Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 91


__ADS_3

[Chapter 91.]


[Berperang dengan Yeti.]


[Silahkan Dibaca.]


Timur Pegunungan Avrest, terlihat 40 Yeti melesat dengan cepat ke arah seorang pemuda yang juga melesat ke arah mereka. Keduanya saling melesat dengan cepat, mereka tiba satu sama lain. Yeti1 yang berada tepat di depan pemuda itu melesatkan pukulannya.


Wushhhhhh.


Pemuda itu tersenyum, dia melompat dan mengayunkan kedua pedangnya ke arah kepalan tangan besar di depannya. Pemuda itu tidak mengenal rasa takut, dia benar-benar berani. Kedua serangan saling berbenturan.


Booooommmmm.


Yeti1 terdorong ke belakang, Makhluk yang dijuluki terkuat ketiga di Pegunungan Avrest terdorong mundur oleh pemuda tersebut. Hal itu benar-benar sangat langka, apalagi Yeti dikenal pertahanan yang terkuat ke-2 di Pegunungan Es.


Pemuda yang mendorong Yeti itu ialah, Kohta. Dia benar-benar merasa bersemangat melawan sekelompok Yeti tersebut. Kohta merasakan sebuah bahaya di samping kanan dan kiri dirinya, dengan cepat Kohta mengayunkan dua pedangnya ke kanan dan kiri.


Dinggggggggggg.


Bushhhhhhhhhhhh.


Tabrakan kedua pedang dengan dua pukulan membuat salju menghilang di area mereka. Kohta yang menahan kedua pukulan itu, berputar mengayunkan kedua pedangnya dengan cepat. Proyektil tebasan melingkar terlihat.


Sringgggggg.


Booooommmmmm.


Yeti2 dan Yeti3 terdorong ke belakang. Mereka berdua terdorong oleh Proyektil tebasan tersebut. Kohta yang selesai meluncurkan serangan itu, dia terjun ke bawah. Dia menatap tajam ke arah Yeti4 dan Yeti5 yang melesatkan kedua pukulan miliknya.


Wushhh Wushhh.


Kohta melihat hal itu, dia tidak takut melainkan melompat membiarkan pukulan mengenai tanah. Kohta yang berada di udara memasukkan kembali Kin dan Ken miliknya ke dalam pedang.


Boooommmmm.


Kedua pukulan mengenai tanah, mengakibatkan ledakan besar di tanah. Kohta melihat serangan itu dan mendarat tepat di salah satu tangan Yeti.


Tap wushhhh.


Tiba di tangan Yeti, Kohta dengan cepat melesat ke arah atas. Dia melesat menuju kepala dari Yeti4 itu. Yeti4 menyadari hal itu, dia melayangkan tangan satunya ke arah Kohta. Namun, saat tangan akan mengarah ke Kohta, pandangan Yeti4 berputar.

__ADS_1


Slashhhhhhhhhh.


Kohta menebas tepat leher dari Yeti4, dia menebas dengan sangat rapi dan bersih. Kohta yang masih di udara melihat ke arah Yeti5 yang masih terkejut. Memanfaatkan kelengahan itu, Kohta menebas ke arah kepala Yeti5.


Slashhhhhhhhhh.


Dua kepala Yeti berputar dan perlahan-lahan jatuh ke bawah. Kohta yang masih berada di udara, dia mulai terjun ke bawah. Yeti lainnya menatap hal itu dengan terkejut, mereka baru kali ini ada yang mudah membunuh jenis mereka.


Brukkk Brukkk.


Tappp.


Kedua kepala mendarat ke tanah, diikuti oleh Kohta yang tiba di tanah. Dia memandang ke arah 38 Yeti yang tersisa. Pemuda itu kemudian melesat kembali ke arah kelompok Yeti itu. Para Yeti segera sadar dan menatap ke arah Kohta.


Grooooooooo.


Yeti yang tersisa meraung dengan keras, mereka benar-benar marah terhadap Kohta. Mereka melesat ke arah Kohta dengan cepat. Kohta sendiri mengerutkan keningnya, namun segera diganti dengan seringai.


“Mereka menjadi lebih kuat ketika marah, ini menarik,” ucap Kohta pelan. Kemudian, dia menambah kekuatannya agar berada di atas 38 Yeti tersebut. Pemuda itu, kemudian melesat lebih cepat dari sebelumnya.


Wushhhhh.


