PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
BERITA DARI GEMA


__ADS_3

Senja telah berganti malam. Seakan merasakan juga kesedihan perasaan Calista yang tak henti menangisi diri di kamarnya, di luar pun turun hujan yang membasahi kota London.


Tok


Tok


Calista yang merebahkan tubuhnya dengan kondisi miring tak memberikan sahutan apapun. Ia pun tidak memperhatikan kondisi tubuhnya yang kurang fit hari ini.


"Nona Calista, saya membawakan makan malam nona. Sebaiknya nona makan dulu supaya tubuh nona segar kembali", ucap Katty. Meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas.


"Nona...apa sebaiknya saya panggil kan dokter saja untuk memeriksa keadaan nona?", tanya Katty. Ia sangat kuatir dengan kondisi Calista yang sangat syok setelah kedatangan suaminya tadi.


Setelah Samuel pergi, Calista hanya menangis dalam diam. Tidak terdengar sendu sedan. Namun air matanya berlinang membasahi wajahnya yang nampak pucat.


"Kau pulang lah Katty, sekarang sudah malam. Aku tidak apa-apa. Aku tidak butuh belas kasihan", ucap Calista.


"T-api nona?"


"Ini perintah! Pulang lah. Aku ingin sendirian sekarang", balas Calista tanpa merubah posisi tubuhnya yang menyamping sambil memeluk bantal.


"Maaf nona Calista untuk kali ini saya menolak perintah anda. Saya tidak akan pulang, jika keadaan nona tidak baik-baik saja seperti ini", jawab Katty dengan tegas.


"Aku tidak apa-apa, aku akan makan. Aku baik-baik saja", ujar Calista bangun. Ia langsung mengambil piring dan memakan makanan yang sudah dibawakan Katty untuknya. "Kau pulanglah sekarang, setelah ini aku ingin tidur", ucap Calista berusaha agar suaranya terdengar setegar mungkin.


Katty tersenyum melihat atasannya sekarang terlihat lebih baik. "Saya akan pulang setelah nona selesai makan. Besok pagi-pagi sekali saya akan datang lagi kemari".


"Iya", jawab Calista singkat sembari melanjutkan makannya.


Satu jam kemudian Katty pulang, setelah memastikan Calista sudah beristirahat di kamarnya. Katty menitipkan wanita yang sangat dikaguminya itu pada pelayan.


*

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada mu, Samuel. Kau sudah menikah dan bahagia, kenapa masih ketempat ku?". Seorang laki-laki tampan duduk di hadapan Samuel.


Sedari tadi ia memperhatikan temannya itu duduk seorang diri di sudut ruangan club malam miliknya. Bahkan Samuel sudah banyak meneguk banyak minuman.


Samuel kembali menuang wine ke gelasnya. Namun kali ini tangannya tertahan. "Cukup Sam. Kau sudah terlalu banyak minum. Kau mabuk. Lebih baik kau pulang, istri mu pasti sangat kuatir pada mu malam begini kau belum pulang".


"Istri. Heh...Istri munafik dan pembohong maksud mu? Wanita murahan itu, membohongi ku, Flamini. Ia menyebabkan Amber meninggal. Ia lah yang menyebabkan kecelakaan beruntun yang menimpa Amber. Dan wanita itu juga yang menerima jantung Amber tunangan ku. Aku sangat membenci wanita itu. Sangat membencinya!"


"Aku mengutuk pertemuan kami di tempat ini, kenapa aku bisa terjebak dalam pernikahan dengan wanita pembunuh Amber. Bahkan ia hidup dengan jantung tunangan ku. Semua milik Amber di ambil wanita itu. Aku sangat membenci Calista Naomi Justin. Sangat membencinya!"


Samuel membawa kepalanya ke meja atas. Flamini tahu temannya itu benar-benar frustasi saat ini.


