruhi kondisi Calista hari ini. Ia lebih banyak melamun di ruang kerjanya. Bahkan untuk makan pun ia enggan.
Tok
Tok
"Masuk!"
"Nona...saya membawakan makan siang anda. Sekarang sudah pukul tiga sore. Nona Calista sama sekali belum makan apapun seharian ini", ucap Katty meletakkan piper bag di atas meja sofa. Katty mengeluarkan box makanan dan segelas teh herbal hangat untuk bos-nya itu.
"Katty kemari lah!"
Katty segera menghampiri Calista. "Iya nona?"
"Aku ingin kau mencari tahu tentang semua korban kecelakaan yang aku sebabkan empat tahun yang lalu. Aku ingin mendapatkan informasi itu secepatnya", perintah Calista menatap asisten nya.
Katty nampak aneh mendengar perintah Calista. Yang ia tahu justru Calista tidak mau ada yang membahas masalah itu di hadapannya. Justru Calista sendiri tidak mau lagi mengingat nya. Tapi kenapa sekarang berbeda. Katty merasa aneh tapi tidak berani untuk menanyakannya karena itu bukanlah urusannya jika sekarang bos-nya itu berubah pikiran.
"Baik nona. Saya akan segera mencari semua informasi itu. Apa masih ada lagi tugas yang harus saya kerjakan?"
Calista nampak berpikir sejenak. Setelah beberapa menit kemudian.."Iya. Aku ingin kau mencari tahu siapa yang telah mendonorkan jantungnya untuk ku! Aku ingin tahu siapa orang itu".
"Kau juga siapkan kelengkapan surat menyurat data pribadi ku. Beberapa hari lagi aku dan Samuel Geraldo akan menikah", ujar Calista.
Ucapan Calista tentu saja lagi-lagi membuat Katty sangat terkejut. Bahkan lebih terkejut dari yang pertama. "Hm..maafkan saya nona jika lancang bertanya. Maksud nona, Tuan Samuel Geraldo Abraham?"
"Iya. Apa ada nama seperti itu yang lainnya? Kerjakan saja yang aku pinta. Sebentar lagi asisten Samuel akan mengambil berkasnya!"
"Baik nona. Sekarang juga saya akan siapkan semuanya. Jangan lupa nona makan sebelum makanan nya dingin", ujar Katty mengingatkan bos-nya.
*
__ADS_1
Beberapa hari kemudian..
"Calista...Aku tidak pernah menyangka ternyata kau menjadi istri Samuel putra ku", ucap Aniston nampak bahagia.
Calista tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya. "Iya mah, aku juga tidak pernah menyangka akan melangkah sejauh ini. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untuk Samuel".
"Mama yakin kau pasti bisa nak. Aku sudah memperhatikan diri mu beberapa tahun ini. Kau gadis yang baik dan pekerja keras. Samuel akan cocok bersama mu", ucap Aniston sambil mengusap wajah cantik Calista.
Saat ini keduanya berada di ruang tamu mansion Aniston. Samuel sendiri masih berbincang dengan keluarganya yang lain.
Sedangkan Justin dan Bianca tidak bisa hadir. Karena Bianca akan melahirkan anak ketiga mereka di Swiss. Justin mengikuti prosesi pernikahan Calista dan Samuel melalui live streaming.
Saat mendengar Calista menikah dengan Samuel Geraldo Abraham beberapa hari yang lalu, tentu saja Justin langsung memberikan restu nya. Calista sudah cukup umur untuk menikah. Putri nya layak untuk bahagia.
Baru saja beberapa saat yang lalu Calista dan Samuel dinyatakan sah menjadi pasangan suami-istri. Tidak ada pesta pernikahan karena semuanya serba dadakan.
Beberapa hari yang lalu juga, Samuel dan Calista meminta izin pada Aniston bahwa mereka akan menikah. Sepintas Calista menceritakan masa lalunya. Intinya mereka memutuskan untuk menikah kerena sama-sama mengalami kepedihan dalam hidup.
Niat baik itu tentu saja membuat Aniston menyetujui keinginan keduanya. Bagi Aniston, cinta bisa datang karena intensitas pertemuan Samuel dan Calista.
*
Calista masih memakai gaun pengantin berwarna putih. Sedangkan Samuel masih memakai tuxedo dengan warna yang sama.
