
"Akh Steve.."
Steven mengangkat wajahnya menatap lembut wajah Katty yang menjadi merah merona seperti buah tomat. "Aku benar-benar menyukai mu Katty. Maukah kau menjadi kekasih ku sambil kita saling menjajaki perasaan kita. Aku ingin lebih mengenal mu dan kau bisa lebih tahu tentang aku. Bukankah saat ini kau tidak menjalin hubungan spesial dengan laki-laki manapun, hem?"
Katty mengusap lembut dada bidang Steven yang ada di atas tubuhnya. "Kau salah, aku sekarang justru sedang menjalin hubungan seperti yang kau maksud", jawabnya dengan suara pelan.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menjadi merebut mu dari orang itu. Maukah kau selingkuh dengan ku?", ucap Steven menggoda Katty yang tertawa mendengar ucapan Steven.
"Hm.. ternyata kau laki-laki bajingan yang suka mempermainkan hati wanita ya dokter Steven?", cicit Katty menyipitkan matanya.
"Aku menunggu jawaban mu, Kat". Jemari tangan Steven membelai wajah Katty yang merona.
"Akan aku pikirkan. Setelah aku selesai mandi kau akan mendapatkan jawaban ku", jawab Katty melepaskan diri dari kungkungan tubuh atletis Steven. Otomatis membuat tubuh Steven terlentang.
Ketika Katty hendak bangkit, tangan Steven menarik pinggang Katty hingga tubuh gadis itu menindih nya.
Katty melebarkan kedua matanya. "Steven...apa yang kau lakukan? Aku mau membersihkan tubuh ku yang terasa lengket semua. Bahkan baju ku ini, baju yang aku pakai meeting kemarin sore", protes Katty sambil memukul pelan dada laki-laki itu.
"Bagai mana kalau kita mandi bersama, hem?", goda Steven.
Kedua netra Katty semakin membulat sempurna. "Yang benar saja Steve, kau mau apa?"
__ADS_1
"Aku mau kau memberi jawaban sekarang, kalau tidak aku tidak akan melepaskan mu. Terserah walaupun kau belum mandi seharian aku tidak perduli", jawab Steven.
"Kau ini pemaksa sekali. Aku tidak bisa bernafas Steve lepaskan aku!", ketus Katty sambil memberontak menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Steven.
Bukannya melepaskan, namun gerakan tubuh Katty justru berakibat fatal, membuat pusat tubuh Steven menegang. "Kali ini kau harus bertanggungjawab, Katty! Kau sudah dua kali membuatnya menegang seperti ini"
Steven menarik tangan Katty dan membawanya pada miliknya. Katty melototkan bola matanya dengan mulut terbuka.
"Steve..."
"Kau harus bertanggungjawab Katty! Kau membuat milik ku bangun dari tidur lamanya".
Jemari Steven menarik tengkuk Katty dan me*umat bibir ranum itu. Menjelajahi rongga mulut hingga menyapu langit-langit mulut Katty dengan lidahnya yang menari-nari didalam sana.
Tubuh Katty gemetaran. "A-ku tidak sengaja Steve. A-ku tidak tahu caranya", jawab Katty gelagapan.
"Kau tidak tahu caranya?". Steven mengulangi ucapan Katty. "Apa kau belum pernah bercinta dengan laki-laki manapun, Katty?", tanya Steven memastikan.
Dengan wajah terlihat menyesal Katty menganggukkan kepalanya. "Iya Steve, aku masih virgin", balas Katty menatap netra hazel Steven.
Sementara Steven menatap lekat wajah cantik Katty, seakan menyelami pikiran gadis itu.
__ADS_1
"Ah Steve...pasti kau menganggap ku gadis bodoh kan. Di usiaku yang sudah dua puluh tujuh tahun aku tidak mengerti tentang bercinta. Kau pasti menganggap ku wanita kuno", ucap Katty menatap Steven yang juga menatapnya tanpa berucap sepatah katapun.
"Ah sudahlah sebaiknya aku mandi saja sekarang".
"Hei, kau ini sensitif sekali. Sejak kapan wanita yang bisa menjaga keperawanan nya dikatakan bodoh, hem. Yang ada laki-laki akan sangat beruntung memiliki wanita seperti itu. Semua pria pasti menginginkan wanita yang masih virgin, Katty. Di zaman sekarang sangat sulit menemukan wanita seperti mu. Ayo kita menikah sekarang. Aku single kau pun begitu tidak ada lagi yang menghalangi kita kan. Aku juga belum memiliki anak", tukas Steven dengan spontan.
Mendengar perkataan Steven, Katty semakin melototkan kedua matanya. Ia terdiam. Hanya iris biru bak safir tersebut tak berkedip menatap Steven.
"Yang benar saja, kau ini nekad sekali. Menikah itu bukan hanya menyatukan kita Steve tapi juga menyatukan dua keluarga. Bagaimana kalau orang tua mu tidak menyetujui aku?", ujar Katty sangsi.
"Sebenarnya aku juga ingin lebih mengenal mu, Steve. Tapi untuk menikah rasanya terlalu cepat. Aku takut gagal".
Steven memeluk tubuh Katty, menyandarkan wajah cantik itu pada dadanya dan mengecup lembut pucuk kepala Katty.
"Bagaimana bisa kau takut akan kegagalan jika tidak mencobanya, hem. Setidaknya kita sama-sama bisa saling berbagi dalam hal apapun. Kita tidak sendirian lagi jika memiliki pasangan hidup".
"Aku memang ingin menikah, tapi sekarang aku harus membiayai keluarga ku. Setidaknya tunggu lah setelah adik ku tamat kuliah satu tahun lagi. Apa kau bersedia menunggu?".
"Tidak. Aku tidak bisa menunggu selama itu, Katty!"
...***...
__ADS_1
To be continue