PEMUAS RANJANG NONA MUDA

PEMUAS RANJANG NONA MUDA
SADAR


__ADS_3

Senja berganti malam. Langit berwarna oranye berangsur berganti kelam.


Samuel masuk ke ruangan Calista. Sam duduk di samping tempat tidur istrinya yang tergolek lemah tak berdaya di atas tempat tidur pasien.


"Selamat malam sayang, bagaimana keadaan mu malam ini hem? Aku selalu berada di dekat mu dan Gilbert sayang. Tak sekalipun aku meninggalkan kalian", ucap Samuel sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya dan mengecupnya berulang kali.


"Kau tidak perlu memikirkan kondisi anak kita, Gilbert sekarang dalam keadaan baik-baik saja. Berat badannya sudah bertambah lagi hari ini".


Samuel merapikan rambut Istrinya kesamping pundaknya. Sesekali ia mengecup lembut kening Calista. Sambil terus membisikan kata-kata cinta di telinga Calista.


"Hari ini kau tampak cantik sekali, sayang", bisik Samuel ditelinga istrinya itu. "Aku sangat merindukan mu, Cali. Aku merindukan suara mu, manja mu sayang. Apa kau ingat setiap kita sehabis bercinta kau ingin berlama-lama dalam dekapan ku sambil mengusap peluh di tubuh ku. Kau bilang sangat menyukai tubuh ku", ucap Samuel tersenyum sambil mengusap lembut wajah istrinya yang tak merespon sedikit pun namun Samuel tetap mengajak Calista berbicara. Walaupun sebenarnya hati Samuel menangisi kondisi istri nya itu, tapi ia memaksakan diri nya untuk tersenyum.


Karena menurut dokter berbincang dengan orang yang di cintai salah satu cara terbaik untuk membantu pasien koma mendapatkan kesadarannya kembali.


Samuel senang melihat Calista tidak menggunakan ventilator yang menutupi sebagian wajahnya lagi. Saat ini Calista hanya menggunakan alat bantu pernafasan di hidung saja dan infus di tangan sebelah kiri nya.


*


Malam semakin larut...


Calista mengerjapkan kelopak matanya, Lambat laun mata itu terbuka perlahan.


Tiba-tiba ke-dua iris nya terbelalak seakan terkejut.


Monitor yang memantau kondisi Calista berbunyi nyaring, mengejutkan Samuel yang pada saat itu tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam jemari Calista.


Monitor yang menampilkan grafis tentang kinerja organ tubuh, detak jantung, kadar oksigen di dalam darah, atau tekanan darah. Saat ini grafik di monitor menunjuk kan garis gelombang yang naik turun dengan cepat.


Samuel kaget, dan spontan memeluk tubuh istrinya.


"Sayang...Ada apa dengan mu?!"

__ADS_1


Dokter jaga segera memeriksa keadaan Calista yang tampak seperti kejang. Dengan kedua mata terbuka dan tubuhnya berkeringat.


Perlahan bunyi mesin monitor dan garis gelombang yang ada di monitor tampak normal kembali.


Sementara nafas Calista masih terdengar menderu cepat. Kedua bola matanya terbuka menatap ke langit-langit kamar. Sementara keningnya dipenuhi butiran keringat sebesar biji jagung.


Samuel tidak bisa menahan rasa haru melihat kedua mata istrinya terbuka walaupun masih seperti tidak menyadari hal sekitarnya. Ia mengusap kening Calista yang berkeringat.


"Sayang, aku ada di sini. Kau akan segera pulih sayang", bisik Samuel sambil mengecup kening istrinya.


Calista tak sedikit pun mengedipkan matanya.


"Tuan, istri anda sudah sepenuhnya sadar dari koma. Tapi saat ini tetap harus kita lakukan observasi kepada pasien untuk mengetahui kemampuan organ vital tubuh dalam kondisi baik atau masih ada gangguan lainnya", ucap dokter jaga yang di dampingi perawat sehabis memeriksa Calista dengan intensive.


"Tapi kenapa istriku belum memberikan respon apapun", tanya Samuel tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari istrinya.


"Hal ini biasa, mengingat pasien baru saja bangun dari koma nya. Otaknya perlu beradaptasi karena tidak sadarkan diri nya sudah seminggu".


Samuel mengangguk kan kepalanya.


Bahkan kedua mata Calista terbuka dan terus menatap ke langit-langit kamar tanpa berkedip meskipun samuel memanggil nya.


*


Keesokan harinya..


Samuel masih tertidur posisi duduk di samping Calista dengan kepala di atas tempat tidur.


"S-ayang". suara lirih memanggil Samuel. Calista mengusap lembut rambut tebal Samuel.


Samuel yang tertidur merasakan ada yang mengusap lembut rambutnya. Sentuhan itu membuat ia membuka ke-dua matanya yang sedang terpejam dengan wajah di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Samuel...."


Seperti bermimpi Samuel mendengar suara lembut istrinya memanggil namanya.


Spontan Samuel mengangkat kepala nya menatap lekat wajah Calista yang berkeringat.


"S-ayang...kau sudah sadar sepenuhnya sekarang? sayang, kau memanggilku?"


Samuel memeluk erat tubuh Calista. Samuel sampai menitihkan air matanya melihat Calista sudah sadar dan mengenali diri nya.


"Ahh sayang, akhirnya kau sadar dari tidur mu", bisik Samuel sambil mencium wajah istrinya.


"Sam...aku haus", ucap Calista dengan pelan.


Samuel segera memberikan minuman untuk istrinya, yang saat ini di dudukkan ditempat tidur.


"Ahh Calista...tidak ada hal lain yang membuat ku sebahagia ini sayang, disaat aku melihat mu kembali sehat seperti sekarang ", ucap Samuel sambil mengusap lembut wajah istrinya.


Samuel tak henti memeluk tubuh Calista dan menciumi dengan lembut wajahnya.


"Jangan pernah lagi membuatku kuatir seperti ini sayang, aku tidak kuat menghadapi nya. Tiba-tiba mendapatkan kabar kau terjatuh dari tangga, benar-benar membuatku hampir gila", ucap Samuel sambil menatap kedua iris Calista.


Seakan baru tersadar, Calista melihat ke perutnya dan mengusap perut yang ia ingat masih membuncit.


"Sam...bagaimana keadaan anak kita?", tanya Calista cepat dan tiba-tiba panik.


"Tenanglah. Gilbert baik-baik. Ia masih membutuhkan perawatan intensif. Namun saat ini keadaan nya sudah semakin membaik".


"Gilbert?"


"Iya Gilbert nama anak kita. Berjenis kelamin laki-laki", jawab Samuel dengan wajah bahagia.

__ADS_1


Samuel duduk di tepi tempat tidur dan Calista menyandarkan wajahnya pada dada bidang Samuel. "Maafkan aku sayang sudah membuat mu kuatir. Aku janji akan merawat anak kita dengan baik. Aku menyayangimu dan Gilbert sepenuh hatiku.."


...***...


__ADS_2