"Tentu saja kita tidur di kamar yang sama, bukan kah kita harus belajar membuka diri seperti katamu waktu itu", jawab Samuel sambil membuka tuxedo dan dasi kupu-kupu di lehernya.
"Tapi aku tidak mau jika kau terpaksa, Sammy. Kita bisa melakukannya secara bertahap kan sambil belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing", ucap Calista melihat tiga lukisan yang berukuran tidak terlalu besar tertempel di sudut kamar Samuel.
"Aliran naturalisme?", ucap Calista pelan. Calista terlihat begitu lekat menatap tiga lukisan wanita di kamar itu. Wajah wanita berambut sebahu dalam posisi yang sama tapi berbeda dalam penggunaan warna cat nya. Calista terdiam menatap wajah itu. Sepertinya familiar sekali, rasanya ia pernah melihatnya tapi lupa dimana.
"Aku suka kau memanggilku seperti itu, Cali", ucap Samuel sambil mendekati Calista.
"Itu Amber. Aku melukisnya setelah beberapa hari setelah ia meninggal", ucap Samuel sambil memeluk pinggang Calista dan menyandarkan dagunya ke pundak istrinya itu.
Calista terdiam. "A-amber?", lirih nya nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Calista mengalihkan pandangannya ketempat lainnya, tak ada satu foto pun di kamar itu hanya ada tiga lukisan itu saja.
"Lukisan mu sangat indah Sammy. Kenapa kau memilih aliran Aliran naturalisme?". Calista berusaha mengalihkan perhatiannya. Tiba-tiba perasaannya tidak senyaman tadi.
"Karena aku suka yang terlihat nyata. Kau juga paham tentang lukisan?", tanya Samuel ditelinga Calista. Bahkan hembusan nafasnya pun Calista bisa mendengar kannya.
"Sedikit. Aku juga menyukai lukisan dan memiliki beberapa koleksi lukisan ku. Tapi aku tidak ahli seperti mu. Aku hanya amatiran saja".
"Dimana lukisan mu? Aku ingin melihatnya", ucap Samuel sambil mendaratkan ciuman di pipi Calista.
"Di mansion. Aku melukis hanya untuk mengisi waktu ku saja. Karena aku hanya amatiran aku malu jika ahli seperti mu menilainya", ucap Calista mengusap lengan Samuel.
"Aku harus belajar dari mu tehniknya. Apa kau bersedia mengajari ku, hm?"
"Tentu saja aku akan mengajari mu", balas Samuel cepat sambil membalikkan tubuh Calista menghadap nya. Samuel me*umat bibir Calista dengan penuh gairah. "Pertama aku akan mengajari mu cara membahagiakan suami mu", bisik Samuel di sela lu*atannya.
"Sam... bukankah aku sudah lihai melakukan nya?", jawab Calista sambil membuka kancing kemeja Samuel.
"Belum semuanya. Kau harus lebih aktif menyentuh tubuh ku". Tangan Samuel mengarahkan jemari lentik Calista menyentuh miliknya yang sudah terasa sesak di dalam sana.
Mulut Calista terbuka. Kedua matanya membulat sempurna menatap wajah tampan suaminya.
"Aku ingin merasakan kau menyentuh milik ku dengan mulut mu", bisik Samuel dengan suara serak sambil membuka pengait bra istrinya.
Tubuh seksi Calista terpampang jelas di depannya. Samuel begitu mengagumi keindahan milik Calista, begitu sempurna. Putih mulus. Kulit nya begitu lembut dan halus. Hanya ada satu bekas sayatan itu saja di dada atasnya.
Jemari Samuel mengusap bekas operasi itu. Ia menundukkan kepalanya dan mengecup lembut sayatan itu. "Apa rasanya sangat sakit saat kau mendapatkan ini?", tanya Samuel yang membenamkan wajahnya diantara gunung kembar Calista.
Calista terdiam. "Aku tidak sadar saat berlangsungnya operasi. Sedari kecil aku memiliki kelainan jantung. Aku sangat beruntung bisa hidup lebih lama berkat donor jantung yang aku terima", jawab Calista sambil menahan hasrat di hatinya karena buaian Samuel di dadanya. "Akh–". Calista mengigit bibirnya sambil meremas rambut Samuel.
"Artinya aku harus berterima kasih pada pendonor jantung mu. Berkat dirinya aku bisa bertemu dengan mu..."
...***...
To be continue
__ADS_1