Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 101


__ADS_3

[Chapter 101.]


[Identitas Rina.]


[Silahkan Dibaca.]


Pegunungan Avrest Utara, Kohta menatap ke arah 4 perempuan dengan tatapan terkejut. Namun, dia kembali normal lagi dan mengabaikan hal tersebut. Dia melihat ke-4 perempuan sudah berpisah dua perempuan menuju ke Gua Pusaran dan dua perempuan lainnya menuju ke Gua Es.


Kohta kemudian mulai duduk lotus di jalan tersebut. Salju di sekitarnya menghilang dan membentuk sebuah lingkaran tanpa salju. Pemuda itu mencoba untuk menyempurnakan kekuatan miliknya dan mencoba untuk menerobos ke tingkat selanjutnya.


***


Rina dan Eika masuk ke dalam gua es. Mereka berdua berjalan dengan penuh waspada dan berhati-hati. Kedua perempuan itu melihat bahwa gua es terdapat banyak kristal es dan itu semakin ke dalam semakin besar, membuat keduanya sedikit tidak tertahan.


Namun, keduanya dengan cepat menenangkan diri mereka. “Tenangkan diri dulu Mama, aku takut ini akan menjadi jebakan bagi kita.” Eika berkata dengan penuh waspada. Rina mengangguk, keduanya berjalan masuk lebih jauh kembali.


Kristal es semakin besar, bahkan keduanya terlihat lebih kecil dari Kristal Es tersebut. Mereka melewati kristal es tersebut dan melihat sosok besar yang berada di balik kristal es tersebut. Keduanya dengan cepat melompat mundur dan menatap ke arah sosok tersebut.


“Eika, berlindung di belakang Mama.” Rina berdiri di depan Eika dengan tatapan tajam ke depan. Eika sendiri menurut dan berlindung di belakang Rina. Sosok di depannya seketika membuka matanya yang besar.


Rina dan Eika menjadi waspada ketika melihat iris mata berwarna biru laut tersebut. Kemudian terdengar suara gerakan dari sosok itu. Kedua perempuan itu mundur beberapa langkah dan melihat sosok besar sedang berdiri menatap ke arah kedua perempuan itu.


“Akhirnya aku bertemu dengan Anda, Ratu dan Tuan Putri.” Rina dan Eika terkejut ketika dengan ucapan dari sosok besar tersebut. Perlahan-lahan sosok itu terlihat, membuat kedua perempuan sedikit terkejut dan berfikir, ‘Naga.’


Terlihat sosok Naga dengan kulit yang terlapisi oleh sisik berwarna biru laut. Sisik tersebut bercahaya dengan indah membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona. Rina dan Eika menatap ke arah naga itu dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


[Dragon Ice Arkan.]


[Tingkat : ????.]


“Maksud darimu apa, Ratu dan Tuan Putri?” Rina lebih penasaran akan panggilan yang dikeluarkan oleh Naga Es tersebut. Eika juga penasaran dengan Naga Es, dia mencoba untuk mendekat namun Rina menahannya.


“Sepertinya Anda belum menyadari siapa Anda sebenarnya.” Naga Es berkata dengan nada ringan, dia terlihat tidak masalah ketika ditatap penuh waspada seperti itu. Kemudian, Naga Es bergerak ke kiri, membuat Rina dan Eika sedikit mundur untuk waspada.


“Tenangkan diri Anda, Ratu. Saya bergeser agar Anda melihat tugu di belakang Saya.” Naga Es berkata dengan penuh kegelisahan. Rina dan Eika melihat hal itu, dia mengurungkan sebentar rasa waspadanya. Keduanya kemudian mengalihkan pandangan dari Naga ke arah sebuah tugu.


Terlihat sebuah tugu dengan bentuk kubus, lalu sebuah bahasa yang sangat asing, di atas tulisan terdapat sebuah lambang es segi 8. Rina menatap lambang itu, entah kenapa di dalam fikirannya terdapat sesuatu hal yang membuatnya merasa pernah melihat lambang tersebut.


Degggg.