"Sam bagaimana bisa kau mengatakan istri mu murahan, jika kau yang pertama untuk nya. Kita ini sudah dewasa, tentu saja kau tahu mana wanita baik-baik dan wanita murahan seperti katamu itu. Jika kau benar-benar mencintai istri mu tentunya kau bisa memaafkannya kesalahannya. Apa kau sudah mendengarkan alasannya kenapa sampai terjadi kecelakaan itu? yang menyebabkan Amber meninggal?"


Samuel kembali mengangkat wajahnya. Ia mengusap wajah dengan kasar. Samuel berusaha mengingat-ingat semua cerita yang sudah di dengarnya dari Calista selama bersamanya. Samuel mencocokkan potongan-potongan puzzle di memori yang terekam oleh nya.


"Berawal dari Nathan yang berkhianat, kemudian melihat ayahnya dan teman baiknya..."


Samuel kembali mengusap kasar wajahnya. "Aku pulang sekarang". Samuel berdiri sedikit sempoyongan.


*


Pagi telah menyingsing, sinar sunrise sudah muncul di langit yang luas, menampakkan keindahan nya.


Kelopak mata Samuel mengerjap. Jemari tangan laki-laki itu meraba tempat di sampingnya. Kosong. Tidak ada siapapun.


Samuel menolehkan wajahnya menatap kesebelahnya, ia tidak menemukan yang di carinya. Perasaannya seketika hampa. Sepi.


Samuel mengambil bantal yang biasanya dipakai istrinya. Harum tubuh istrinya memenuhi indera penciumannya. Harum lembut yang sangat di sukai nya beberapa bulan belakangan ini.


Drt

__ADS_1


Drt


Jemari tangan Samuel meraba-raba dibawah bantalnya hingga ke sela-sela tempat tidur, mencari handphone miliknya yang berbunyi. Bukan handphone yang di temukannya tapi lingerie berwarna hitam yang dipakai Calista malam sebelum semuanya terungkap. Lingerie seksi yang membuat Samuel begitu memuja istrinya malam itu.


Samuel memejamkan matanya menciumi lingerie istrinya dengan perasaan merindu. Samuel memijat keningnya. "Kenapa kau membohongi ku, Cali... Kenapa?"


Tok


Tok


"Masuk..!"


Terlihat Gema membawa sarapan untuk Samuel. "Selamat pagi tuan, saya membawakan makan pagi dan obat yang diberikan tuan Flamini sahabat tuan semalam", ucap Gema meletakkan sarapan Samuel di atas meja sofa.


"Terimakasih, bibi Gema".


Gema menatap tuannya itu. Samuel terlihat masih memegang lingerie Calista, laki-laki itu duduk sambil bersandar di punggung tempat tidur. Terlihat murung dan lebih banyak melamun. Gema ingat betul keadaan seperti ini sama persis ketika Samuel kehilangan tunangannya.


"Tuan...maaf jika bibi lancang. Tapi bibi merasa bersalah jika tidak menyampaikan ini pada tuan muda".


Samuel mengusap lingerie Calista yang ada di atas pahanya. "Katakan ada apa Gema?"


"Kemarin pagi sebenarnya nona Calista sakit. Setelah tuan Samuel pergi bekerja nona bangun dan kepalanya pusing dengan tubuh demam".


Samuel masih mengusap lembut lingerie Calista tanpa mengalihkan perhatiannya pada Gema.


"Bibi kuatir nona Calista sedang hamil, tuan. Ciri-ciri yang dirasakan nona Calista seperti orang hamil. Saat bibi meminta untuk mengabari kondisinya pada tuan, nona melarang. Katanya ia akan memeriksa keadaan dengan testpack untuk mengetahui ia positif hamil atau tidak".


Sontak saja perkataan Gema membuat Samuel menatap pelayan yang sudah lama bersama dengan nya itu terkejut. "Maksudmu Calista hamil?"


"Iya tuan. Sepertinya nona Calista sedang hamil. Tapi baru dugaan bibi saja", jawab Gema.

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2