PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
MENUNGGU ANA


__ADS_3

Flamini masih berada di private room miliknya dilantai lima puluh lima. Semalam ia memutuskan untuk bermalam di sana sembari berpikir. Sebenarnya mata Flamini tak dapat terpejam sedikit pun, ia hanya memikirkan Anabelle. Air mata yang meneteskan di wajah gadis itu membayang jelas di kepala Flamini. Wajah polos dengan tatapan sendu Anabelle sangat membekas dalam ingatan laki-laki itu.


Flamini menghembuskan nafasnya. Terdengar kasar. Tubuh atletis nya masih dibalut bathrobe berwarna navy, rambut nya pun masih nampak basah. Pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah membersihkan tubuhnya. Ia sudah tidak sabar menemui Ana pagi ini.


"Tuan...saya membawakan sarapan dan pakaian kerja", ujar Sean masuk kedalam kamar. Tentu saja sebelumnya Sean mengetuk pintu terlebih dahulu. Kalau tidak, pasti bos-nya akan marah karena ia tidak mau privasinya terganggu tanpa seizinnya.


"Hem.."


Flamini duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dengan tangan mengusap-usap dagunya. "Jam berapa Ana biasanya datang?"


"Jam sembilan tuan. Tapi tim nona Ana, jam delapan sudah datang", jawab Sean.


"Kosongkan jadwalku pagi ini sampai jam makan siang, Sean. Aku ingin berbicara dengan Ana. Jangan ada yang menggangu ku", perintah Flamini.


Sean terdiam mendengar perkataan atasannya itu. Ia bertanya-tanya dalam hatinya apa yang akan dibicarakan Flamini dengan Ana. Mengingat semua urusan pekerjaan dengan Ana, Sean lah yang selalu berkomunikasi dengan gadis itu. Namun semua yang hendak dilakukan bos-nya tentu saja bukan urusan nya.


"Baik tuan".


Sesaat tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Hanya terdengar gelas yang beradu dengan tatakan. Flamini hanya memakan sepotong sandwich dan segelas capuccino kesukaannya. Flamini yang berasal dari Italia memang sangat menyukai minuman beraroma kopi termasuk kopi hitam yang pahit.


Beberapa saat kemudian laki-laki itu mengelap ujung bibirnya dengan kain putih bersih yang ada di atas meja.


"Sean, pagi ini aku tetap berada di sini. Aku menunggu Anabelle. Kau lanjutkan saja pekerjaan mu", ucap Flamini sambil melihat jam di dinding yang sudah menyentuh angka delapan.

__ADS_1


"Baik tuan. Sepertinya orang-orang interior sudah datang. Hari ini mereka menyelesaikan pekerjaan di pantry dan sebagian furniture yang di pesan hari ini akan datang", jawab Sean sambil memberikan penjelasan.


"Hem.


"Kalau begitu saya akan melihat mereka bekerja tuan. Sebentar lagi nona Ana datang saya akan membawa kemari menemui tuan".


"Iya. Lakukanlah. Aku akan berganti pakaian", jawab Flamini beranjak dari tempat duduknya.


Sean menutup rapat pintu kamar itu, sementara Flamini berganti pakaian kerja.


*


Flamini masih berada di dalam kamar, laki-laki itu terlihat gusar. Sekarang sudah pukul setengah sepuluh tapi Sean belum juga membawa Ana kehadapan nya seperti perintah nya pagi tadi.


Sorot netra abu-abu itu menatap tajam pintu kamarnya kalau-kalau Sean datang. Namun yang di tunggu tak kunjung nampak batang hidungnya.


"Sean brengsek! Awas saja kau!"


Flamini bangkit dari tempat duduknya dan keluar kamar melihat apa yang di kerjakan Ana, Sean dan orang-orang di pantry yang berada di ruangan paling belakang lantai tersebut.


Terlihat para pekerja dari Luxury interior sedang sibuk bekerja. Flamini mengedarkan pandangannya ke semua ruangan itu tak terlihat Ana. Yang ada malah Sean sedang berbicara serius di balkon dengan Verline.


"Mereka ini membuatku kesal saja!". Flamini menggerutu dan mengumpat.

__ADS_1


Sean yang melihat kehadiran bos-nya itu langsung mengajak Verline menghampiri Flamini.


"Dimana Ana, aku ingin bicara padanya!", ucap Flamini bernada ketus. Kenapa kau datang Verline, bukankan aku meminta Ana yang mengerjakan pekerjaan interior ruangan ini?"


Sean dan Verline bertukar pandang.


Terlihat Verline menarik nafasnya dalam-dalam. "Sebelumnya aku minta maaf Flami. Ana mengajukan resign tadi malam. Aku baru membaca surat nya pagi ini. Makanya aku langsung kemari, melihat seberapa jauh pekerjaan Anabelle dan tim", ujar Verline.


"Maksud mu Anabelle mengundurkan diri dari pekerjaan nya?"


"Iya. Kau bisa membaca surat nya", jawab Verline memberikan secarik kertas pada Flamini.


"Padahal aku sangat menyukai Ana, ia memang masih baru tapi dia pintar dan cekatan. Sebenarnya gadis itu karyawan magang di perusahaan ku, ia harus mengikuti program magang karena bukunya yang hilang. Terakhir ia bilang buku sketsa milik nya sudah di temukan".


Flamini mengetatkan rahangnya hingga mengeras. Wajahnya terlihat dingin dan tak bersahabat. Sesaat laki-laki itu memijat pelipisnya, kemudian berkacak pinggang.


"Sean dimana alamat gadis itu?", tanya Flamini menatap tajam asisten nya.


"Shitt.."


"Sean kau ikut dengan ku sekarang!", ketus Flamini tanpa menunggu jawaban Sean laki-laki itu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju lift khusus.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2