Rina sendiri melihat sebuah medan perang di wilayah salju dan seberangnya adalah wilayah lahar. Mereka terpisah oleh pertemuan pertengahan antara es dan lahar. Rina melihat dirinya memimpin berjuta-juta monster es.


Seluruh monster meraung menuju ke arah wilayah musuh. Rina menatap ke arah para monsternya mati dan berkata pelan sampai akhirnya berteriak, “tidak..Tidak....Tidakkkk.” Dia menangis melihat hal itu, para monster miliknya sebagian terluka bahkan partnernya yaitu Naga Es juga terluka.


‘Kalian semua, aku akan memindahkan kalian ke tempat yang jauh. Tunggu aku, untuk membalaskan dendam kita. Namun, semisal aku tidak datang, temukan Putra Mahkota Kerajaan...’ Rina tidak bisa mendengar dengan jelas hal itu karena terpaan salju yang begitu deras.


Rina kemudian mencoba mendekat dan akhirnya mendengar suara itu lagi. ‘Ingat Api dan Es tidak akan bisa saling menyatu kecuali Putra Mahkota itu menyatukan. Jadi dia adalah harapan untuk kita bisa melawan musuh sesungguhnya.’ Rina mendengar hal itu terkejut.


Rina berfikir bahwa konflik yang dia hadapi di masa lalu tidak mudah. Lingkaran sihir muncul di bawah seluruh wilayah es, dengan es terkuat merobek dimensi ruang dibawahnya membuat seluruh monsternya tertelan dan jatuh ke wilayah yang berbeda-beda.


Rina menyaksikan hal itu, kemudian dia tersadar dan kembali ke gua yang sebelumnya dia berada. Rina menatap ke arah tugu itu dan melihat tulisan di bawah lambang tersebut. Tulisan itu benar-benar dapat dia baca.

__ADS_1


Rina melihat bahwa tulisan itu menceritakan kekalahan dirinya dalam pertempuran melawan Monster api yang dikendalikan oleh sosok musuh sebenarnya. Harapannya adalah menemukan putra mahkota kerajaan yang tidak diketahui.


Rina tidak mengetahui nama kerajaan putra mahkota tersebut, karena tulisan tentang kerajaan putra mahkota menghilang dari tugu artinya batu yang mencorakkan tulisan kerajaan menghilang dan tidak ada disana.


“Naga Es, apakah kau tahu kerajaan Putra Mahkota ini?” Rina menatap Naga Es dan bertanya dengan nada penasaran. Naga Es yang diberi pertanyaan menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, lalu berkata, “Saya tidak tahu Ratu. Ingatan tentang itu benar-benar menghilang. Saya hanya mengingat kejadian perang Kita saja.”


Rina menghela nafasnya, ketika mendengar jawaban dari Naga Es miliknya. Lalu, dia menatap ke arah tugu dan berjanji akan menemukan putra mahkota kerajaan tersebut. Naga Es kemudian mendekat ke arah Rina dan berkata, “Ratu, jadikan Saya roh Anda.”


Rina sedikit terkejut, kemudian menatap ke arah mata Naga Es. Sebuah mata penuh harapan dan keinginan. Sebelum Rina menjawab, sosok burung Phoenix Es muncul dari dalam tubuh Rina. Hal itu membuat Rina terkejut.


“Sigma, kenapa kau keluar?” Rina bertanya dengan penuh rasa penasaran. Sigmarus mengabaikan sebentar dan menatap ke arah Naga Es, begitu juga Naga Es menatap ke arah Sigmarus. Keduanya saling menatap dengan tenang dan serius.


“Rina, terima Dia dan gabungkan dirinya denganku.” Sigmarus berkata dengan serius. Naga Es menatap Sigmarus dengan serius dan berkata, “Itu benar, Ratu. Gabungkan kami berdua.” Naga Es juga menginginkan hal tersebut.


Rina sedikit terkejut, dia tidak bisa tidak menghela nafas panjang ketika melihat keduanya. “Tuntun aku untuk menggabungkan kalian.” Sigmarus dan Naga Es mengangguk, kemudian keduanya mulai duduk berseberangan, di tengah mereka adalah Rina.


“Baiklah, ayo mulai.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2