
Tiga hari kemudian..
"Calista, siang nanti papa dan Bianca juga adik-adik mu akan pergi ke ladang lavender. Tapi kamu tidak bisa ikut nak, kau sedang hamil. Jalanan menuju ke sana tidak baik untuk wanita hamil", ucap Justin menatap Calista yang terlihat tidak bersemangat untuk menyuapkan makanan kemulutnya.
Calista terlihat melamun, menatap makanan di piring nya tanpa berniat menyentuh nya sama sekali.
Bianca dan Justin saling bertatapan.
Huhh.
Justin menghembuskan nafasnya. Ia sedih melihat Calista seperti itu. "Cali.."
Justin memanggil putrinya dengan lembut, namun Calista tetap tak menyahut panggilan ayahnya.Hingga Andrew mendekati Calista. Anak berusia empat tahun itu tingkah nya sungguh menggemaskan. Ia menyuapkan makanan ke mulut Calista. "Kakak harus makan biar sehat seperti Andrew".
Calista kaget. Seketika ia tersadar dan tersenyum. "Sayang...kakak bisa makan sendiri".
Bianca dan Justin tersenyum melihat keduanya. "Cali, kau melamun dari tadi. Lihat lah adik mu saja tahu kau harus makan agar sehat. Kau tidak mendengar perkataan papa juga kan karena melamun", ujar Justin.
"Hah, papa bicara apa?", tanya Calista menatap ayahnya.
"Siang nanti papa, Bianca dan adik-adik mu akan ke ladang lavender karena besok petani akan panen. Tidak apa-apa kan kau sendirian di rumah?"
Calista tersenyum. "Tentu saja pa. Papa dan keluarga tidak perlu mengkuatirkan aku, aku baik-baik kok".
"Cali...kau harus sehat nak. Makan lah yang banyak agar cucu papa sehat terus", ucap Justin sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
__ADS_1
Cali terdiam sejenak. "Iya pah", jawabnya pelan. Calista meminum susu hamil untuknya.
Beberapa saat kemudian terlihat Katty asistennya mendekati mereka dengan wajah murung. "Selamat pagi", sapa Katty dengan hormat pada semua yang ada di meja makan.
"Katty...ayo bergabung makan bersama kami", ujar Bianca memintaku pelayan menyiapkan sarapan untuk Katty.
"Terimakasih nona Bianca. Saya mau meminta izin pada nona Calista, sekarang saya harus mencari penerbangan ke London karena ayah saya sedang dirawat di rumah sakit", ucap Katty dengan wajah sedih.
"Katty...kau menunggu apalagi tentu saja kau boleh pergi. Semoga ayahmu cepat sembuh", jawab Calista tanpa mengulur waktu.
"Tapi bagaimana dengan nona Calista?"
"Kau terlalu kuatir pada ku, Katty. Aku tidak apa-apa. Aku juga di tempat aman sekarang. Pulanglah ke London", jawab Calista.
Katty menganggukkan kepalanya. "Terimakasih nona, secepatnya saya akan kembali ke Swiss setelah melihat kondisi ayah saya, nona", jawab Katty.
Setelah Katty berlalu..
"Sayang, apa kita batalkan saja ke ladang. Kalau Katty pergi, artinya Calista sendirian di rumah. Hanya ada keamanan saja di luar yang berjaga. Weekend begini waktu nya pelayan libur kan", ujar Bianca menatap suaminya yang masih terlihat tampan dan gagah di usia sudah menyentuh 58 tahun.
"Iya, kita tunda saja.."
"Tidak perlu. Kalian pergi saja. Aku tidak apa-apa. Huhh...kalau kalian sangat mengkuatirkan aku berlebihan, aku merasa seperti orang sakit parah saja. Aku dan anak ku akan baik-baik", ujar Calista memastikan. Ia menyuapkan makanan kemulutnya dan makan dengan lahap. Calista ingin membuktikan bahwa dirinya baik dan ayahnya tenang tidak perlu memikirkannya.
"Tapi kau harus janji, makan tepat waktu nak. Papa hanya ingin melihat mu dan calon cucu papa sehat".
__ADS_1
*
Senja telah berganti malam. Udara malam semakin dingin dan terasa sunyi. Di rumah besar itu Calista seorang diri. Rumah Justin letaknya berjauhan dengan rumah lainnya.
Calista membuka pintu balkon dan menatap langit yang begitu kelam, bahkan bintang pun tidak menampakkan dirinya malam ini, karena sekarang hujan rintik-rintik. Calista hanya menggunakan baju tidur tipis dan mengikat rambutnya secara acak.
"Huhh... pantas saja papa memilih tinggal di tempat ini, suasananya begitu damai dan tentram. Udaranya pun belum terpapar polusi. Sepertinya aku betah tinggal di sini".
Calista mengusap lembut perutnya. Sambil tersenyum. "Bagaimana menurutmu, hem. Kau akan selalu bersama mom dan keluarga yang menyayangi mu", ucap Calista berbicara pada anaknya yang masih di dalam perut nya yang terlihat sudah semakin membesar.
Menurut dokter usia kandungan Calista sudah memasuki empat bulan. Saat Calista memeriksakan dirinya setelah ia meninggalkan London usia kandungannya sudah delapan minggu lebih. Calista benar-benar kaget mendengarnya kala itu. Ia sama sekali tidak menyadari ada nyawa yang telah tumbuh bersamanya. Bahkan saat ia berada di Madrid, artinya sudah hamil.
Tiba-tiba semua gelap. Calista membalikkan badannya melihat kamarnya begitu pekat. "Kenapa harus mati lampu sekarang", ucapnya bergidik ketakutan.
Cepat-cepat Calista mengambil handphone miliknya dan menghidupkan senter, ternyata baterai handphone miliknya lowbat. "Shitt...aku benar-benar ceroboh seperti biasanya", gumam Calista begitu menyadari baterai handphone nya sudah sekarat.
Ia keluar kamar dan hendak turun ke bawah, ketika mendengar langkah kaki masuk ke dalam rumah. Dari suaranya Calista tahu itu sepatu laki-laki.
Tubuh Calista semakin gemetaran. Dengan pelan-pelan ia melangkahkan kakinya hendak ke pantry. Baru kali ini lampu padam selama ia di rumah ayahnya.
"Oh Tuhan, aku sangat takut gelap. Kenapa harus sekarang lampu nya padam di saat aku sendirian di rumah ini".
Jemari tangan Calista meraba-raba. Tujuannya tentu saja pantry. Namun... tubuh itu terdiam saat jemari tangannya meraba sesuatu tepat didepannya Seperti pohon yang menjulang.
Tubuh Calista bergidik ketakutan. Kedua matanya melotot. Ia tidak bisa melihat apapun dalam gelap.
__ADS_1
Tapi...
...***...