Mereka tiba di depan masing-masing. Yeti dengan cepat mengepung Kohta dengan cara mengelilinginya. Kohta sedikit bingung, namun segera terjawab ketika dia merasakan bahaya dari seluruh arah.


“Hideoki art - Flowing Flower.”


Wushhhhhhhhh.


Seketika berbagai bunga berwarna merah muncul di bawah kaki Kohta. Bunga itu terus tumbuh dan bermekar, lalu bunga terbang memutar ke atas membentuk sebuah pusaran. Para Yeti yang mengepung Kohta melesatkan pukulan mereka.


Slash Slash Slash Slash Slash Slash.


Jress Jress Jress Jress Jress Jress.


Seluruh kepalan tangan Yeti tersayat oleh pusaran bunga merah Kohta. Para Yeti terkejut ketika merasakan rasa sakit di kepalan tangan mereka. Namun, sebelum mereka bereaksi, terdengar sebuah suara dari tengah pusaran bunga.


“Hideoki art - Flower dancing.”


Wushhhhhhh.


Seketika pusaran bunga memadat menjadi pedang bunga utuh. Pedang itu kemudian berputar dengan cepat dan menebas seluruh kaki Yeti yang melesatkan pukulannya tadi. Yeti tidak bisa menghindari serangan pedang bunga itu.

__ADS_1


Slashhhhhhhh.


Jressssssssssss.


Para Yeti yang tertebas kakinya, seketika kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke bawah. Kohta sendiri terlihat sedikit kelelahan. Bagaimanapun juga serangan itu membutuhkan Kin dan Ken yang sangat besar.


“Hah...Hah...Hah... Tersisa 4 lagi. Beruntung mereka sedikit jauh dari area tebasan milikku,” ungkap Kohta. Dia menatap ke arah 4 Yeti yang berdiri di luar area serangan miliknya. Sementara para Yeti yang tertebas kakinya meraung kesakitan.


Grooooaaaaaaaaaa.


Kohta menstabilkan nafasnya, dia menatap ke arah 4 Yeti yang terlihat memerah karena marah. Kohta tersenyum dan melesat ke arah 4 Yeti tersebut. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Seluruh Yeti yang kehilangan kakinya melindungi ke-4 Yeti itu.


Groooooooo.


Para Yeti meraung membuat ke-4 Yeti terlihat mengangguk. Kohta melihat hal itu dan mengerutkan keningnya, dia terkejut dengan para Yeti yang menghalanginya. Lebih terkejutnya lagi, ketika melihat ke-4 Yeti yang berlari pergi.


Oda melihat hal itu, menyipitkan matanya. Dia yang sudah berpetualang di berbagai Dunia, tidak asing dengan adegan itu. Pria tua kemudian memberitahu ke Kohta, “Hati-hati, Nak.”


Kohta mengangguk paham apa yang dimaksud Oda, dia menatap ke arah para Yeti. Pemuda itu kemudian berkata, “Aku akan mengurangi rasa sakit kalian.” Kohta berkata dan melesat ke arah mereka.


Slash Slash Slash Slash.


Kohta menebas kepala mereka. Para Yeti tidak masalah akan hal itu, mereka siap untuk ditebas. Bagaimanapun mereka tahu, yang terkuat akan memakan yang lemah. Hukum itu sudah menjadi aturan dari seluruh Makhluk hidup.


(Note : Walaupun Yeti 36 mati. Itu tidak akan membuat mereka punah, karena masih banyak Yeti yang berkeliaran di gunung Avrest.)


Beberapa menit kemudian, Kohta selesai menebas seluruh kepala Yeti itu. Dia tidak hanya menebas saja, untuk menghormati lawannya. Kohta membakar mereka sampai tidak tersisa.


Selepas itu, Kohta memandang ke arah gua yang mereka jaga. Gua yang menyala berwarna merah membangkitkan minat penasaran Kohta. Pemuda itu kemudian berjalan menuju ke arah Gua tersebut.


Oda yang berada di dalam jiwa Kohta tersenyum dan berkata, “Nak, kau benar-benar beruntung menemukan gua ini. Karena gua ini memiliki harta karun yang hanya tumbuh 10.000.000 tahun sekali.”


Kohta terkejut mendengar hal itu, dia benar-benar tidak menyangka akan ada hal tersebut. Dia tersenyum senang dan penuh akan semangat.


“Kalau begitu, tunggu apalagi. Ayo kita masuk ke dalam.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2